Biar Disapu Ombak

Biar Disapu Ombak
Lupakan.. lalu semuanya akan selesai...

Selasa, 11 Maret 2014

Apabila Pungutan tetap Dipungut OJK

Pungutan OJK sudah ditetapkan, media massa sudah menggembar-gemborkan tentang pungutan. Kehadiran OJK yang baru seumur jagung dan berita tentang pungutannya, juga menyebabkan OJK dijegal untuk dibubarkan melalui gugatan dari Lembaga Independen Kedaulatan Ekonomi Bangsa.

Tim Pembela Kedaulatan Ekonomi Bangsa Ahmad Suryono melalui gugatannya kepada Mahkamah Konstitusi (MK) meminta OJK dibubarkan karena landasan hukum berdirinya otoritas tersebut bertentangan dengan Pasal 23D Undang-Undang Dasar (UUD) 1945.

Dalam pasal itu menyebutkan, pengaturan dan pengawasan perbankan dilakukan oleh bank sentral dalam hal ini adalah Bank Indonesia (BI). Sementara OJK saat ini mengawasi industri keuangan seperti perbankan, pasar modal, dan Industri Keuangan Non Bank (IKNB).

Selain itu pungutan OJK dikatakan sebagai membebani dan pungutan preman. Yang mengatur dan mengawasi kok dibayar oleh yang diatur dan diawasi. Memang kadang-kadang rada aneh, tapi ya begitulah adanya.

Berapa sih pungutan yang dipungut dari BPR,  Yuk kita berhitung.. katakanlah ada 1635 BPR dikurangi dengan 301 BPR dgn predikat terbaik yang punya assets 25M keatas, maka ada (1635 - 301) x 10.000.000,00 (minimal pungutan u BPR) = Rp. 13.340.000.000 dan katakanlah ada 6 BPR dengan assets 500 M ke atas, hitung saja 6 BPR x (500.000.000.000 x 0,045%) = 1.350.000.000, dan ada 100 BPR dng assets 100 M ke atas, kita hitung 100 x (100.000.000.000 x 0,045%) = Rp. 4.500.000.000,00, dan ada 85 BPR ber assets 50 M, hitunglah 85 x (50.000.000.000 x 0,045%) = Rp. 1.912.500.000,00 dan ada 145 BPR ber assets 25 M ke atas, anggap saja 145 x (25.000.000.000 x 0,045%) = 1.631.250.000. Jadi total pungutan di BPR = 22.733.750.000 dalam setahun. Ini tentu saja hitungan yang minim, tak melihat assets BPR satu persatu.

Nah apabila Pungutan itu tetap dipungut ? apakah kita akan melawan regulator dengan tidak membayar. Rasanya kita di Perbankan selalu tunduk pada peraturan regulator. Lalu apa yang akan kita lakukan ? 
Perlu diingat juga kita mempunyai kewajiban untuk menjalankan :
Peraturan OJK No. 1/POJK.07/2013 Tentang Perlindungan Konsumen Sektor Jasa Keuangan yang diundangkan tanggal 6 Agustus 2013 dan Surat Edaran Otoritas Jasa Keuangan No. 1/SEOJK.07/2014 Pelaksanaan Edukasi dalam Rangka Meningkatkan Literasi Keuangan Kepada Konsumen dan / atau Masyarakat, yang ditetapkan tanggal 14 Februari 2014. Tentu saja Edukasi ini memerlukan biaya.


Ya.. kita mempunyai kewajiban untuk membuat rencana edukasi dan evaluasi pelaksanaan rencana edukasi yang harus dikirim ke OJK. Kewajiban ini tentunya ada sanksinya jika tidak dilakukan, berikut sanksinya :
a. Peringatan Tertulis
b. Denda
c. Pembatasan kegiatan usaha
d. Pembekuan kegiata usaha
e. Pencabutan ijin kegiatan usaha.
dan perlu kita ketahui bersama bahwa sanksi b,c,d,e dapat dikenakan tanpa harus didahului oleh Peringatan tertulis lebih dahulu.
Dan sanksi denda bisa juga bisa dilakukan bersama-sama dengan sanksi c, d, e.

Apabila Pungutan OJK tetap harus dipungut dan Rencana Edukasi harus dijalankan oleh PUJK termasuk disini BPR, lalu apa yang akan kita lakukan. Hanya membayar saja kewajiban itu dan melaksanakan Edukasi seadanya saja? 
Kenapa kita tidak memanfaatkan untuk mengkampanyekan BPR dan mem "Branding" BPR kita. Bersama-sama dengan OJK kita lakukan Edukasi produk BPR dan Kampanye untuk mengenalkan BPR kepada seluruh Masyarakat. 

Lalu bagaimana caranya ? Kita bukan ahli marketing apalagi Branding, gak ada salahnya kita bertanya pada Pakar Marketing dan Branding.. bagaimana caranya.. yang LOW BUDGET tapi HIGH IMPACT..bisa mengedukasi tapi sekaligus Kampanye. 
Dan kita juga bisa meminta OJK bahwa pungutan yang masuk ke OJK dapat dikembalikan kepada Industri BPR dalam bentuk Edukasi dan Mengenalkan BPR kepada seluruh masyarakat, karena Bukankah OJK mempunyai kewajiban juga meng"edukasi" masyarakat tentang Lembaga Keuangan.

*ini saya tuliskan apa yang harus dilakukan OJK :
EPK OJK menyelenggarakan acara edukasi dan sosialisasi yang menjadi bagian dari peran edukasi dan perlindungan konsumen. Kegiatan ini diselenggarakan di berbagai kota serta mengundang berbagai lapisan masyarakat, seperti ibu rumah tangga, pengusaha kecil, pedagang, dan para akademisi (mahasiswa dan dosen).

Aktivitas sosialisasinya meliputi:
Produk Keuangan
Pengelolaan Keuangan
Lembaga Jasa Keuangan
Investasi Ilegal

Untuk memperkuat daya saing dan ketahanan BPR menghadapi pasar tunggal ASEAN,  kita di BPR selalin memperkuat sumber daya manusia (SDM), teknologi, kita juga harus memperkuat  marketing komunikasi. Selain itu, dari semua persiapan yang ada faktor teknologi menjadi bagian yang terpenting dalam mengadapi pasar bebas yang akan dihadapi Indonesia. Memperkuat teknologi secara otomatis akan memperkuat daya saing.

Memang nasabah BPR itu rata-rata UMK, ada di daerah dan kebanyakan nasabah kecil, namun  di era saat ini marketing komunikasi perlu dikembangkan  untuk memenuhi kebutuhan nasabah dan juga investor. Kita akui bahwa BPR kita sebagian besar  belum menerapkan marketing komunikasi dengan baik.

Marketing Komunikasi adalah proses menjalin hubungan yang saling menguntungkan antara perusahaan- karyawan -pelanggan dan merupakan upaya perusahaan memadukan dan mengkoordinasikan semua saluran komunikasi untuk menyampaikan pesannya secara jelas, konsisten dan berpengaruh kuat tentang organisasi dan produk-produknya. 
Bukankah ini juga yang diharapkan dari meng "edukasi" nasabah yang diwajibkan oleh OJK.


Kalau Edukasi bisa dilakukan bersama-sama, kenapa kita tak melakukannya bersama-sama, apa artinya edukasi jika kita lakukan sendiri-sendiri tak akan berdampak luas. Karena kita melakukan dengan cara kita sendiri-sendiri. Tapi kalau kita bersehati, saya yakin sekali semuanya akan lebih terarah dan berdampak yang luar biasa. Tapi sayang kadang-kadang kita lebih senang jalan sendiri-sendiri. Inilah yang memperlemah kita. Padahal kekuatan kita itu di "Community".

Kita didengar karena kita bersama-sama. Coba dengar suara hujan.. bayangkan kalo hujan hanya setitik saja, tentunya suaranya tak terdengar. Tapi begitu hujan deras dan diiringi gemuruh guntur .. bunyinya bisa mengusik siapa saja. Menyanyi sendiri dan menyanyi koor tentu efeknya juga berbeda. Pastinya lebih keras "Koor" bukan.

So.. kalo Pungutan ini tetap dipungut.. yuk kita galang kekuatan.. bukan untuk melawan, tapi kita bersatu menjadikan tantangan ini menjadi peluang.. Peluang untuk makin memperkenalkan BPR ke seantero negeRI.  Yuk kita gunakan semua saluran komunikasi yang ada untuk bercerita tentang BPR, tentang ke "lokal"an nya.. Saya jadi teringat saat saya mengikuti kelas Inspirasi Komunitas Memberi yang dilahirkan oleh Mas Yuswohady, ke Garuda Indonesia Airways. Bagaimana Garuda bisa bangkit dari keterpurukan, Bagaimana Garuda bisa menjadi yang terhebat di tanah air ini tanpa harus ikut perang harga antar maskapai. Garuda menawarkan sesuatu yang berbeda. Ketika kita terbang bersama Garuda maka kita akan disuguhi pengalaman khas Indonesia: sapa dan senyum khas Indonesia, makanan khas Indonesia, lagu daerah khas Indonesia dengan aransemen mutakhir Adi MS, sentuhan khas Indonesia. Dengan langkah ini Garuda sekaligus melakukan country branding “menjual” keunikan Indonesia ke masyarakat dunia. Sebuah strategi branding yang tak hanya smart, tapi juga mulia. Dan juga tak seharusnya kita antar BPR harus perang harga. Perang harga hanya akan membuat kita berdarah-darah.

Saya juga sempat terpana ketika mas Siwo, panggilan akrab mas Yuswohady tentang CSV nya Michael Porter mbahnya "Strategi" katanya. Creating Shared Value (CSV) adalah sebuah konsep yang mengharuskan perusahaan memainkan peran ganda menciptakan nilai ekonomi (economic value) dan nilai sosial (social value) secara bersama-sama (shared), tanpa salah satu diutamakan atau dikesampingkan. Memberikan solusi terhadap persoalan-persoalan ekonomi, sosial, dan lingkungan bukanlah pekerjaan sampingan, tapi haruslah embedded di dalam jantung strategi perusahaan. Bukan sekedar lipstik, bergitu paparnya. Beliau memberikan contoh Grameen Bank mengentaskan kaum papa melalui pembiayaan mikro bukanlah lipstik, tapi sudah menjadi core strategy-nya. 

CSV harus dilaksanakan dengan niatan mulia untuk memecahkan persoalan-persoalan sosial yang selaras dengan upaya untuk menghasilkan profit. Kata Porter, “companies can create economic value by creating societal value”. Jadi penyelesaian persoalan sosial tidak ditempatkan sebagai aktivitas sampingan, tapi dilaksanakan sepenuh hati sebagai bagian dari misi dan eksistensi perusahaan, begitu yang ditulis mas Siwo di Blognya.

Saya merasa omongan mas Siwo benar.. Bisnis BPR  harus mulai berbuat baik (“do good”) dan menebar kebaikan (“spreading goodness”). Berbuat baik bukan hasil dari polesan dan kepura-puraan; tapi yang betul-betul authentic dan muncul dari nurani yang paling dalam. Demi kebaikan Indonesia, demi kejayaan Indonesia.

Dapatkah BPR melakukan itu..? Menjual Keunikan BPR, sentuhan kekeluargaan dalam pelayanannya,  dan produk-produk yang dihasilkan oleh BPR adalah produk yang bisa memecahkan persoalan sosial yang selaras dengan upaya untuk menghasilkan profit... Edukasi yang kita lakukan adalah edukasi yang memecahkan persoalan di UMK yang kita biayai dan dimasyarakat, semakin mereka mengerti akan BPR, semakin mereka mengerti akan produk kita dan mengetahui kebaikan dan resiko-resikonya, semakin kita akan terhindar dari fraud dan kredit bermasalah.. 
 
Yuk kita mulai berbuat baik dan menebar kebaikan..


Ditulis saat hujan deras mengguyur Jakarta, dengan mata lelah karena semalaman membaca Peraturan dan Surat Edaran OJK.. sambil bermimpi.. kita bisa melakukan sesuatu yang hebat bersama-sama.
Dan tiba-tiba jadi teringat lagi tentang call centre 500277, kenapa ya call centre ini tidak kita manfaatkan untuk menjadi pusat Informasi tentang BPR dan tentang semua produk BPR.
Dan saya juga teringat pada tawaran Infomedia yang mengajak kerjasama Perbarindo DKI Jakarta, untuk mengedukasi nasabah BPR agar lebih berdaya dan optimal, dan mempertemukan antara UMKM yang satu dengan UMKM yang lain sehingga bisa bersinergi.
Mungkinkah gayung bersambut ???

sumber gambar : www.bi.go.id



Minggu, 15 Desember 2013

Tetaplah Menulis Untukku

Kamu tahu
Aku ingin kau membaca setiap tulisanku
Aku ingin kau tahu setiap detik hidupku
Tapi mungkin itu tak pernah terjadi
kataku tersendat-sendat

Aku tahu itu
Aku membacanya satu persatu
tak pernah satu hurufpun tertinggal
bisiknya pelan 

Tak perlu kau ucapkan itu
Aku ingin mengakhirinya
biar tak lagi ada tulisan untukmu
Amat berat ku ucapkan kalimat itu

Aku tak pernah mau mengakhiri
Tak akan pernah
Ucapnya sambil membalikkan tubuhku,, menatap tepat dibola mataku

Tidak.. kapan pun tidak
Biar kusimpan semuanya sendiri
Kupastikan itu tak akan terjadi
Tertunduk ku mengatakannya

Tidak..
Tetaplah menulis untukku..
sampai kapanpun...
desisnya.. dan mata itu tak pernah lepas menghunjam mataku

Diambilnya tanganku..

Sedetikpun aku tak permah sanggup melupakanmu..
sedetikpun tidak,,,
Jangan siksa aku dengan menanti2 tulisanmu
Tetaplah menulis untukku...

Airmata ini menetes satu demi satu...

Potongan dari cerita yang terpotong..
semoga ini bukan firasat...



SAMPAI BERAPA NATAL LAGI

Sebentar lagi natal..
Dan entah ini tahun yang keberapa
Natal dalam diam..

Sampai berapa Natal lagi
Diam ini ada..

Sampai berapa Natal lagi
Penantian ini..

Sampai berapa Natal lagi
Harapan ini..


Aku tak pernah tahu usiaku
Sampai berapa Natal lagi..




Sabtu, 14 Desember 2013

Kita Senang jika Bersama tapi sulit untuk Bersama

Semua pasti lebih seneng kalo mengerjakan sesuatu bersama2. Pergi aja kita ga suka sendirian. Apalagi disuruh jaga tenda sendirian pas jurit malam.. wah makasih deh. Kalo aku lagi ngajarpun mahasiswa senengnya kalo dikasih tugas ya tugas kelompok. Kita juga saat jadi mahasiswa maunya dikasih tugas kelompok. Intinya kalo bersama2 itu lebih enak. Urusan baju jg begitu kalo pergi rame2 pake seragam happy banget. Tapi kalo seragaman gak sengaja sama org yg gak janjian..rasanya gak suka.

Kebersamaan itu artinya ‘sama, bersama’. Sama artinya tidak berbeda alias seragam, ‘bersama’ berarti ‘tidak sendiri’. Jadi kita melakukan sesuatu bersama2.

Kenapa sih kita suka bersama2?? Kalo bareng2 itu ide lebih mudah digali, kita ini perlu dukungan, dan kalo bersama2 yg berat bisa jadi ringan.

Kebersamaan itu akan baik karena adanya kebutuhan yg sama bukan yg dipaksakan. Kalau sama kebutuhannya biasanya lbh mudah mencapai tujuan. Tapi kalo karena diwajibkan maka biasanya tujuan jadi susah tercapai.

Kebersamaan itu harus ada tenggang rasa.. komitmen untuk mencapai tujuan bersama, mau mengorbankan kepentingan pribadi dan mendahulukan kepentingan bersama, selalu mengarah pada kemajuan bersama bukan sebaliknya, jelas kemana kebersamaan akan dibawa, dan dibutuhkan proses untuk lebih memahami kebersamaan.

Dalam kebersamaan jgn sampai ada keinginan ingin menang sendiri, ingin hebat sendiri, berpikiran negatif dan curiga, mudah mengobral janji tanpa komitmen yang jelas, tidak tepat waktu, komersialisasi kebersamaan, saling menyalahkan, apalagi saling tuding.

Ternyata kebersamaan itu tidak mudah. Tapi tidak sulit jika kita mau. Makan bersamapun nyatanya tak bisa sama semua pilihan lauknya. Bahkan saat acara makan bersama ada juga yg tak mau makan krn sudah kenyang, tidak doyan bahkan ogah makan krn sakit gigi. Tapi karena semua bisa memahami kan itu tidak jadi masalah. Namun nyatanya dalam organisasi memahami kebersamaan tak semudah memahami makan bersama. Apalagi kebersamaan yg bukan krn kebutuhan tapi karena kewajiban. Jangankan menyatukan tujuan.. mengumpulkan iuran saja sulitnya setengah mati. Apa yang sudah dilakukan organisasi untuk kami begitu pertanyaannya.. dan lebih anehnya kalo hal itu ditanyakan oleh pengurus.. Tapi pernahkah kita bertanya.. apa yg telah kita lakukan untuk organisasi kita.. ??? Kalau kita pengurus sudahkah kita menjalankan tugas dgn baik ?? Kalo kita anggota sudahkah kita menjalankan kewajiban kita?? Mari kita mulai lebih dahulu dari kita.. jalankan kewajiban kita... percayalah.. semua hak kita akan mengikuti dengan sendirinya... buktikan itu.. Jika nanti tidak begitu.. ingatlah kembali bukankah kita berorganisasi karena ingin berbuat sesuatu untuk organisasi kita.. jadi mari kita mulai untuk berbuat.. kalau bukan kita yang berbuat dan menghargai organisasi ini lalu siapa lagi ???

\

Senin, 18 November 2013

Ini semua membuatku sesak..

Berorganisasi disini lama-lama bikin aku makan hati. Organisasi ini yang berisi direksi-direksi ini lama-lama seperti menyiksaku. Aku pikir dengan isinya direksi-direksi maka mental pemimpin akan ada disini. Ternyata tidak. Dari cara komunikasi yang sesukanya saja aku rasanya bisa patah hati. Bener-bener jauh dari cara orangtuaku mengajarkan aku. Kadang kalau aku kesal, nasihat orang tuaku seperti menguap entah kemana dan aku mengikuti saja pola komunikasi mereka. 

Coba bayangkan sebentar.. 
Jika SMS sudah berkali-kali tak juga dibalas, di telepon berkali-kali tak juga diangkat.
Katanya sudah punya BB dan Ponsel Android sampe Apple, tapi soal email saja bikin ribet, yang katanya belum bisa bukalah, gak masuklah etc lah yang bikin jadi sakit gigi.
Belum lagi BBM yang sudah bertanda centang R, tapi tak juga dibalas.
Diundang rapat sulitnya minta ampun, tapi habis itu mengeluh tak pernah dapat undangan. Padahal sudah jelas terima email, terima faks bahkan sudah menjawab konfirmasi yang jawabannya "diusahakan.. kalau keburu.. insya Allah.. selesai meeting baru bisa kesana".
Walau ditanya baik-baik tak menjamin hasilnya baik. Bisa kalimat tak terduga yang keluar sebagai jawaban. 

Ahh.. kadang aku sedih..
Dapat jabatan dapat amanah kok hanya mau ditulis namanya saja. Tapi begitu mau dihapus jabatannya dan diganti oleh orang lain yang mau berperan serta, bisa bikin geger dunia persilatan.
hah.. rasanya mau sesak aku menuliskan semua ini. Tapi aku memang sedang merasa sesak. Sedang merasa sedih. Oh seperti inilah yang ada di depanku.

Belum lagi tanggung jawab dikerjakan sudah meributkan uang transport uang lelah. padahal mungkin kalo di Kantor menasehati anak buahnya seperti ini "kerjakan nanti uang akan mengikuti..".
Rapat maunya ditempat bergengsi. Kalau undangannya di hotel mewah rasanya bak orang yang dihormati. Pelatihan di hotel yang kecil tapi resik nan asri pun dan pelatihannya sudah dikemas sebaik apapun tetap saja rasanya gengsi.
Baru dapat undangan dari BI, OJK etc lah.. bak rasanya orang yang terkenal. Tidak tahu dia namanya muncul karena direfernsikan oleh pengurus lain.

Rasanya kita itu keberatan jabatan Direksi. Tapi mental bukan mental pemimpin. Mengagungkan rasa hormat dari orang lain, penghargaan dari orang lain, tapi kita kurang bisa menghargai orang lain. Datang rapat sesukanya, tak bisa datang pun cuek saja. Bertanya kek tadi rapat membahas apa saja ya, lalu saya bagaimana ada yang bisa saya bantu gak ya.. hahhh boro-boro deh bakalan muncul pertanyaan seperti itu.

Belum ditambah Konflik yang bikin hati rasanya nelangsa. Bertanya-tanya setiap sebelum tidur, apa sebenarnya tujuan berorganisasi ini kalo isinya hanya mau hebat sendiri, mau menang sendiri, dan gak peduli aturan main. Sikat menyikat seperti hal yang lumrah. Jelek menjelekkan seperti makanan sehari-hari. Fitnah sana sini hal yang biasa.

Karena saat jaya sombong, saat jatuh pun juga jadi perguncingan. DOT lah.. Fraudlah.. Kredit bodong lah.. kalaupun baik itu cuman dipermukaan. Semua pasti menjauh, seperti diri kita sendiri paling bersih. Bahkan kita sudah salah masih merasa benar.

Ahhh.. kadang aku bertanya.. kenapa aku terlalu mencintai organisasi ini ? Sedangkan isinya sudah membuat tidurku tak lagi senyenyak dulu. Hatiku nelangsa dan menangis menangisi kondisi yang sulit aku terima.

Kita ini siapa sih.. direksi bank kecil. Yang satu saat akan berhenti masa jabatannya. Yang satu saat bisa saja kita lalai dan kepleset.. bukan mahluk yang sempurna.. yang satu saat juga butuh bantuan dan uluran tangan orang lain. Ahh kenapa sih kita harus sombong.. harus gengsi.

Mungkin memang benar bukan tempatku disini. Terlalu lelah rasanya disini. Tapi rasa cintaku untuk berbuat yang bisa aku lakukan sepertinya memanggil-manggil.. apalagi ketika kutahu tak ada lagi orang yang peduli. Semuanya hanya bisa kasih komentar..hanya kasih saran tapi ogah mengeksekusi. Dan semuanya rasanya sulit mendengar.. dan cari selamat.



Tapi ketika ku mendengar cerita temanku di organisasi yang lain.. sepertinya nampaknya sama saja,
Ahhh sepertinya sudah lupakan saja soal organisasi. Sudah harus berkorban waktu tenaga materi masih juga korban perasaan. Lebih baik mengurus yang lain saja. Yang menghasilkan. Yang memperkaya waktu, tenaga, materi dan perasaan. Rasanya sudah cukup aku mencicipi getirnya berorganisasi. Padahal manis yang kuharapkan amat sederhana.. kebersamaan, kerukunan, kerjasama dan saling dukung serta saling menghargai sehingga organisasi kita tak dipandang sebelah mata..

ah.. permintaan mu itu tidak sedikit Riwandari.. sudahlah..lupakan.. banyak hal kok yang bisa kamu kerjakan diluar ini.. yang melapangkan perasaan mu dan membuat hatimu lebih bahagia. Dan bersyukurlah di organisasimu itu tidak ada orang seperti Ruhut dan Hotman.. yang bicaranya lebih sulit kau cerna dan kau terima.

Sabtu, 16 November 2013

Hujan Turun


 
Tak ada waktu tuk menjelaskan
Tak sangka ini kan datang
Tiap liku berbagi hidup
Sejenak melepas lelah
Kau tinggalkan diriku

Waktu hujan turun
Di sudut gelap mataku
Begitu derasnya
Kan ku coba bertahan

Ingat kembali yang terjadi
Tiap langkah yang kita pilih
Meski terkadang perih
Harapan untuk yang terbaik
Sekeras karang kita coba
Tetap kau tinggal diriku

Waktu hujan turun
Di sudut gelap mataku
Begitu derasnya
Kan ku coba bertahan

Waktu hujan turun
Di sudut gelap mataku
Begitu derasnya
Kan ku coba bertahan

Tak akan ku halangi
Walau ku tak ingin kau pergi
Kan ku bangun rumah ini
Walau tanpa dirimu
Walau tanpa dirimu

Waktu hujan turun
Di sudut gelap mataku
Begitu derasnya
Kan ku coba bertahan

Waktu hujan turun
Di sudut gelap mataku
Begitu derasnya
Kan ku coba bertahan
 
Sheila on seven


Minggu, 10 November 2013

Tapi .. ini caraku mencintaimu..

Tapi..Ini caraku mencintaimu..
Ini caraku memahamimu
Ini caraku ....

Diam
Tak menghubungimu
Tak juga kan kutanya kabarmu
Menjauh darimu


Tapi.. Ini caraku..
Aneh bagimu..
Tapi begini caraku..

Tapi.. Ini caraku mencintaimu..
Menjaga mu dengan keikhlasan
Agar tak ada yang luka...


Tapi..Ini caraku mencintaimu
Mencintai dalam diam


Tapi .. Ini bentuk ketulusanku..
Mencintai dalam diam

Aneh bagi mu..
Tapi ini caraku mencintaimu..
Ini caraku.. tapi ini caraku..
Maafkan aku... jika begini caraku..

Cerita yang terpotong - sepotong dari sepotong.. yang terpotong..
ini hanya fiktif belaka.. jangan dipercaya ya...








Sabtu, 09 November 2013

Sebuah catatan di Hari Pahlawan

Membuka-buka Kamus Besar Bahasa Indoesia untuk mencari tahu apa arti kata Pahlawan.  Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, pahlawan berarti orang yang menonjol karena keberanian dan pengorbanannya dalam membela kebenaran; pejuang yang gagah berani.
Pahlawan itu adalah kata benda. Pahlawan itu ternyata berasalah dari bahasa Sansekerta. Dari kata Phala yang artinya hasil atau buah.

Jadi dapat disimpulkan Pahlawan itu adalah seseorang yang perbuatannya telah membawa hasil bagi kepentingan orang banyak. Perbuatannya memiliki pengaruh terhadap tingkah laku orang lain dan bermahnfaat bagi kepentingan masyarakat banyak. Pahlawan itu pun bermacam-macam. Ada pahlawan nasional, pahlawan revolusi, pahlawan kemerdekaan, bahkan ada pahlawan devisa, pahlawan tanpa tanda jasa, pahlawan keluarga dan juga pahlawan kesiangan.

Dalam kehidupan kita, pasti kita memiliki Pahlawan. Ada yang bilang "ayahku pahlawan ku.." atau "nenekku pahlawan ku ". Itu artinya sertiap orang bebas menentukan siapa yang menjadi pahlawan dalam hidupnya. Menurutku setiap orang yang masuk dalam kehidupan kita dan mampu menginspirasi kita mengubah kita itulah pahlawan. Bahkan dalam satu moment dimana kita merasa tak berdaya orang yang menolong kita adalah pahlawan kita. Itu artinya setiap orang yang masuk dalam kehidupan kita pasti menjadi pahlawan dalam artinya masing-masing. Sederhana saja.. saat kita sedang megendarai mobil dan ban nya kempes entah di siang hari atau malam hari, dan seseorang dengan baik hatinya menolong kita.. pasti kita akan merasa orang itu adalah pahlawan. Pemimpin sebuah demo sekalipun bisa saja disebut Pahlawan oleh para demonstran. Bukan itu saja yang membuat blogspot inipun juga pahlawan, yang membuat facebook, tweeter, path pasti menjadi masuk sebagai pahlawan juga dalam kehidupan kita. Bukankah setiap pahlawan juga mempunyai harinya masing-masing? Hari Kartini kita mengenang ibu Kartini, hari Kemerdekaan kita mengenang para Proklamator. Saat berbicara guru kita akan ingat Pahlawan Tanpa tanda Jasa. Saat berbicara TKI kita akan ingat Pahlawan devisa.
Jadi disetiap sesi hidup kita pasti ada pahlawannya masing-masing.

Hari ini Hari Pahlawan. Dalam hidup kita pasti terisi oleh semangat-semangat orang disekitar kita yang menginspirasi kita.. menyemangati kita. Bahkan anak kita sekalipun adalah pahlawan buat kita..karenanya kita semangat untuk berbuat yang terbaik. Pasangan hidup kita walau mungkin sedang dlm kondisi sakit sekalipun dia pun pahlawan dlm hidup kita..karenanya kita belajar ikhlas, menerima dan bersyukur. Orang tua kita terutama.. beliau adalah pahlawan yg luar biasa yg menuntun kita hingga bisa spt skrg ini, begitu juga semua guru-guru dan dosen-dosen kita. Kakak dan adik kita juga pasti pahlawan dalam hidup kita.. dengannya kita tak pernah kesepian.. dengannya kita bisa berdebat apa saja bahkan bisa juga diam beberapa saat. Temàn sahabat yang baik dan yang sedang tidak baik semua adalah pahlawan .. karenanya kita belajar berbagi dan menahan diri.. Tim kita di kantor juga pahlawan dalam hidup kita, tanpa mereka kita bukan siapa-siapa di kantor, tanpa mereka tak kan pernah kita dapat pujian atas hasil kinerja kita. Mbak kita di rumah yang membantu segala hal urusan pasti bisa kita sebut pahlawan, bukankah tanpanya kita sulit untuk berbuat banyak. Mahasiswa atau murid kita.. juga menjadi pahlawan dalam hidup kita.. merekalah yang menginspirasi dan menyemangati kita serta karena merekalah ilmu di kepala kita tak pernah hilang bahkan terus bertambah. Bahkan setiap orang yg kita temui entah itu sekedar hanya numpang lewat ataupun karena kita berguru padanya beberapa saat.. itu semua pahlawan.. karenanya kita tahu bahwa kita tak bisa hidup sendiri bahwa kita juga perlu disemangati diinspirasi oleh orang lain. 

Terima kasih untuk semua Pahlawan yang telah membuat Indonesia hebat dan yang telah menginspirasi menyemangati mengisi menghangatkan kehidupanku.. Terima kasih.. #sebuahcacatandiharipahlawan


Senin, 04 November 2013

Semalam menelan Kapas

Aku    : Kapas yang semalam di gigi mami tertelan
Putriku : Paling juga ntar keluar sendiri
Aku     : Emang kapas mudah dicerna
Putriku : Kan cuman sedikit
Aku diam saja...

Aku    : Kok adikmu ga BBM BBM ya.. padahal tengah malam tadi BBM ngeLINE, ngeWhatss..
             ada apa ya
Putriku : Itu artinya dia lagi males cerita
Aku      : Tapi semalam sampe nge ping nge ping gitu
Putriku : Itu artinya mami terlambat merespon
Aku      : Ya kan mami sudah bobo semalam
Putriku : Ntar juga kalo pengen cerita BBM
Aku diam saja...

Begini banget ya anak sekarang.. mengangap segalanya ringan-ringan saja..
Sedangkan aku kuatir dari semalam.,,semalam menelan kapas...


Selasa, 29 Oktober 2013

KENAPA KITA HARUS BERJALAN MUNDUR ?


Mungkin saya adalah orang yang paling kurang kerjaan dalam kepanitiaan Tabprindo, yang mau menghabiskan waktu untuk membongkar perpustakaan saya untuk mencari jejak langkah Tabprindo. Tabprindo seperti sesuatu yang amat dekat dengan kehidupan saya dalam berorganisasi. Melihatnya bagaimana dulu dilahirkan sampai periode saat ini, ada rasa bangga ada rasa sedih. Bangga karena keyakinan yang teguh yang ditularkan dan selalu dikuatkan oleh Ketua DPD DKI saat itu, sedih karena Tabprindo menjadi polemik disaat keanggotaan melorot dan kepanitiaan yang seperti tak bersemangat.
Kita Mundur Untuk Melihat Sejarah Tabprindo
Masih ingat dalam benak saya bagaimana saat itu terjadi perbedaan pendapat antara Pengurus DPD Perbarindo DKI dengan Pengurus DPP Perbarindo mengenai Pilot Project Tabungan Bersama yang akan dilaksanakan di wilayah DPD DKI Jaya. Saya waktu itu bukanlah seorang sekretaris seperti saat ini, namun hanyalah pengurus di Komisariat Bekasi Timur dan kemudian diminta untuk masuk ke DPD DKI mengisi pergantian antar waktu.
Konflik memang sepertinya merebak antara DPD Perbarindo DKI Jaya dan DPP Perbarindo karena ketidakpuasan masing-masing atas pengurus yang akan mewakili duduk di kepengurusan Tabprindo. DPP Perbarindo keberatan dengan seseorang yang mewakili DPD DKI duduk di kepanitian Tabprindo, begitu juga dengan DPD DKI yang keberatan dengan pengurus yang dikirimkan oleh DPP untuk duduk di kepanitiaan Tabprindo. Kedua belah pihak menganggap dirinya sama-sama benar. Dan akhirnya muncul edaran dari DPP Perbarindo, bahwa pengurus DPP menarik dukungannya terhadap Tabprindo sehingga beberapa anggota yang telah mendaftar banyak yang mengundurkan diri. Entah kenapa masing-masing mempertahankan orang-orang tersebut yang jelas-jelas semuanya tahu bahwa kedua orang tersebut tak mungkin dapat disatukan dalam satu kemudi, karena ada masalah pribadi antar kedua orang yang diminta mewakili tersebut di BPR tempat mereka berkarya.
Lalu kenapa saya bisa mendapatkan cerita ini ? Karena orang yang menjadi sumber konflik sering menghubungi saya. Seorang sudah meninggal namun seorang lagi masih ada sampai sekarang walau sudah tak lagi menggeluti dunia BPR.
Hubungan yang tak harmonis antara DPP Perbarindo dengan DPD DKI saat itu sudah bukan menjadi rahasia, dan salah satu faktor pemicu ketidakharmonisan ini adalah Pilot Project Tabungan Bersama yang diberi nama Tabprindo. Konflik ini terus berlangsung sampai pada masa Direktur DKBU BI ibu Ratna E. Amiyati, yang tak pernah lelah untuk mencoba mengharmoniskan keduanya. Bahkan sebagai bukti bahwa DPP telah mendukung Tabprindo kembali nama Tabprindo dimunculkan dalam website DPP Perbarindo yang beralamat di www.perbarindo.or.id, walau saat ini sudah tidak muncul lagi. Pengurus DPP pun selalu mengusahakan untuk hadir dalam setiap acara pengundian Tabprindo jika diminta kehadirannya oleh DPD DKI. Bahkan beberapa pengurus DPP mulai tertarik untuk bergabung di Tabprindo, namun ternyata masih banyak hal yang menjadi kendala.
Saya amat salut dengan kegigihan Ketua DPD DKI saat itu. Walau tanpa dukungan, dia tetap yakin untuk terus melanjutkan Tabprindo. Saya yang awalnya tak tertarik dengan program ini karena disarati konflik, akhirnya memilih bergabung bahkan bersedia menjadi Bendahara dalam periode pertama dan kedua. Sehingga muncullah nama saya dalam Rekening DPD Perbarindo DKI Jaya khusus untuk Tabprindo yang dibuka di BRI Tanah Abang. Yang menandatangani rekening itu adalah Ketua dan sekretaris DPD DKI Jaya, Ketua dan Bendahara Tabprindo periode pertama.
Rekening ini tetap aktif sampai saat ini dan hanya khusus untuk semua transaksi Tabprindo. Dan Tabprindo telah mencapai periode ke 11, yang dari awal dimulai dari 22 BPR dengan jumlah pengumpulan dana masyarakat 6,76 M, dan mencapai jumlah anggota terbesar adalah pada periode ke 5 dan mengalami penurunan sehingga di periode 11 hanya beranggotakan 32 BPR. Namun secara jumlah Dana yang tergalang, mengalami peningkatan setiap tahunnya, dengan jumlah terakhir 21.58 M.
Kita mudur untuk mengerti apa itu Tabprindo ?
Walau saya mengikuti perkembangan Tabprindo dari awal, tapi saya tetap membutuhkan saksi mata lain terhadap sejarah Tabprindo. Karena banyak cerita sejarah yang sekarang bermunculan tentang Tabprindo. Saya membuka-buka majalah Suara BPR Jaya yang merupakan majalah produk dari DPD Perbarindo DKI. Saya mencari tulisan-tulisan tentang Tabprindo. Saya ingat dulu pernah ada tulisan sahabat saya mengenai perjalanan Tabprindo, bagaimana Team Tabprindo berkumpul dan berpikir untuk mempersiapkan peluncuran Tabprindo kepada anggota di DPD Perbarindo DKI. Walau dia sekarang sudah tak lagi terlibat di dalam Tabprindo tapi perannya sangat luar biasa di Tabprindo ini, dan saya sebagai pribadi memberikan dua jempol bahkan jika bisa empat jempol pun akan saya berikan, untuk semua kontribusinya yang amat luar biasa. Sayangnya edisi yang muat itu belum saya temukan sampai pagi ini.
Dalam Majalah Suara BPR Jaya yang pemimpin umumnya adalah Ketua DPD Perbarindo DKI Jaya dan sekitarnya. dan Pimpinan Redaksinya adalah sahabat saya yang saya berikan acungan jempol di atas itu, di Edisi VI / Agustus 2008, termuat kalimat seperti ini di halaman 20.
Tabprindo merupakan salah satu produk Tabungan yang diluncurkan pertama kali pada tanggal 19 Desember 2005 dengan mendapat dukungan penuh dari Bank Indonesia, sebab tujuan dari tabungan ini adalah untuk meningkatkan image BPR di mata masyarakat di samping untuk meningkatkan fungsi BPR sebagai lembaga intermediasi dalam penghimpunan dana pihak ketiga. Tabprindo sendiri merupakan singkatan dari Tabungan Bank Perkreditan Rakyat Indonesia yang merupakan salah satu program yang akan terus dikembangkan oleh pencetusnya dan sekaligus pengelolanya yaitu Perbarindo DKI Jaya dan sekitarnya.
Tentunyanya tulisan ini tak akan terbit begitu saja tanpa campur tangan dan ijin dari Ketua DPD DKI saat itu. Jadi saya meyakini ini sebagai fakta sejarah.
Fakta sejarah lainnya adalah adanya SK Pengangkatan oleh DPD Perbarindo DKI untuk panitia Tabprindo diawal Tabprindo berdiri dan terus berlanjut sampai beberapa periode, dan baru terjadi masalah saat
beberapa periode terakhir dimana terjadi ketidakjelasan personil pengurus Tabprindo karena sulitnya anggota untuk diminta menjadi pengurus. Dan hal itu dibiarkan terkatung-katung sampai sekarang. Dan kita secara kolegial adalah penyebabnya. Surat-surat yang dikeluarkan oleh Tabprindo pun awalnya selalu dibubuhi tanda tangan Ketua DPD Perbarindo DKI. Undangan, Backdrop, Standing Banner pun selalu disandingkan dengan logo DPD Perbarindo DKI Jaya. Bahkan Tabprindo dimasukkan sebagai program kerja bagian Litbang.
Apakah ini belum cukup untuk membuktikan bahwa memang ada keterkaitan antara DPD Perbarindo DKI Jaya dan sekitarnya. Dan kenapa harus bermunculan cerita tentang Tabprindo dalam berbagai versi.
Mengapa kita harus berpikir mundur kebelakang ?
Ini adalah yang ada di benak saya.. Kenapa kita sekarang menjadi diributkan oleh dari mana Tabprindo berasal? Kenapa kita tak berpikir untuk kepentingan Tabprindo ke depan. Apapun sejarah Tabprindo fakta nanti yang akan berbicara, dan itu sebenarnya tak perlu menjadi polemik. Kenapa juga kita harus meributkan rekening Tabprindo dan ingin memindahkan pada rekening yang lain? Apakah karena ada sejumlah uang? Bukankah uang itu bukan milik kita, uang itu adalah uang amanah yang harus kita pertanggungjawabkan dengan sebaik-baiknya. Lalu kenapa kita juga harus membingungkan dimana sekretariat Tabprindo, bukankah dari dulu Tabprindo bersekretariat menjadi satu dengan DPD Perbarindo DKI Jaya.
Apakah tak lebih baik kita berpikir ke depan. Bergandengan tangan untuk memajukan Tabprindo. Bagaimana Tabprindo bisa menjadi Go Nasional seperti mimpi kita. Bagaimana Tabprindo bisa menggalang anggota lebih banyak dan lebih banyak lagi. Bagaimana kita kita membuat Tabprindo mengangkat image Industri BPR kita. Bagaimana kita bisa membuat perhelatan pengundian yang meriah dan pantas diliput banyak media. Bagaimana kita bisa membuat promosi bersama yang membuat BPR makin dikenal masyarakat. Bagaimana kita harus memperbaiki Panduan Tabprindo sehingga jelas bagi seluruh anggota dan panitia. Bagaimana kita bisa menggandeng banyak pihak untuk mendukung Tabprindo dan menghindari ekslusivme yang menghambat dukungan. Bagaimana Tabprindo bisa memberikan fasilitas kepada banyak anggota, dari pendidikan yang terkait dengan promosi Tabprindo sampai membuat laporan Tabprindo, bahkan pendidikan-pendidikan lainnya. Bagaimana menggiatkan kembali Bakti Sosial yang diselenggarakan Tabprindo dengan lebih bermakna untuk masyarakat. Bagaimana membuat Perlombaan atau kompetisi yang tekait dengan pelayanan Tabprindo atau yang memacu SDM BPR untuk berprestasi.. dan bagaimana-bagaimana lainnya. Ini adalah PR kita bersama yang belum kita selesaikan, namun kita sudah disibukkan oleh polemik.
Mau dibawa kemana Tapbrindo ?
Semuanya berakhir ditangan anggota. Saya berharap semua dapat berpikir jernih dan bijaksana. Keputusan yang akan dihasilkan apapun itu, jika kita tak mau bergandengan tangan, akan berdampak buruk terhadap Tabprindo. Yang diperlukan sekarang adalah kesadaran kita semua untuk mau bersehati memajukan Tabprindo. Hidup mati Tabprindo ada ditangan kita bersama. Haruskah setiap konflik harus menyebabkan kerugian bagi banyak pihak. Sebuah PR bagi yang berkonflik dan juga PR bagi anggota untuk berani menentukan sikap bagi kelangsungan hidup Tabprindo kedepan. Mari kita berpikir
bersama apakah dampak setiap keputusan yang kita ambil. Apakah akan membawa efek yang baik atau membawa efek yang buruk. Dan apabila Tabprindo di serahkan untuk dikelola oleh sebuah lembaga diluar DPD Perbarindo DKI Jaya, mungkin juga perlu dipertanyakan bagaimana Lembaga itu bisa menjawab semua pertanyaan “bagaimana-bagaimana” di alinea atas, dan berapakah dana serta anggota yang akan berhasil digalang, apakah bisa lebih baik dari pengelolaan dibawah DPD Perbarindo DKI Jaya.
Karena untuk pengelolaan tersebut pasti akan dikeluarkan sejumlah biaya dan tentu saja harus bisa dipertanggungjawabkan kepada seluruh anggota.
Tabprindo pasti tetap terbuka bagi siapa saja untuk berkontribusi, kalau bukan kita yang berkontribusi lalu siapa lagi. Kalau bukan kita yang memikirkan Tabprindo lalu siapa lagi. Mau dibawa kemana Tabprindo.. jawabannya ada di anggota Tabprindo. Semua pengurus yang saat itu melahirkan Tabprindo telah berani bermimpi dan mewujudkannya.. dan sekarang sanggupkah kita sebagai anggota berkontribusi untuk memajukan Tabprindo kedepan sehingga Tabprindo yang ada adalah Tabprindo yang damai dan penuh prestasi yang bisa dibanggakan. Tabprindo juga sebagai ajang pembuktian bahwa konflik bisa kita selesaikan dengan baik karena ada kasih dan kesehatian diantara kita, dan kita buktikan bahwa bekas konflik tak menghambat anggota dan panitia Tabprindo untuk berkiprah lebih baik dan lebih baik lagi. Apakah ini hanya mimpi.. ??? Biarlah ini diawali dengan mimpi..paling tidak kita sudah berani bermimpi.. dan semoga Tuhan memberi kita kesehatian untuk mewujudkannya. Amin.
Terima kasih telah bekenan membaca tulisan ini.


Minggu, 27 Oktober 2013

Lumpuhkanlah Ingatanku

Jangan sembunyi
 Ku mohon padamu jangan sembunyi 
Sembunyi dari apa yang terjadi 
Tak seharusnya hatimu kau kunci
Bertanya, cobalah bertanya pada semua 
Di sini ku coba untuk bertahan
 Ungkapkan semua yang ku rasakan
Kau acuhkan aku, kau diamkan aku 
Kau tinggalkan aku
Lumpuhkanlah ingatanku, hapuskan tentang dia 
Ku ingin ku lupakannya
Jangan sembunyi 
Ku mohon padamu jangan sembunyi 
Sembunyi dari apa yang terjadi 
Tak seharusnya hatimu kau kunci
Lumpuhkanlah ingatanku, hapuskan tentang dia 
Hapuskan memoriku tentang dia 
Hilangkanlah ingatanku jika itu tentang dia 
Ku ingin ku lupakannya
Lumpuhkanlah ingatanku, hapuskan tentang dia 
Hapuskan memoriku tentang dia 
Hilangkanlah ingatanku jika itu tentang dia
Ku ingin ku lupakannya
Lumpuhkanlah ingatanku, hapuskan tentang dia
Ku ingin ku lupakannya
Kau acuhkan aku, kau diamkan aku
Kau tinggalkan aku
 
 



 

Yo Terjatuh

Yo tadi jatuh saat di makam Tanah Kusir. Terlentang. Kakinya berdarah.. karena minum obat pengencer darah, darahnya sulit membeku. Seandainya saja dia mau berlatih jalan dengan rajin, pasti hal seperti ini bisa dihindari. Kadang dia tak bisa mengira-ngira bagaimana posisi kakinya agar bisa berjalan tanpa hambatan. Berjalannya tanpa dipikir. Kalau didampingi terus menerus tak pernah bisa mandiri, tapi begitu kami lengah..banyak hal yang bisa terjadi.
Kami hanya bisa berdoa semoga tidak ada hal-hal yang mengganggu kesehatannya.


Sabtu, 26 Oktober 2013

Cerita yang Terpotong - sepotong - potongan...

Tiba-tiba tangan kekar itu menangkap lenganku. Hampir jatuh kameraku. "Apa maumu.."sentakku sambil berusaha melepas cengkramannya yang kasar. Dia menarikku menepi. "Kenapa yang terkait denganku harus kamu foto.. apa maumu.."bisiknya..tanpa sedikitpun merenggang
kan cengkramannya. "Bukan urusanmu... " kataku sambil mengalihkan pandanganku ke arah lain.. tak sanggup aku ditatap setajam itu. "Selama itu terkait denganku..itu urusanku..kenapa.."kejarnya. "Lepaskan tanganku.."pintaku penuh iba. "Tidak.. sebelum kau jawab.."tegas sekali nadanya. "Jawaban apa yang kau inginkan.. "tantangku kesal. Tiba-tiba cengkraman itu lepas.. dia menunduk kaku.. lalu melangkah pergi... tanpa menatapku lagi...

Ahhhhh... kenapa tak kau kejar sampai aku menjawab sesuai yang kau inginkan....

Rabu, 07 Agustus 2013

Memaafkan Itu Indah

Seringkali kutak mampu bersyukur, gagal menata pikiranku, perasaan-perasaanku dan jauh dari kesabaran, kadang merasa tak bahagia, dan sering merasa gagal membangun hubungan yang saling menghidupkan yang mampu memaafkan dan dimaafkan.

Apakah aku memahami makna maaf yang sebenarnya ?

Mungkin benar aku tersesat dalam pemahaman arti kata maaf yang keliru.
Maaf ternyata bukan untuk kepentingan orang lain.. tapi lebih pada kepentinganku sendiri.
Mengucapkan kata maaf yang sesungguhnya memerlukan kerendahan hati.

Katanya kita hidup saling mencinta. Hakikat cinta sendiri adalah melepaskan ego untuk kebaikan orang yang kita cintai.
Memaafkan adalah memahami orang lain sebagai orang lain dan berfokus pada kebaikan orang lain.
Hal inilh yang membuat cinta identik dengan memaafkan.
Apakah ada cinta yang tanpa maaf.. atau cinta malah membuat kita sulit untuk memaafkan?

Kadang kita memilih melupakan daripada memaafkan.
Tapi semakin kita ingin melupakan.. maka semakin sulit dilupakan

Maafkanlah dan tak perlu dilupakan karena memang sulit dilupakan
tapi ingatlah sebagai  pengalaman yang sudah terjadi dan merupakan bagian dari perjalanan hidup kita, yang ada untuk mendewasakan kita.
Intinya adalah Ikhlas....

Tindakan memaafkan memang tak seindah ucapannya.
Tapi sadarilah bahwa setiap orang pasti ingin melakukan yang terbaik yang dapat dilakukan.
Dan bisa saja dalam melakukannya bersinggungan dengan kepentingan kita,,
Sudah sepantas dan seharusnya kita memaklumi.

Tuntaskanlah maaf selagi kita hidup.
Jangan membawa dendam ke liang kubur.
Ada sesuatu yang dibayar untuk melunasi hutang itu.
Ubah penyesalan menjadi maaf, karena maaf menjadi tak sekedar indah tapi juga menyembuhkan.

Maaf memang tak mengubah masa lalu kita..
tapi yakini ini akan mengubah masa depan kita.
Maaf tak harus membuat kita menjalin hubungan seperti dulu
Dan tak perlu kita merasa bersalah
Karena memang maaf tak bisa mengubah masa yang telah lewat
dan wajar jika kita mengambil jarak agar tak terulang lagi
dan tentu saja kita bebas memilih hubungan yang baru

Tak ada yang perlu dipersalahkan..
Jika kita tetap jauh walau telah saling memaafkan..
Yang terpenting adalah Maaf telah diberikan dengan tulus tanpa pretensi apapun...

Sudah saatnya kita saling memaafkan..
Dimulai dari memaafkan diri senidiri karena itulah yang kita perlukan
Agar hidup kita menjadi menyenangkan, terbebas dari perasaan penuh amarah dan pikiran-pikiran yang penuh kebencian..
Maafkan aku ya...
.

(Coretanku dari Buku Jalan Keluarnya Rudi Tamrin...)



Mari Kita Mulai dengan Memaafkan diri sendiri




Tidak ada pil, minyak, obat, minuman, makanan, kekuatan, ramalan ataupun penguatan
yang adapat mengubah apa yang telah terjadi

Sbagaimana cinta menyinari kegelapan
begitu pula cinta memberikan kehangatan serta kedamaian
ke dalam daerah hitam yang paling kelam
Dan pada dirimu terdapat beberapa daerah kegelapan itu
ini berlaku untuk setiap orang

Memaafkan diri sendiri adalah kunci meraih terang
Memaafkan diri orang lain adalah sangat mulia
namun memaafkan diri sendiri harus dimulai terlebih dahulu..

Aku sudah memaafkan diri ku sendiri
dan aku juga telah memaafkan dirimu setulusnya
memaafkan artinya aku harus melupakan semua ketidakadilan yang telah aku terima

Dengan memaafkan diri ku sendiri dan diriku memaafkan kamu..
aku berharap dirimu juga mampu memaafkan dirimu sendiri dan kelak
mampu untuk memaafkan aku....

KARENA

Yang lemah tidak dapat memaafkan
Memaafkan adalah tanda dari mereka yang kuat
Jika kita terus menerus mempraktekkan "mata ganti mata" dan "gigi ganti gigi",
maka akhirnya
kita akan memiliki dunia yang dipenuhi oleh mereka yang buta dan tidak bergigi
(Mahatma Gandhi)

Pemaafan merupakan respon kita untuk melupakan ketidakadilan yang kita alami
(Anthony Dio Martin)

Memaafkan adalah kekuatan yang luar biasa
Memaafkan adalah tindakan kita yang menolak
untuk menjadi korban dari kebencian dan rasa dendam dalam diri kita
(Anthony Dio Martin)

Pemaafan memang tidak akan mengubah masa lalu kita,
tetapi ia akan memperluas jangkauan masa depan kita.

Maafkan aku.....


(catatanku dari buku ADM "EQM"..darinyalah aku tertegur untuk memaafkan dan ingin memperbanyak ruang kesabaran)


Selasa, 06 Agustus 2013

5% -10% sehari.. Siapa Mau ????

Sebenarnya ini tadi cuman sekedar iseng-iseng saja. Saat makan di Lumba-lumba di kawasan kota tua, aku melihat dari jendela penjaja uang receh sedang menjajakan uangnya. Saat ku membahasnya dengan my baby bungsuku, my baby menjelaskan demikian "Katanya mami kalo menukar di bank itu ribet, ngantri, dan jumlahnya terbatas, kalo di mereka gak ribet n gak pake ngantri..walau harus bayar."

Emang sih ribet.. terbatas dan capek antri..
Akhirnya ... selesai makan.. kuberhentikan mobilku di salah satu penjaja uang. Uang receh yang aku persiapkan untuk diriku sendiri sudah ludes diminta oleh saudara dan teman-temanku, tentu saja tanpa biaya sepeserpun. Aku memerlukan lima ribuan dan dua ribuan untuk parkir dan lain-lain nantinya, tak ada salahnya mencoba untuk menukar sehingga tahu berapa mereka menjual uang receh itu.

"!00.000 jadi bayarnya 110 ribu bu.. "jelasnya. "Semua sama bu.. sepanjang jalan ini sama semuanya, kan kami dapatnya dari BOS..". "Mahal sekali bu.. di diskon deh sedikit.. "pintaku. "Kalo kemarin 100ribu itu jadi 105ribu, kalo sekarang dah gak bisa bu. Dari BOS nya sudah segitu. Akhirnya aku bayar juga jumlah yang diminta.

Mungkin lebih baik bayar daripada buang waktu seperti ini
Lalu aku mulai berhitung.. kantorku setiap minggu mendapat jatah dua kali dari BI. Katakanlah 300 juta aku dapat.. artinya dalam 1 minggu menjelang lebaran bisa mendapatkan keuntungan 30 juta. Ya ampun.. ya ampun keluar dari mulutku.

Penukaran di kantorku aku berikan gratis kepada seluruh nasabah bahkan bukan nasabah. Begitu juga kenalan-kenalan kami jika mereka memerlukan untuk berhari raya. Aku lagi membayangkan seandainya karyawanku tak punya komitmen.. seandainya penukar uang ternyata penjual uang.. olalala apa jadinya... Padahal kami mendapatkannya saja begitu sulit menjelang hari raya. Permintaan kami tak pernah dapat di penuhi BI. Bisa mendapat setengahnya saja sudah bagus. Kami menukarkan tanpa biaya.. sedangkan yang dengan menjual sepertinya mudah mendapatkan.. sepertinya stok uangnya tak ada habis-habisnya. BOS nya begitu pintar memperoleh uang receh. Kami kalah pintar.

Sebenarnya ini salah siapa.. BI yang tidak dapat menyebarkan uang receh sehingga mudah diakses oleh masyarakat, apa salah bank yang tak bisa menjadi tempat penyebaran uang receh.. apa kebutuhan uang receh dan persediaan uang receh tak seimbang, apa kenapa ya.. sehingga setiap hari raya pasti penjual uang receh ini laris manis walau dikenakan biaya 10%. Atau.. ya sudahlah sekali-sekali bagi-bagi rejeki... kan yang nuker juga pada dapat THR...  kalau yang kayak begini ini masuk Riba apa bukan yaaaa.. bunga bank saja disebut riba... gak tahulah jadi pusing...

Hahaahahaha lagian juga ngapain dipikirin... yang nuker bayar 10% aja gak pusing.. yang nyebarin yang gak bisa memenuhi permintaan masyarakat juga kagak pusing...

 http://www.beritajakarta.com/2008/id/berita_detail.asp?nNewsId=55481
http://www.aktual.co/sosial/190312hukumnya-riba-transaksi-tukar-uang-receh-menjelang-lebaran





Kuingin Melepasnya dengan Rela

Hai Blog... sudah lama ya aku tidak bercerita-cerita padamu. Jadwalku memang sedang padat kemarin-kemarin. Aku harus ke Tidung menemani putri sulungku, pekerjaan di kantor yang padat karena Renovasi dan banyaknya permintaan kredit.. dan juga karena Aku harus ke Jogja menemani putri cantikku yang diterima di TekKim UGM. Sebenarnya putriku itu juga diterima di TekKim UI tapi putriku tetap meminta untuk diijinkan  ke UGM. Sebenarnya aku sih kurang rela tapi ya sudahlah.. biarlah putriku melangkahkan kaki sesuai keinginannya. "Kenapa mami tidak memaksaku di UI, kalau mami paksa aku pasti menurut", begitu pernah putriku berkata. Ah.. aku tak pernah mau memaksakan mimpiku pada anak-anakku.. anakku punya mimpi sendiri, biarlah ia yang memilihnya. 

Aku tak mau membuat kesalahan untuk kedua kalinya. Dulu putriku yang pertama aku tahan sehingga tak jadi berangkat ke Newyork, padahal ia sudah diterima di FIT. Setiap bicara tentang mimpinya aku seperti orang yang paling bersalah dimuka bumi ini. Aku yakin suatu saat putriku akan terbang ke Newyork dan yang tinggal dirumah hanya aku, Yo dan bungsuku My Baby. "Aku akan kesepian tanpa Tessa.. aku mau nyusul Tessa ke Jogja.. aku mau masuk kedokteran di UGM," begitu kata My Baby....ah benerkan..semua akan pergi meninggalkan aku dan Yo.. mereka akan mengejar mimpi-mimpi mereka. 
dengan jaket UGM... cantiknya

Anak-anakku bukanlah pemimpi yang hanya bermimpi. Setiap langkahnya dipikirkan masak-masak. Dari kelas 1 SMA putri cantikku sudah menentukan tempat kuliahnya di Jogja. "Mami.nanti aku mau kuliah di UGM.. aku suka sekali melihat kampusnya.. suasananya.. dan disana kan biaya hidup tidak mahal.." Saat itu aku menganggapnya sepele..ah paling hanya keinginan sekejab.. mana berani putriku pergi tanpa aku.. mana berani putriku tidur sendiri.. mana berani dia berada di kota yang tak jelas arah untuk dirinya. "Mami aku mau masuk Teknik Kimia.. kalau Kedokteran rasanya terlalu lama dan aku tak terlalu yakin nanti kedepannya.. rasanya agak sulit. Aku ingin yang cepat bekerja.."begitu pernah putriku berkata. Lagi-lagi kupikir..ah masuk fakultas negeri itu kan untung-untungan.. belum tentu nanti akhirnya masuk kesana.. karena itu aku selalu takut jika mimpinya tak jadi kenyataan. Tapi putriku memang tak seperti aku. Setiap keinginanya pasti dipertanggungjawabkan dengan baik. Aku sampai kadang takut dengan semangatnya yang terlalu menyala-nyala.. aku takut putriku kecewa. Tapi ternyata dia mampu membuktikannya.. bahwa putriku serius dengan pilihannya.
"Aku sudah mantap di UGM mami.." katanya mengambil keputusan. Aku hanya mengingatkan bahwa keputusannya mengikat sampai lima tahun kedepan. "empat tahun mami..terlalu lama lima tahun" protesnya.. "ya.. apapun yang terjadi lancar atau tidak lancar..mengikat sampai lima tahun..kita berharap semua baik-baik dan lancar..".

Akhirnya kami berburu kost di Jogjakarta. Semua jalan kami telusuri untuk mendapatkan kost yang sesuai untuk putriku. Kucoba untuk berjalan kaki, kucoba untuk naik ojek. Kuteliti satu persatu apakah dekat fotocopy, laundry, penjual makanan, mart, pangkalan ojek dan halte bis.
 
Sekarang bulan Agustus berjalan satu demi satu harinya. Makin mendekati tanggal 20 makin aku gelisah. Kenapa ya aku tak memaksakan saja kehendakku agar dia di UI saja..kadang penyesalan itu muncul. Saat tidur sering ku menatapnya.. badannya yang kurus karena pikirannya hanya tertuju pada mimpinya.. karena kegelisahannya yang tak lulus jalur undangan. "Aku siswa terbaik di sekolahku.. tapi aku tak masuk jalur undangan.. bagaimana kalau aku tak lulus juga nanti.. pasti aku dan sekolahku amat malu.." katanya sambil berurai air mata. "Aku lebih baik tidak jadi siswa terbaik saja mami..tapi aku lulus.." Ahhh.. aku juga sedih luar biasa dengan kegalauannya ini. Jantungku juga ikut berdetak-detak tak karuan. Sekarang semuanya sudah menjadi nyata.. dan aku yang makin gelisah..

Di pesawat saat perjalanan pulang aku melihatnya putriku makin mantap dengan pilihannya. Segudang rencana ia ceritakan padaku termasuk keinginannya untuk mendapatkan beasiswa.  Senang hatiku mendengarnya.
 
"Ini adalah Awal Tessa.. bukan akhir perjuangan..Perjalanan mimpimu sudah dibukakan Tuhan.. sekarang kakimu akan mulai melangkah.. Mami yakin ... Komitmenmu.. tekadmu.. niatmu.. janjimu untuk selalu di jalan Tuhan..akan membuat mimpi ini semakin nyata..."

Ohhh..kegelisahan pergilah.... aku ingin melepasnya dengan rela agar putriku juga tak gelisah nanti disana...