Biar Disapu Ombak

Biar Disapu Ombak
Lupakan.. lalu semuanya akan selesai...

Selasa, 25 Maret 2014

Aku sudah mampu menghapus air mataku sendiri

Malam ini,
saat menembus malam dalam derasnya hujan..
kejadian bertahun-tahun lalu terkuak kembali

Saat seseorang dengan setia
menemaniku mengikutiku menembus malam
sampai tepat di depan rumahku..

Dulu aku selalu berharap
Dia akan melangkah kembali kehadapanku
Menepati semua janji-janjinya..

Sampai seorang Hypnoterapis menyadarkanku
Tugasnya sudah selesai untuk menghapus airmatamu
Tuhan sudah yakin, kamu mampu menghapus airmata itu sendiri..
Lepaskan..

Kuhapus airmataku..
Ya aku sudah mampu menghapusnya sendiri
walau aku belum mampu melepaskan dia dalam kelamnya malam...



========
Terima kasih untuk seseorang yang telah mau berjalan bersamaku disaatku limbung
Menghapus airmataku..menemaniku menembus malam yang kelam...
lalu menghilang dalam pekatnya malam...



http://sugengrahmanto.wordpress.com/2013/06/28/7-keajaiban-setelah-menangis/

 
Cerita yang terpotong, terpotong-potong..tinggal sepotong



Sabtu, 22 Maret 2014

OS1 pun Bisa Cemburu


Sebenarnya aku bukan pengamat perfilman. Flm apa saja yang sedang tayang dan mana yang berkualitas pun aku tidak tahu. Memalukan sih tapi biar aja deh. Rata-rata aku nonton film karena terprovokasi. Oleh iklan, atau kata teman. Teman bilang bagus ya berarti bagus. Walau nanti di dalam Studio XXI or Blitz aku tertidur, aku tak pernah menyesali keputusan yang aku buat untuk memilih film berdasarkan kata teman atau kata iklan.

 http://www.herthemovie.com/#/post/74084776384/brothertedd-her-movie-poster-by-tom-vanleenhove

HER.. ini juga tertonton karena provokasi seorang penulis berkaliber di Marketing, bukan penulis novel apalagi puisi. Mungkin aja sih dia bisa nulis itu semua, tapi yang jelas 50 buku yang sudah beredar setahuku belum ada yang berisi novel apalagi puisi. Kalaupun dia menulis resensi film jelas pasti pakai kacamatanya sebagai seorang konsultan di bidang marketing. Bisa dibayangkan Konsultan Marketing menulis resensi film.. Nah.. pasti yang baca jadi luar biasa penasaran.
Penasaran ?? nih baca aja tulisannya..biar aku gak perlu cerita kayak apa kita dibikin penasaran..
Sabtu kemarin sebenarnya rencananya cuman pengen denger pemaparan cenayang kita mbak Wulan soal Ekspor dan soal Coklat. Selanjutnya kopi darat. Tapi karena penasaran dengan si "HER" akhirnya aku ganti memprovokasi teman-teman untuk menonton HER. Putriku tak terlalu berminat soalnya. Putriku itu selalu berpendapat, kalau teman mami bilang bagus..pasti gak bagus untuk putri-putriku, itu selera orang-orang yang sudah berumur.. hmmm..

My baby bilang.. itu film sudah lama diputarnya mami.. kenapa mami baru penasaran sekarang. Sulungku cuman menanggapi sekilas, aku gak tahu mami gak pernah dengar. Dan jelas mereka gak akan mencari tahu, karena pendapat teman mami berarti pendapat orang yang sudah berumur..apalagi diajak nonton. 

Akhirnya setelah berhasil memprovokasi 7 orang teman, 6 diantaranya Jomblo, pergilah kami beramai-ramai ke Gading XXI. Gak sadar umur juga sih.. rasanya. Tapi biarlah. Daripada nonton sendirian kan lebih baik nonton rame-rame.

Karena antrian kami masuk studio terlambat. Seharusnya XXI punya counter khusus untuk film yang jam tayangnya udah mepet.Jadi gak buang waktu untuk ngantri. Ternyata yang nonton juga cuman setengah dari isi studio. Bener juga kata my baby ini film udah lama tayang.. atau film ini rada-rada berat ya.. or bosenin kali ya, bahkan 2 orang disebelahku sudah cap cus sebelum film berakhir.

Film yang katanya buat remaja ini, ternyata banyak juga adegan Hot nya.. wahhh.. gimana ini. Belum lagi desahan-desahan suara wanita termasuk Samantha. Dapat dipastikan setelah selesai nonton yang di bahas adalah soal "ekor kucing".  Kok mas Siwo gak ngomong sih kalo ada "ekor kucing" nya.. atau itu "ekor kucing" maksudnya apa ya.. hehehe.. gak penting kan.. tapi nyangkut dengan rapi di otak para jomblo-jomblo itu...termasuk di otakku hahaha...

Aku gak terlalu tahu siapa itu Spike Jonze, gimana sepak terjangnya di film. Her ini salah satu karya filmnya. Masuk nominasi best picture di ajang Academy Award dan best screenplay di Writers Guild of America dan Golden Globes. Her ini katanya cerita teknology dimasa depan dimana entar bakalan ada "Digital Love". Entah tahun berapa.

Walau judulnya Her, tapi yang jadi pemeran utama yang keliatan adalah Joaquin Phonix yang memerankan Theodore Wimbley seorang penulis buku. Dia baru saja mengalami fase pisah ranjang pisah rumah dengan istrinya, Catherine (Rooney Mara). Pasca cerai walau surat cerai belum di tanda tangani, Theodore hidup dalam kegalauan dan kesepian. Dia makin merasakan hidupnya monoton.. Suatu hari dia tertarik dengan OS1 dan kemudian menginstalnya., katanya sih itu software untuk mendampingi manusia dan punya intelejensi  tinggi banget.

Setelah ditanya macam-macam soal kehidupannya termasuk soal mama nya, OS1 yang awal bersuarakan pria, berganti suara wanita atas permintaan Theodore. Taraaa... OS1  memperkenalkan dirinya sebagai Samantha (Scarlett Johansson) dengan suaranya yang mendesah nan seksi. Samantha ini menjadi sahabat yang baik, yang bisa mengerti Theodore, karena dia punya intelejensi tinggi sehingga bisa mengeolah seluruh data di komputer Theodore, sehingga Samantha bisa memahami Theodore, mengerti, dan yang jelas dia pendengar yang baik.

Hidup Theodore menjadi penuh semangat, apalagi Samantha ini juga lucu dan gimana gitu...  Theodore punya teman bicara, teman curhat sampai bisa jadi teman dalam soal sex walau hanya dalam kata-kata saja..tapi kan bisa diimajinasikan... hehehe. Pria itu kan paling mudah tertipu oleh suara.. begitu suaranya indah, mendesah dalam pikirannya pasti terbayang wanita cantik dan seksi. Bisa dibayangkan kan gimana Theo yang tiap hari ber Hai-Hai dengan Samantha .. merasa Samantha bisa menjadi teman curhat yang baik...gak pernah berantem.. menjadi jatuh cinta pada Samantha. Dan ternyata Samantha juga bilang "cinta".

Dimulailah percintaan yang dirasa amat sempurna ini namun rada aneh buat kita. Penuh pengertian, saling memahami, yang jelas gak pernah berantem. Bahkan saking kepengen merasakan elusan dan pelukan Theo, Samantha sampai mencari wanita yang mau menjadi tubuh Samantha. Wanita Boneka itu datang dan diam saja tak bersuara, yang keluar adalah suara Samantha, dengan desahannya. Tapi mana bisa sih Theo bercinta dengan tubuh orang lain sementara Theo merasa Samantha berada disitu. Sudah bisa ditebaklah semua berakhir dengan gak indah. Gagal total.

Saat benih-benih cinta itu tumbuh subur, ceritanya menjadi lain. Mulai ada marahan, mulai ada cemburu. Samantha terus terang kalo dia cemburu pada Catherina mantan istri Theo. Dan Theo pun cemburu pada OS1 bersuara pria teman Samantha. Apalagi saat tahu Samantha itu ternyata OS1 yang harus melayani 8000 lebih manusia dan bercinta dengan 641 pengguna OS1. Shock.... 

Diakhir cerita entah karena apa Samantha ini tiba-tiba raib bersamaan dengan raibnya OS1. Sedih pasti. Amy sahabat Theo yang setelah bercerai dengan suaminya juga berpacaran dengan OS1 merasakan hal yang sama. Film ini ditutup dengan surat untuk Catharina.. sebuah kesadaran akan bagaimana cinta itu seharusnya.
Cinta gak akan jauh dari cemburu. Kalau gak ada cemburu perlu dipertanyakan cintanya.  OS1 yang jelas-jelas hanya mesin canggih saja bisa cemburu. Apalagi pasangan kita, sangat wajar jika cemburu.
http://www.dailyevolver.com/tag/her-the-movie/

Kalau mas Siwo bercerita soal film dengan memandanganya dari "BIG DATA"  dan Samantha yang katanya bisa menggusur profesinya, aku lebih memandang dalam hubungan antara dua orang dalam komunikasi. Karena aku gak ngerti soal film dari soal lagunya sampai sutradara,  Yang pasti pemandangannya indah dan baju yang dipake Theo rata-rata warna orange...hihihi itu doang.Aku juga gak ngerti soal Komputer, Algoritma, Artificial Inteligence, Integral, etc etc..apalagi soal prediksi ditahun 2045 katanya bakal ada mesin kecerdasan yang lebih cerdas dari kecerdasan manusia..suer gak ngerti apa-apa.

Yang aku tahu.. intinya ..Kita perlu teman bicara yang mau mendengar, yang gak banyak komentar, yang gak sok tahu, tapi dia banyak tahu tentang kita, memahami perasaan kita, selalu bicara dengan lembut, gak pake marah-marah. Tapi apa iya sih ada orang kayak gitu, wong OS1 Samantha aja bisa cemburu kok, bisa selingkuh pula...bahkan sama 641 pencinta OS1. 

Pengennya sih kita menuntut pasangan kita untuk bisa kayak Samantha. Tahu semua, walau bisa melayani memberitahu ada email, membalas email, dan mengerjakan sesuatu, toh Samantha gak bisa kan bikinin makanan, menyedu teh atau bantuin angkat barang, apalagi merawat kita saat sakit. Kadang kita suka lupa apa yang telah dilakukan sama pasangan kita saat komunikasi udah gak nyambung. Komunikasi gak nyambung dianggap tamat riwayat, menguap semua jerih payah pasangan kita. Padahal sih itu cuman ego kita aja. So ndak ada manusia yang sempurna.

Kita maunya pasangan kita ngerti, update terus terhadap apa yang kita kerjakan dan apa yang kita rasakan. Tapi gimana coba caranya, wong kadang-kadang kita lebih suka curhat ma diary, or sama sahabat. Berlebihan banget kalo kita nuntut pasangan kita ngerti soal kerjaan kita tapi kita ceritanya aja sepotong-sepotong. Kita lebih seneng curhat ma temen yang kita anggap udah ngerti jalan ceritanya, udah kenal orang nya, jadi ceritanya bakalan nyambung.

Kita nuntut pasangan kita ngerti kalo kita lagi sakit gigi, lagi laper, lagi pengen nulis gak pengen digangguin, lagi pengen jalan ma temen-temen.. tapi kita sendiri juga gak bisa ngertiin kalo dia itu juga pengen dipahami kalo dia lagi pengen cerita pas kita lagi sakit gigi, pengen nanya kita pengen makan apa pas kita laper dan dia juga pengen diceritain apa yang lagi kita pengen tulis, apa yang lagi pengen kita kerjain dan apa yang kita pengen kerjakan bareng temen-temen. Pasangan kita bukan malaikat yang bisa ngerti apa isi kepala kita.

Aku cuman pengen bilang.. bersyukurlah jika kita masih didampingi pasangan yang sehat walau gak sempurna. Banyak orang yang sendirian merindukan pasangannya yang telah pergi atau telah tiada, walau pasangannya itu juga gak sempurna. 

Dan saat ku menatap Yo disebelahku, yang bisa berbicara tapi tak mampu menuangkan apa yang dirasakan dan apa yang dipikirkannya.. yang bisa mendengar apa yang kukatakan tapi kadang tak memahami apa yang mengalir dari setiap kalimat yang keluar dari mulutku. Bukankah itu sangat amat sangat menyiksa... Bagaimana kami juga harus bekerja keras untuk memahami, mengerti dan bersabar untuk mendengar setiap kalimat yang diucapkannya. Betapa sulitnya komunikasi diantara kami.. Jadi sekali lagi kukatakan.. BERSYUKURLAH.. jika pasangan kita bisa marah bukan hanya karena ucapannya tak dimengerti, bisa cemburu, bisa cerita walau sepatah dua patah kata, dan bisa menyatakan cintanya walau dalam bahasa yang amat sederhana...

Saat pasangan kita cemburu ingatlah.. OS1 si suara seksi Samantha saja pencemburu..
Terimalah pasangan kita apa adanya.... gak ada yang sempurna.. dia yang disebelah kita adalah yang sempurna... dan setertarik apa pun kita pada orang lain.. satu saat kita akan menyadari..bahwa pasangan kitalah sebenarnya yang paling mengerti kita.. walau dia berada dalam kondisi seperti apapun... Ini juga berlaku untuk persahabatan kita dengan sahabat-sahabat kita..

Hahaha.. jadi sok tua... bukannya emang sudah tua..wkwkwkwk..
http://www.herthemovie.com/#/post/74082148109/bioshockalacka-guess-what-movie-im-obsessed

Semoga aku bisa menjalani apa yang ada dihadapanku dengan kesabaran yang tinggi walau dengan komunikasi yang terbatas.. dan dengan keikhlasan untuk menerima Yo apa adanya..sampai kapan pun juga.. Bisa memahami hal yang sulit dipahami.. Bisa menerima hal yang sulit diterima. Amin.

Kamis, 13 Maret 2014

Bank Perkreditan Rakyat (BPR) SETORI.. cerita sedih di hari Rabu..

Saat rapat dengan teman-teman panitia Seminar, tiba-tiba muncul ide untuk mendokumentasikan pendapat masyarakat tentang BPR. Awalnya saya agak takut-takut juga, seumur-umur belum pernah saya shooting di jalanan, paling-paling videoin kegiatan putri-putri saya atau tingkah laku Yo. Belum lagi membayangkan ditolak-tolak sama masyarakat karena males ditanya-tanya, apalagi kalo disangkain saya ini sales kartu kredit.. wah makasih deh. 
Tapi demi mendapatkan bukti bahwa memang masih banyak masyarakat yang belum dikenal BPR akhirnya ya saya jalankan juga ide saya itu. Kan sudah biasa..siapa yang punya ide dialah yang harus mengeksekusi.

Akhirnya tiba lah hari petualangan itu...

Pagi-pagi sudah hujan deras.. mas Abdu yang janji mau bantu saya batal berangkat, karena gak mau kameranya basah. Dia baru mau jalan kalo udah gak ujan. Ih parah banget ini orang. Hujan pun juga ikut-ikutan bikin sesek.. sampai jam 9 nggak reda-reda juga. Saat hujan reda aku tagih janji mas Abdu.. tunggu ditunggu gak muncul-mundul juga..  Ah sudahlah aku jalan saja duluan.. kapan lagi.

Akhirnya dengan ditemani oleh Ali.. dengan handycam di tangan mulailah kami mencari mangsa. Setelah lihat situasi dan kondisi akhirnya diputuskan untuk mewawancarai bapak-bapak yang menjaga counter HP. Ya ampun susahnya ya membujuk orang. Tu bapak udah ketakutan, dia bilang dia gak mau ngutang.. ih apa iya muka saya ini muka nawarin utang apa ya.. belum-belum udah curiga begitu. Pokoknya itu bapak menolak abis-abisan. Beginilah nasib wartawan amatiran. Buat dapat narasumber susahnya setengah mati.

Tapi gak boleh putus asa..

Mencari target lagi.. kayaknya yang punya warung solo ni mau baik hati, masak kenal masih nolak juga sih.. akhirnya tanpa berat-berat membujuk ibu yang sudah tua itu mau untuk menjadi bintang film dadakan.
Tiba-tiba si Abdu muncul dengan kamera besarnya.. begitu melihat kamera besar.. mulailah orang-orang disekitar situ menjadi seolah-oleh mupeng untuk ditanya-tanya. Dari TV mana mas.. wahh mau di shooting ni.. Supaya gak bohong kami jawab aja Media BPR.. oh itu TV juga ya.. hahaha..diem aja deh daripada entar malah kebanyakan bohong.. tapi dalam hati sih amin-amin aja.. ya sapa tahu kan Media BPR besok punya Stasiun TV.
Ternyata gak rugi nih manggil si Mas Abdu dengan kamera gedenya. Nih kayak begini kameranya. Sepertinya sih udah rada jadul ya.. karena masih pake kaset.. tapi gak tahu deh... yang penting kayak wartawan aja...

Setelah dengan mudahnya mendapatkan mangsa di Jakarta, sasaran berlanjut ke Bekasi Timur.. kenapa kesana.. karena disana BPR mudah sekali di temui.. pengen tahu gimana pendapat masyarakat yang ada di Bekasi Tmur.

Akhirnya dapatlah satu lokasi yang banyak pengusaha Mikronya. Dan pas berdekatan sekali dengan BPR IntiDana... saya sebut ajalah ya namanya... Semuanya seperti nya lagi pada sibuk, akhirnya terpilihlah satu salon yang berada disitu. Salon kecil. Nah ternyata yang punya ini bikin bingung manggilnya.. dipanggil tante bukan tante..dipanggil om kok kayak tante.. kita panggil aja deh si Posito..ya.. soalnya mbak eh mas Posito ini sering banget ngomong soal Posito.. tau gak posito apaan... itu lo deposito. Gelang cincinya seabreg-abreg.. pake celana pendek nan seksi pula. Pak Jajang temenku yang menyusul ke lokasi, sibuk foto-foto aku pikir dia memotret aku yang sedang nanya-nanya.. nggak tahunya malah motret mama eh papa Posito. Sepeti yang udah-udah ditanya sebelumnya.. tahunya bank BRI, BNI.. begitu ditanya BPR kagak tahu.. BPR tau gak singkatan apaan ntar kita kasih hadiah deh.. iiihhh apa yaaaaaa... Bank Persatuan Rakyat.. ihhh gak tauuu ah... 
Dideket sini ada gak BPR... nggak ada.. nggak ada.. nah looo.. padahal di sebelahnya ada BPR IntiDana. Wah jangan-jangan tetangga ku juga gak tahu kalo sebelahnya BPR juga ya...

Selesai mendengarkan soal Depositonya mama eh papa Posito, pas keluar muncul anak-anak SMP.. mulailah kita bertanya.. dari tiga anak itu gak satupun yang tahu BPR. Ya oke lah masih SMP. Nabung dimana dek... di ibu guru.. tahu bank gak dek.. nggak tahu.. kan nabungnya di ibu guru. Wokelah kalo begitu...

Di deket situ ada bengkel.. nah siapa tahu ni pinjem ma BPR.. setelah ngomong ngalor ngidul.. bertanyalah soal BPR.. nggak tahu juga.. ih gimana.. disebelahnya ada BPR kok ga tahu sih ya.. BPR itu singkatan apaan yaaaa... eh apaan.. ih kok malah nanya ma temennya. Di deket sini ada BPR nggak pak.. nggak ada.. adanya di Tambun.. yeee ni gimana.. BPR bagus dan tulisannya segede gajah gitu ya gak liat. Yuk pak ikut saya.. di depan situ ada BPR.. nggak ah.. ntar saya liat sendiri aja..
Ya sudah lah.. cap cus lah kami dari sana dengan hati rada-rada miris... petualangan belum selesai,, pasti masih adalah yang tahu...

Pak Jajang membawa kami ke arah pasar Modern di deket Grand Wisata. Di depan Mac Donald (tulisannya gimana sih..kok jadi error gini) ada segerombolan tukang ojek. Siapa tahu ni tukang ojek ada yang pinjem or nabung di BPR. Melihat kamera besar, dari tiga tukang ojek yang lagi ngaso..berdatanganlah orang yang lewat.. hahaha kayak apaan aja ni kita.. itulah berkah kamera gede ini..
Wah masuk TV.. masuk TV.. ih.. siapa juga yang bilang kita ini dari Stasiun TV..  Setelah nanya ngalor ngidul akhirnya sampailah pada sesi penting..  BPR apaan hayooo.. ohhh itu Badan Penyuluhan Rakyat... huuuuaaaaaa..nangis bombai deh kita. Entah kenapa tiba-tiba pertanyaan nyelonong ke LPS.. emang gak pernah liat iklan TV tentang LPS ya... Kita sibuk ngojek buuu.. kalo nonton paling nonton YKS.. Ada yang nabung gak disini.. istri saya bu nabung...nabung dimana pak.. gak tau tu dimana.. dibukunya sih ada tulisannya Kreo Lestari.. menurut bapak itu Bank Umum apa BPR.. Wah gak tahu saya bu kan yang nabung istri saya.. ih puyeng juga niiii... Jauh amat pak nabungnya .. jauh gimana bu.. itu lo bu ada di pasar Modern.. 

Akhirnya.. petualangan berlanjut dengan ngubek-ngubek pasar Modern dengan harapan ketemu nasabah BPR atau paling gak orang yang tahu BPR. Ternyata oh ternyata... 
Sebelum nanya-nanya kami nyoto dan nyate dulu karena jam sudah menunjukkan jam makan siang. Pas makan ada ibu-ibu nawarin obat pelangsing badan.. hmmm mentang-mentang aku jumbo ya.. ternyata obat pelangsing itu pernah aku minum dan bukan menambah langing tapi menambah langsung. Maap ya bu.. begitu kataku.. sambil dilanjutkan dalam hati.. udah gak minat kurus bu..

Selesai nyoto dan nyate.. kami iseng-iseng nanya kasir di warung ini. Jawabannya ya gitu deh.. nggak tahu nggak tahu dan nggak tahu.. bahkan ada bpr disitu apa nggak juga nggak tahu. Tetep semangat. Ketemu 3 bapak-bapak.. waaah kayaknya ini pasti tahu.. Tahu BPR pak.. Bank Perkreditan Rakyat.. waah senyum langsung mengembang disetiap muka kami.. akhirnyaaaa. Disini ada BPR pak.. waah nggak ada.. adanya di Lombok.. wuaaa jauh amat yak.. Di Madiun juga ada jawab yang satunya.. Emang disini gak ada pak.. Nggak ada.. oh oh oh.. ya udah deh.. makasih.

Jangan putus asa.. sudah ada titik terang.. secercah harapan.. yuk sekarang nanya yang menengah atas.. Masuk toko bagus.. Nggak mau ditanya-tanya.. takut KPK katanya... haahh.. jauh amat ya.. Setelah bilang makasih langsung cus ke tengah-tengah pasar.. 

Ternyata dari 5 orang yang ditanya di los tengah itu.. 1 tahu BPR Kreo Lestari tapi gak merasa perlu untuk mencoba, 2 nasabah BPR Kreo Lestari yang senang dengan ATM nya Kreo Lestari.. Angkat Telpon Mlayuu.. seneng kalo nabung dijemput uangnya, 2 lagi gak tahu kalo ada BPR Kreo Lestari dan mnurutnya gak pernah ada tu staff BPR itu nawarin sesuatu.. 
Yaa lumayan kan... 3 dari 5 mengenal BPR artinya 3/5 artinya 75% ya.. coba diitung lagi deh pake kalkulator bener gak 75%.

Terus pendapat masyarakat tentang LPS di BPR bagaimana.. kalo bank umum saya yakin kalo di jamin.. tapi kalo BPR saya kurang yakin.. Yuk mari kita nangis bareng-bareng...

Ditulis lagi saat hujan deras.. kilat menyambar-nyambar.. (heran kenapa setiap nulis BPR ko pasti jadi ujan deres ya... seperti hatiku yang lagi nangis).. gimana yaaa cara ngenalin BPR.. wong LPS aja yang udah sering muncul di TV aja masih banyak yang gak tahu... jadi di TV itu juga ga jaminan... Laluuuuu... apa ya yang harus kita lakukan.. ngenalin BPR sendiri aja susah ke tetangga apalagi nasional.. Ini sebuah PR yang harus dicari jawabnya.... 

https://www.youtube.com/watch?v=sC-8GxEbzxI



Selasa, 11 Maret 2014

Apabila Pungutan tetap Dipungut OJK

Pungutan OJK sudah ditetapkan, media massa sudah menggembar-gemborkan tentang pungutan. Kehadiran OJK yang baru seumur jagung dan berita tentang pungutannya, juga menyebabkan OJK dijegal untuk dibubarkan melalui gugatan dari Lembaga Independen Kedaulatan Ekonomi Bangsa.

Tim Pembela Kedaulatan Ekonomi Bangsa Ahmad Suryono melalui gugatannya kepada Mahkamah Konstitusi (MK) meminta OJK dibubarkan karena landasan hukum berdirinya otoritas tersebut bertentangan dengan Pasal 23D Undang-Undang Dasar (UUD) 1945.

Dalam pasal itu menyebutkan, pengaturan dan pengawasan perbankan dilakukan oleh bank sentral dalam hal ini adalah Bank Indonesia (BI). Sementara OJK saat ini mengawasi industri keuangan seperti perbankan, pasar modal, dan Industri Keuangan Non Bank (IKNB).

Selain itu pungutan OJK dikatakan sebagai membebani dan pungutan preman. Yang mengatur dan mengawasi kok dibayar oleh yang diatur dan diawasi. Memang kadang-kadang rada aneh, tapi ya begitulah adanya.

Berapa sih pungutan yang dipungut dari BPR,  Yuk kita berhitung.. katakanlah ada 1635 BPR dikurangi dengan 301 BPR dgn predikat terbaik yang punya assets 25M keatas, maka ada (1635 - 301) x 10.000.000,00 (minimal pungutan u BPR) = Rp. 13.340.000.000 dan katakanlah ada 6 BPR dengan assets 500 M ke atas, hitung saja 6 BPR x (500.000.000.000 x 0,045%) = 1.350.000.000, dan ada 100 BPR dng assets 100 M ke atas, kita hitung 100 x (100.000.000.000 x 0,045%) = Rp. 4.500.000.000,00, dan ada 85 BPR ber assets 50 M, hitunglah 85 x (50.000.000.000 x 0,045%) = Rp. 1.912.500.000,00 dan ada 145 BPR ber assets 25 M ke atas, anggap saja 145 x (25.000.000.000 x 0,045%) = 1.631.250.000. Jadi total pungutan di BPR = 22.733.750.000 dalam setahun. Ini tentu saja hitungan yang minim, tak melihat assets BPR satu persatu.

Nah apabila Pungutan itu tetap dipungut ? apakah kita akan melawan regulator dengan tidak membayar. Rasanya kita di Perbankan selalu tunduk pada peraturan regulator. Lalu apa yang akan kita lakukan ? 
Perlu diingat juga kita mempunyai kewajiban untuk menjalankan :
Peraturan OJK No. 1/POJK.07/2013 Tentang Perlindungan Konsumen Sektor Jasa Keuangan yang diundangkan tanggal 6 Agustus 2013 dan Surat Edaran Otoritas Jasa Keuangan No. 1/SEOJK.07/2014 Pelaksanaan Edukasi dalam Rangka Meningkatkan Literasi Keuangan Kepada Konsumen dan / atau Masyarakat, yang ditetapkan tanggal 14 Februari 2014. Tentu saja Edukasi ini memerlukan biaya.


Ya.. kita mempunyai kewajiban untuk membuat rencana edukasi dan evaluasi pelaksanaan rencana edukasi yang harus dikirim ke OJK. Kewajiban ini tentunya ada sanksinya jika tidak dilakukan, berikut sanksinya :
a. Peringatan Tertulis
b. Denda
c. Pembatasan kegiatan usaha
d. Pembekuan kegiata usaha
e. Pencabutan ijin kegiatan usaha.
dan perlu kita ketahui bersama bahwa sanksi b,c,d,e dapat dikenakan tanpa harus didahului oleh Peringatan tertulis lebih dahulu.
Dan sanksi denda bisa juga bisa dilakukan bersama-sama dengan sanksi c, d, e.

Apabila Pungutan OJK tetap harus dipungut dan Rencana Edukasi harus dijalankan oleh PUJK termasuk disini BPR, lalu apa yang akan kita lakukan. Hanya membayar saja kewajiban itu dan melaksanakan Edukasi seadanya saja? 
Kenapa kita tidak memanfaatkan untuk mengkampanyekan BPR dan mem "Branding" BPR kita. Bersama-sama dengan OJK kita lakukan Edukasi produk BPR dan Kampanye untuk mengenalkan BPR kepada seluruh Masyarakat. 

Lalu bagaimana caranya ? Kita bukan ahli marketing apalagi Branding, gak ada salahnya kita bertanya pada Pakar Marketing dan Branding.. bagaimana caranya.. yang LOW BUDGET tapi HIGH IMPACT..bisa mengedukasi tapi sekaligus Kampanye. 
Dan kita juga bisa meminta OJK bahwa pungutan yang masuk ke OJK dapat dikembalikan kepada Industri BPR dalam bentuk Edukasi dan Mengenalkan BPR kepada seluruh masyarakat, karena Bukankah OJK mempunyai kewajiban juga meng"edukasi" masyarakat tentang Lembaga Keuangan.

*ini saya tuliskan apa yang harus dilakukan OJK :
EPK OJK menyelenggarakan acara edukasi dan sosialisasi yang menjadi bagian dari peran edukasi dan perlindungan konsumen. Kegiatan ini diselenggarakan di berbagai kota serta mengundang berbagai lapisan masyarakat, seperti ibu rumah tangga, pengusaha kecil, pedagang, dan para akademisi (mahasiswa dan dosen).

Aktivitas sosialisasinya meliputi:
Produk Keuangan
Pengelolaan Keuangan
Lembaga Jasa Keuangan
Investasi Ilegal

Untuk memperkuat daya saing dan ketahanan BPR menghadapi pasar tunggal ASEAN,  kita di BPR selalin memperkuat sumber daya manusia (SDM), teknologi, kita juga harus memperkuat  marketing komunikasi. Selain itu, dari semua persiapan yang ada faktor teknologi menjadi bagian yang terpenting dalam mengadapi pasar bebas yang akan dihadapi Indonesia. Memperkuat teknologi secara otomatis akan memperkuat daya saing.

Memang nasabah BPR itu rata-rata UMK, ada di daerah dan kebanyakan nasabah kecil, namun  di era saat ini marketing komunikasi perlu dikembangkan  untuk memenuhi kebutuhan nasabah dan juga investor. Kita akui bahwa BPR kita sebagian besar  belum menerapkan marketing komunikasi dengan baik.

Marketing Komunikasi adalah proses menjalin hubungan yang saling menguntungkan antara perusahaan- karyawan -pelanggan dan merupakan upaya perusahaan memadukan dan mengkoordinasikan semua saluran komunikasi untuk menyampaikan pesannya secara jelas, konsisten dan berpengaruh kuat tentang organisasi dan produk-produknya. 
Bukankah ini juga yang diharapkan dari meng "edukasi" nasabah yang diwajibkan oleh OJK.


Kalau Edukasi bisa dilakukan bersama-sama, kenapa kita tak melakukannya bersama-sama, apa artinya edukasi jika kita lakukan sendiri-sendiri tak akan berdampak luas. Karena kita melakukan dengan cara kita sendiri-sendiri. Tapi kalau kita bersehati, saya yakin sekali semuanya akan lebih terarah dan berdampak yang luar biasa. Tapi sayang kadang-kadang kita lebih senang jalan sendiri-sendiri. Inilah yang memperlemah kita. Padahal kekuatan kita itu di "Community".

Kita didengar karena kita bersama-sama. Coba dengar suara hujan.. bayangkan kalo hujan hanya setitik saja, tentunya suaranya tak terdengar. Tapi begitu hujan deras dan diiringi gemuruh guntur .. bunyinya bisa mengusik siapa saja. Menyanyi sendiri dan menyanyi koor tentu efeknya juga berbeda. Pastinya lebih keras "Koor" bukan.

So.. kalo Pungutan ini tetap dipungut.. yuk kita galang kekuatan.. bukan untuk melawan, tapi kita bersatu menjadikan tantangan ini menjadi peluang.. Peluang untuk makin memperkenalkan BPR ke seantero negeRI.  Yuk kita gunakan semua saluran komunikasi yang ada untuk bercerita tentang BPR, tentang ke "lokal"an nya.. Saya jadi teringat saat saya mengikuti kelas Inspirasi Komunitas Memberi yang dilahirkan oleh Mas Yuswohady, ke Garuda Indonesia Airways. Bagaimana Garuda bisa bangkit dari keterpurukan, Bagaimana Garuda bisa menjadi yang terhebat di tanah air ini tanpa harus ikut perang harga antar maskapai. Garuda menawarkan sesuatu yang berbeda. Ketika kita terbang bersama Garuda maka kita akan disuguhi pengalaman khas Indonesia: sapa dan senyum khas Indonesia, makanan khas Indonesia, lagu daerah khas Indonesia dengan aransemen mutakhir Adi MS, sentuhan khas Indonesia. Dengan langkah ini Garuda sekaligus melakukan country branding “menjual” keunikan Indonesia ke masyarakat dunia. Sebuah strategi branding yang tak hanya smart, tapi juga mulia. Dan juga tak seharusnya kita antar BPR harus perang harga. Perang harga hanya akan membuat kita berdarah-darah.

Saya juga sempat terpana ketika mas Siwo, panggilan akrab mas Yuswohady tentang CSV nya Michael Porter mbahnya "Strategi" katanya. Creating Shared Value (CSV) adalah sebuah konsep yang mengharuskan perusahaan memainkan peran ganda menciptakan nilai ekonomi (economic value) dan nilai sosial (social value) secara bersama-sama (shared), tanpa salah satu diutamakan atau dikesampingkan. Memberikan solusi terhadap persoalan-persoalan ekonomi, sosial, dan lingkungan bukanlah pekerjaan sampingan, tapi haruslah embedded di dalam jantung strategi perusahaan. Bukan sekedar lipstik, bergitu paparnya. Beliau memberikan contoh Grameen Bank mengentaskan kaum papa melalui pembiayaan mikro bukanlah lipstik, tapi sudah menjadi core strategy-nya. 

CSV harus dilaksanakan dengan niatan mulia untuk memecahkan persoalan-persoalan sosial yang selaras dengan upaya untuk menghasilkan profit. Kata Porter, “companies can create economic value by creating societal value”. Jadi penyelesaian persoalan sosial tidak ditempatkan sebagai aktivitas sampingan, tapi dilaksanakan sepenuh hati sebagai bagian dari misi dan eksistensi perusahaan, begitu yang ditulis mas Siwo di Blognya.

Saya merasa omongan mas Siwo benar.. Bisnis BPR  harus mulai berbuat baik (“do good”) dan menebar kebaikan (“spreading goodness”). Berbuat baik bukan hasil dari polesan dan kepura-puraan; tapi yang betul-betul authentic dan muncul dari nurani yang paling dalam. Demi kebaikan Indonesia, demi kejayaan Indonesia.

Dapatkah BPR melakukan itu..? Menjual Keunikan BPR, sentuhan kekeluargaan dalam pelayanannya,  dan produk-produk yang dihasilkan oleh BPR adalah produk yang bisa memecahkan persoalan sosial yang selaras dengan upaya untuk menghasilkan profit... Edukasi yang kita lakukan adalah edukasi yang memecahkan persoalan di UMK yang kita biayai dan dimasyarakat, semakin mereka mengerti akan BPR, semakin mereka mengerti akan produk kita dan mengetahui kebaikan dan resiko-resikonya, semakin kita akan terhindar dari fraud dan kredit bermasalah.. 
 
Yuk kita mulai berbuat baik dan menebar kebaikan..


Ditulis saat hujan deras mengguyur Jakarta, dengan mata lelah karena semalaman membaca Peraturan dan Surat Edaran OJK.. sambil bermimpi.. kita bisa melakukan sesuatu yang hebat bersama-sama.
Dan tiba-tiba jadi teringat lagi tentang call centre 500277, kenapa ya call centre ini tidak kita manfaatkan untuk menjadi pusat Informasi tentang BPR dan tentang semua produk BPR.
Dan saya juga teringat pada tawaran Infomedia yang mengajak kerjasama Perbarindo DKI Jakarta, untuk mengedukasi nasabah BPR agar lebih berdaya dan optimal, dan mempertemukan antara UMKM yang satu dengan UMKM yang lain sehingga bisa bersinergi.
Mungkinkah gayung bersambut ???

sumber gambar : www.bi.go.id



Minggu, 15 Desember 2013

Tetaplah Menulis Untukku

Kamu tahu
Aku ingin kau membaca setiap tulisanku
Aku ingin kau tahu setiap detik hidupku
Tapi mungkin itu tak pernah terjadi
kataku tersendat-sendat

Aku tahu itu
Aku membacanya satu persatu
tak pernah satu hurufpun tertinggal
bisiknya pelan 

Tak perlu kau ucapkan itu
Aku ingin mengakhirinya
biar tak lagi ada tulisan untukmu
Amat berat ku ucapkan kalimat itu

Aku tak pernah mau mengakhiri
Tak akan pernah
Ucapnya sambil membalikkan tubuhku,, menatap tepat dibola mataku

Tidak.. kapan pun tidak
Biar kusimpan semuanya sendiri
Kupastikan itu tak akan terjadi
Tertunduk ku mengatakannya

Tidak..
Tetaplah menulis untukku..
sampai kapanpun...
desisnya.. dan mata itu tak pernah lepas menghunjam mataku

Diambilnya tanganku..

Sedetikpun aku tak permah sanggup melupakanmu..
sedetikpun tidak,,,
Jangan siksa aku dengan menanti2 tulisanmu
Tetaplah menulis untukku...

Airmata ini menetes satu demi satu...

Potongan dari cerita yang terpotong..
semoga ini bukan firasat...



SAMPAI BERAPA NATAL LAGI

Sebentar lagi natal..
Dan entah ini tahun yang keberapa
Natal dalam diam..

Sampai berapa Natal lagi
Diam ini ada..

Sampai berapa Natal lagi
Penantian ini..

Sampai berapa Natal lagi
Harapan ini..


Aku tak pernah tahu usiaku
Sampai berapa Natal lagi..




Sabtu, 14 Desember 2013

Kita Senang jika Bersama tapi sulit untuk Bersama

Semua pasti lebih seneng kalo mengerjakan sesuatu bersama2. Pergi aja kita ga suka sendirian. Apalagi disuruh jaga tenda sendirian pas jurit malam.. wah makasih deh. Kalo aku lagi ngajarpun mahasiswa senengnya kalo dikasih tugas ya tugas kelompok. Kita juga saat jadi mahasiswa maunya dikasih tugas kelompok. Intinya kalo bersama2 itu lebih enak. Urusan baju jg begitu kalo pergi rame2 pake seragam happy banget. Tapi kalo seragaman gak sengaja sama org yg gak janjian..rasanya gak suka.

Kebersamaan itu artinya ‘sama, bersama’. Sama artinya tidak berbeda alias seragam, ‘bersama’ berarti ‘tidak sendiri’. Jadi kita melakukan sesuatu bersama2.

Kenapa sih kita suka bersama2?? Kalo bareng2 itu ide lebih mudah digali, kita ini perlu dukungan, dan kalo bersama2 yg berat bisa jadi ringan.

Kebersamaan itu akan baik karena adanya kebutuhan yg sama bukan yg dipaksakan. Kalau sama kebutuhannya biasanya lbh mudah mencapai tujuan. Tapi kalo karena diwajibkan maka biasanya tujuan jadi susah tercapai.

Kebersamaan itu harus ada tenggang rasa.. komitmen untuk mencapai tujuan bersama, mau mengorbankan kepentingan pribadi dan mendahulukan kepentingan bersama, selalu mengarah pada kemajuan bersama bukan sebaliknya, jelas kemana kebersamaan akan dibawa, dan dibutuhkan proses untuk lebih memahami kebersamaan.

Dalam kebersamaan jgn sampai ada keinginan ingin menang sendiri, ingin hebat sendiri, berpikiran negatif dan curiga, mudah mengobral janji tanpa komitmen yang jelas, tidak tepat waktu, komersialisasi kebersamaan, saling menyalahkan, apalagi saling tuding.

Ternyata kebersamaan itu tidak mudah. Tapi tidak sulit jika kita mau. Makan bersamapun nyatanya tak bisa sama semua pilihan lauknya. Bahkan saat acara makan bersama ada juga yg tak mau makan krn sudah kenyang, tidak doyan bahkan ogah makan krn sakit gigi. Tapi karena semua bisa memahami kan itu tidak jadi masalah. Namun nyatanya dalam organisasi memahami kebersamaan tak semudah memahami makan bersama. Apalagi kebersamaan yg bukan krn kebutuhan tapi karena kewajiban. Jangankan menyatukan tujuan.. mengumpulkan iuran saja sulitnya setengah mati. Apa yang sudah dilakukan organisasi untuk kami begitu pertanyaannya.. dan lebih anehnya kalo hal itu ditanyakan oleh pengurus.. Tapi pernahkah kita bertanya.. apa yg telah kita lakukan untuk organisasi kita.. ??? Kalau kita pengurus sudahkah kita menjalankan tugas dgn baik ?? Kalo kita anggota sudahkah kita menjalankan kewajiban kita?? Mari kita mulai lebih dahulu dari kita.. jalankan kewajiban kita... percayalah.. semua hak kita akan mengikuti dengan sendirinya... buktikan itu.. Jika nanti tidak begitu.. ingatlah kembali bukankah kita berorganisasi karena ingin berbuat sesuatu untuk organisasi kita.. jadi mari kita mulai untuk berbuat.. kalau bukan kita yang berbuat dan menghargai organisasi ini lalu siapa lagi ???

\

Senin, 18 November 2013

Ini semua membuatku sesak..

Berorganisasi disini lama-lama bikin aku makan hati. Organisasi ini yang berisi direksi-direksi ini lama-lama seperti menyiksaku. Aku pikir dengan isinya direksi-direksi maka mental pemimpin akan ada disini. Ternyata tidak. Dari cara komunikasi yang sesukanya saja aku rasanya bisa patah hati. Bener-bener jauh dari cara orangtuaku mengajarkan aku. Kadang kalau aku kesal, nasihat orang tuaku seperti menguap entah kemana dan aku mengikuti saja pola komunikasi mereka. 

Coba bayangkan sebentar.. 
Jika SMS sudah berkali-kali tak juga dibalas, di telepon berkali-kali tak juga diangkat.
Katanya sudah punya BB dan Ponsel Android sampe Apple, tapi soal email saja bikin ribet, yang katanya belum bisa bukalah, gak masuklah etc lah yang bikin jadi sakit gigi.
Belum lagi BBM yang sudah bertanda centang R, tapi tak juga dibalas.
Diundang rapat sulitnya minta ampun, tapi habis itu mengeluh tak pernah dapat undangan. Padahal sudah jelas terima email, terima faks bahkan sudah menjawab konfirmasi yang jawabannya "diusahakan.. kalau keburu.. insya Allah.. selesai meeting baru bisa kesana".
Walau ditanya baik-baik tak menjamin hasilnya baik. Bisa kalimat tak terduga yang keluar sebagai jawaban. 

Ahh.. kadang aku sedih..
Dapat jabatan dapat amanah kok hanya mau ditulis namanya saja. Tapi begitu mau dihapus jabatannya dan diganti oleh orang lain yang mau berperan serta, bisa bikin geger dunia persilatan.
hah.. rasanya mau sesak aku menuliskan semua ini. Tapi aku memang sedang merasa sesak. Sedang merasa sedih. Oh seperti inilah yang ada di depanku.

Belum lagi tanggung jawab dikerjakan sudah meributkan uang transport uang lelah. padahal mungkin kalo di Kantor menasehati anak buahnya seperti ini "kerjakan nanti uang akan mengikuti..".
Rapat maunya ditempat bergengsi. Kalau undangannya di hotel mewah rasanya bak orang yang dihormati. Pelatihan di hotel yang kecil tapi resik nan asri pun dan pelatihannya sudah dikemas sebaik apapun tetap saja rasanya gengsi.
Baru dapat undangan dari BI, OJK etc lah.. bak rasanya orang yang terkenal. Tidak tahu dia namanya muncul karena direfernsikan oleh pengurus lain.

Rasanya kita itu keberatan jabatan Direksi. Tapi mental bukan mental pemimpin. Mengagungkan rasa hormat dari orang lain, penghargaan dari orang lain, tapi kita kurang bisa menghargai orang lain. Datang rapat sesukanya, tak bisa datang pun cuek saja. Bertanya kek tadi rapat membahas apa saja ya, lalu saya bagaimana ada yang bisa saya bantu gak ya.. hahhh boro-boro deh bakalan muncul pertanyaan seperti itu.

Belum ditambah Konflik yang bikin hati rasanya nelangsa. Bertanya-tanya setiap sebelum tidur, apa sebenarnya tujuan berorganisasi ini kalo isinya hanya mau hebat sendiri, mau menang sendiri, dan gak peduli aturan main. Sikat menyikat seperti hal yang lumrah. Jelek menjelekkan seperti makanan sehari-hari. Fitnah sana sini hal yang biasa.

Karena saat jaya sombong, saat jatuh pun juga jadi perguncingan. DOT lah.. Fraudlah.. Kredit bodong lah.. kalaupun baik itu cuman dipermukaan. Semua pasti menjauh, seperti diri kita sendiri paling bersih. Bahkan kita sudah salah masih merasa benar.

Ahhh.. kadang aku bertanya.. kenapa aku terlalu mencintai organisasi ini ? Sedangkan isinya sudah membuat tidurku tak lagi senyenyak dulu. Hatiku nelangsa dan menangis menangisi kondisi yang sulit aku terima.

Kita ini siapa sih.. direksi bank kecil. Yang satu saat akan berhenti masa jabatannya. Yang satu saat bisa saja kita lalai dan kepleset.. bukan mahluk yang sempurna.. yang satu saat juga butuh bantuan dan uluran tangan orang lain. Ahh kenapa sih kita harus sombong.. harus gengsi.

Mungkin memang benar bukan tempatku disini. Terlalu lelah rasanya disini. Tapi rasa cintaku untuk berbuat yang bisa aku lakukan sepertinya memanggil-manggil.. apalagi ketika kutahu tak ada lagi orang yang peduli. Semuanya hanya bisa kasih komentar..hanya kasih saran tapi ogah mengeksekusi. Dan semuanya rasanya sulit mendengar.. dan cari selamat.



Tapi ketika ku mendengar cerita temanku di organisasi yang lain.. sepertinya nampaknya sama saja,
Ahhh sepertinya sudah lupakan saja soal organisasi. Sudah harus berkorban waktu tenaga materi masih juga korban perasaan. Lebih baik mengurus yang lain saja. Yang menghasilkan. Yang memperkaya waktu, tenaga, materi dan perasaan. Rasanya sudah cukup aku mencicipi getirnya berorganisasi. Padahal manis yang kuharapkan amat sederhana.. kebersamaan, kerukunan, kerjasama dan saling dukung serta saling menghargai sehingga organisasi kita tak dipandang sebelah mata..

ah.. permintaan mu itu tidak sedikit Riwandari.. sudahlah..lupakan.. banyak hal kok yang bisa kamu kerjakan diluar ini.. yang melapangkan perasaan mu dan membuat hatimu lebih bahagia. Dan bersyukurlah di organisasimu itu tidak ada orang seperti Ruhut dan Hotman.. yang bicaranya lebih sulit kau cerna dan kau terima.

Sabtu, 16 November 2013

Hujan Turun


 
Tak ada waktu tuk menjelaskan
Tak sangka ini kan datang
Tiap liku berbagi hidup
Sejenak melepas lelah
Kau tinggalkan diriku

Waktu hujan turun
Di sudut gelap mataku
Begitu derasnya
Kan ku coba bertahan

Ingat kembali yang terjadi
Tiap langkah yang kita pilih
Meski terkadang perih
Harapan untuk yang terbaik
Sekeras karang kita coba
Tetap kau tinggal diriku

Waktu hujan turun
Di sudut gelap mataku
Begitu derasnya
Kan ku coba bertahan

Waktu hujan turun
Di sudut gelap mataku
Begitu derasnya
Kan ku coba bertahan

Tak akan ku halangi
Walau ku tak ingin kau pergi
Kan ku bangun rumah ini
Walau tanpa dirimu
Walau tanpa dirimu

Waktu hujan turun
Di sudut gelap mataku
Begitu derasnya
Kan ku coba bertahan

Waktu hujan turun
Di sudut gelap mataku
Begitu derasnya
Kan ku coba bertahan
 
Sheila on seven


Minggu, 10 November 2013

Tapi .. ini caraku mencintaimu..

Tapi..Ini caraku mencintaimu..
Ini caraku memahamimu
Ini caraku ....

Diam
Tak menghubungimu
Tak juga kan kutanya kabarmu
Menjauh darimu


Tapi.. Ini caraku..
Aneh bagimu..
Tapi begini caraku..

Tapi.. Ini caraku mencintaimu..
Menjaga mu dengan keikhlasan
Agar tak ada yang luka...


Tapi..Ini caraku mencintaimu
Mencintai dalam diam


Tapi .. Ini bentuk ketulusanku..
Mencintai dalam diam

Aneh bagi mu..
Tapi ini caraku mencintaimu..
Ini caraku.. tapi ini caraku..
Maafkan aku... jika begini caraku..

Cerita yang terpotong - sepotong dari sepotong.. yang terpotong..
ini hanya fiktif belaka.. jangan dipercaya ya...








Sabtu, 09 November 2013

Sebuah catatan di Hari Pahlawan

Membuka-buka Kamus Besar Bahasa Indoesia untuk mencari tahu apa arti kata Pahlawan.  Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, pahlawan berarti orang yang menonjol karena keberanian dan pengorbanannya dalam membela kebenaran; pejuang yang gagah berani.
Pahlawan itu adalah kata benda. Pahlawan itu ternyata berasalah dari bahasa Sansekerta. Dari kata Phala yang artinya hasil atau buah.

Jadi dapat disimpulkan Pahlawan itu adalah seseorang yang perbuatannya telah membawa hasil bagi kepentingan orang banyak. Perbuatannya memiliki pengaruh terhadap tingkah laku orang lain dan bermahnfaat bagi kepentingan masyarakat banyak. Pahlawan itu pun bermacam-macam. Ada pahlawan nasional, pahlawan revolusi, pahlawan kemerdekaan, bahkan ada pahlawan devisa, pahlawan tanpa tanda jasa, pahlawan keluarga dan juga pahlawan kesiangan.

Dalam kehidupan kita, pasti kita memiliki Pahlawan. Ada yang bilang "ayahku pahlawan ku.." atau "nenekku pahlawan ku ". Itu artinya sertiap orang bebas menentukan siapa yang menjadi pahlawan dalam hidupnya. Menurutku setiap orang yang masuk dalam kehidupan kita dan mampu menginspirasi kita mengubah kita itulah pahlawan. Bahkan dalam satu moment dimana kita merasa tak berdaya orang yang menolong kita adalah pahlawan kita. Itu artinya setiap orang yang masuk dalam kehidupan kita pasti menjadi pahlawan dalam artinya masing-masing. Sederhana saja.. saat kita sedang megendarai mobil dan ban nya kempes entah di siang hari atau malam hari, dan seseorang dengan baik hatinya menolong kita.. pasti kita akan merasa orang itu adalah pahlawan. Pemimpin sebuah demo sekalipun bisa saja disebut Pahlawan oleh para demonstran. Bukan itu saja yang membuat blogspot inipun juga pahlawan, yang membuat facebook, tweeter, path pasti menjadi masuk sebagai pahlawan juga dalam kehidupan kita. Bukankah setiap pahlawan juga mempunyai harinya masing-masing? Hari Kartini kita mengenang ibu Kartini, hari Kemerdekaan kita mengenang para Proklamator. Saat berbicara guru kita akan ingat Pahlawan Tanpa tanda Jasa. Saat berbicara TKI kita akan ingat Pahlawan devisa.
Jadi disetiap sesi hidup kita pasti ada pahlawannya masing-masing.

Hari ini Hari Pahlawan. Dalam hidup kita pasti terisi oleh semangat-semangat orang disekitar kita yang menginspirasi kita.. menyemangati kita. Bahkan anak kita sekalipun adalah pahlawan buat kita..karenanya kita semangat untuk berbuat yang terbaik. Pasangan hidup kita walau mungkin sedang dlm kondisi sakit sekalipun dia pun pahlawan dlm hidup kita..karenanya kita belajar ikhlas, menerima dan bersyukur. Orang tua kita terutama.. beliau adalah pahlawan yg luar biasa yg menuntun kita hingga bisa spt skrg ini, begitu juga semua guru-guru dan dosen-dosen kita. Kakak dan adik kita juga pasti pahlawan dalam hidup kita.. dengannya kita tak pernah kesepian.. dengannya kita bisa berdebat apa saja bahkan bisa juga diam beberapa saat. Temàn sahabat yang baik dan yang sedang tidak baik semua adalah pahlawan .. karenanya kita belajar berbagi dan menahan diri.. Tim kita di kantor juga pahlawan dalam hidup kita, tanpa mereka kita bukan siapa-siapa di kantor, tanpa mereka tak kan pernah kita dapat pujian atas hasil kinerja kita. Mbak kita di rumah yang membantu segala hal urusan pasti bisa kita sebut pahlawan, bukankah tanpanya kita sulit untuk berbuat banyak. Mahasiswa atau murid kita.. juga menjadi pahlawan dalam hidup kita.. merekalah yang menginspirasi dan menyemangati kita serta karena merekalah ilmu di kepala kita tak pernah hilang bahkan terus bertambah. Bahkan setiap orang yg kita temui entah itu sekedar hanya numpang lewat ataupun karena kita berguru padanya beberapa saat.. itu semua pahlawan.. karenanya kita tahu bahwa kita tak bisa hidup sendiri bahwa kita juga perlu disemangati diinspirasi oleh orang lain. 

Terima kasih untuk semua Pahlawan yang telah membuat Indonesia hebat dan yang telah menginspirasi menyemangati mengisi menghangatkan kehidupanku.. Terima kasih.. #sebuahcacatandiharipahlawan


Senin, 04 November 2013

Semalam menelan Kapas

Aku    : Kapas yang semalam di gigi mami tertelan
Putriku : Paling juga ntar keluar sendiri
Aku     : Emang kapas mudah dicerna
Putriku : Kan cuman sedikit
Aku diam saja...

Aku    : Kok adikmu ga BBM BBM ya.. padahal tengah malam tadi BBM ngeLINE, ngeWhatss..
             ada apa ya
Putriku : Itu artinya dia lagi males cerita
Aku      : Tapi semalam sampe nge ping nge ping gitu
Putriku : Itu artinya mami terlambat merespon
Aku      : Ya kan mami sudah bobo semalam
Putriku : Ntar juga kalo pengen cerita BBM
Aku diam saja...

Begini banget ya anak sekarang.. mengangap segalanya ringan-ringan saja..
Sedangkan aku kuatir dari semalam.,,semalam menelan kapas...


Selasa, 29 Oktober 2013

KENAPA KITA HARUS BERJALAN MUNDUR ?


Mungkin saya adalah orang yang paling kurang kerjaan dalam kepanitiaan Tabprindo, yang mau menghabiskan waktu untuk membongkar perpustakaan saya untuk mencari jejak langkah Tabprindo. Tabprindo seperti sesuatu yang amat dekat dengan kehidupan saya dalam berorganisasi. Melihatnya bagaimana dulu dilahirkan sampai periode saat ini, ada rasa bangga ada rasa sedih. Bangga karena keyakinan yang teguh yang ditularkan dan selalu dikuatkan oleh Ketua DPD DKI saat itu, sedih karena Tabprindo menjadi polemik disaat keanggotaan melorot dan kepanitiaan yang seperti tak bersemangat.
Kita Mundur Untuk Melihat Sejarah Tabprindo
Masih ingat dalam benak saya bagaimana saat itu terjadi perbedaan pendapat antara Pengurus DPD Perbarindo DKI dengan Pengurus DPP Perbarindo mengenai Pilot Project Tabungan Bersama yang akan dilaksanakan di wilayah DPD DKI Jaya. Saya waktu itu bukanlah seorang sekretaris seperti saat ini, namun hanyalah pengurus di Komisariat Bekasi Timur dan kemudian diminta untuk masuk ke DPD DKI mengisi pergantian antar waktu.
Konflik memang sepertinya merebak antara DPD Perbarindo DKI Jaya dan DPP Perbarindo karena ketidakpuasan masing-masing atas pengurus yang akan mewakili duduk di kepengurusan Tabprindo. DPP Perbarindo keberatan dengan seseorang yang mewakili DPD DKI duduk di kepanitian Tabprindo, begitu juga dengan DPD DKI yang keberatan dengan pengurus yang dikirimkan oleh DPP untuk duduk di kepanitiaan Tabprindo. Kedua belah pihak menganggap dirinya sama-sama benar. Dan akhirnya muncul edaran dari DPP Perbarindo, bahwa pengurus DPP menarik dukungannya terhadap Tabprindo sehingga beberapa anggota yang telah mendaftar banyak yang mengundurkan diri. Entah kenapa masing-masing mempertahankan orang-orang tersebut yang jelas-jelas semuanya tahu bahwa kedua orang tersebut tak mungkin dapat disatukan dalam satu kemudi, karena ada masalah pribadi antar kedua orang yang diminta mewakili tersebut di BPR tempat mereka berkarya.
Lalu kenapa saya bisa mendapatkan cerita ini ? Karena orang yang menjadi sumber konflik sering menghubungi saya. Seorang sudah meninggal namun seorang lagi masih ada sampai sekarang walau sudah tak lagi menggeluti dunia BPR.
Hubungan yang tak harmonis antara DPP Perbarindo dengan DPD DKI saat itu sudah bukan menjadi rahasia, dan salah satu faktor pemicu ketidakharmonisan ini adalah Pilot Project Tabungan Bersama yang diberi nama Tabprindo. Konflik ini terus berlangsung sampai pada masa Direktur DKBU BI ibu Ratna E. Amiyati, yang tak pernah lelah untuk mencoba mengharmoniskan keduanya. Bahkan sebagai bukti bahwa DPP telah mendukung Tabprindo kembali nama Tabprindo dimunculkan dalam website DPP Perbarindo yang beralamat di www.perbarindo.or.id, walau saat ini sudah tidak muncul lagi. Pengurus DPP pun selalu mengusahakan untuk hadir dalam setiap acara pengundian Tabprindo jika diminta kehadirannya oleh DPD DKI. Bahkan beberapa pengurus DPP mulai tertarik untuk bergabung di Tabprindo, namun ternyata masih banyak hal yang menjadi kendala.
Saya amat salut dengan kegigihan Ketua DPD DKI saat itu. Walau tanpa dukungan, dia tetap yakin untuk terus melanjutkan Tabprindo. Saya yang awalnya tak tertarik dengan program ini karena disarati konflik, akhirnya memilih bergabung bahkan bersedia menjadi Bendahara dalam periode pertama dan kedua. Sehingga muncullah nama saya dalam Rekening DPD Perbarindo DKI Jaya khusus untuk Tabprindo yang dibuka di BRI Tanah Abang. Yang menandatangani rekening itu adalah Ketua dan sekretaris DPD DKI Jaya, Ketua dan Bendahara Tabprindo periode pertama.
Rekening ini tetap aktif sampai saat ini dan hanya khusus untuk semua transaksi Tabprindo. Dan Tabprindo telah mencapai periode ke 11, yang dari awal dimulai dari 22 BPR dengan jumlah pengumpulan dana masyarakat 6,76 M, dan mencapai jumlah anggota terbesar adalah pada periode ke 5 dan mengalami penurunan sehingga di periode 11 hanya beranggotakan 32 BPR. Namun secara jumlah Dana yang tergalang, mengalami peningkatan setiap tahunnya, dengan jumlah terakhir 21.58 M.
Kita mudur untuk mengerti apa itu Tabprindo ?
Walau saya mengikuti perkembangan Tabprindo dari awal, tapi saya tetap membutuhkan saksi mata lain terhadap sejarah Tabprindo. Karena banyak cerita sejarah yang sekarang bermunculan tentang Tabprindo. Saya membuka-buka majalah Suara BPR Jaya yang merupakan majalah produk dari DPD Perbarindo DKI. Saya mencari tulisan-tulisan tentang Tabprindo. Saya ingat dulu pernah ada tulisan sahabat saya mengenai perjalanan Tabprindo, bagaimana Team Tabprindo berkumpul dan berpikir untuk mempersiapkan peluncuran Tabprindo kepada anggota di DPD Perbarindo DKI. Walau dia sekarang sudah tak lagi terlibat di dalam Tabprindo tapi perannya sangat luar biasa di Tabprindo ini, dan saya sebagai pribadi memberikan dua jempol bahkan jika bisa empat jempol pun akan saya berikan, untuk semua kontribusinya yang amat luar biasa. Sayangnya edisi yang muat itu belum saya temukan sampai pagi ini.
Dalam Majalah Suara BPR Jaya yang pemimpin umumnya adalah Ketua DPD Perbarindo DKI Jaya dan sekitarnya. dan Pimpinan Redaksinya adalah sahabat saya yang saya berikan acungan jempol di atas itu, di Edisi VI / Agustus 2008, termuat kalimat seperti ini di halaman 20.
Tabprindo merupakan salah satu produk Tabungan yang diluncurkan pertama kali pada tanggal 19 Desember 2005 dengan mendapat dukungan penuh dari Bank Indonesia, sebab tujuan dari tabungan ini adalah untuk meningkatkan image BPR di mata masyarakat di samping untuk meningkatkan fungsi BPR sebagai lembaga intermediasi dalam penghimpunan dana pihak ketiga. Tabprindo sendiri merupakan singkatan dari Tabungan Bank Perkreditan Rakyat Indonesia yang merupakan salah satu program yang akan terus dikembangkan oleh pencetusnya dan sekaligus pengelolanya yaitu Perbarindo DKI Jaya dan sekitarnya.
Tentunyanya tulisan ini tak akan terbit begitu saja tanpa campur tangan dan ijin dari Ketua DPD DKI saat itu. Jadi saya meyakini ini sebagai fakta sejarah.
Fakta sejarah lainnya adalah adanya SK Pengangkatan oleh DPD Perbarindo DKI untuk panitia Tabprindo diawal Tabprindo berdiri dan terus berlanjut sampai beberapa periode, dan baru terjadi masalah saat
beberapa periode terakhir dimana terjadi ketidakjelasan personil pengurus Tabprindo karena sulitnya anggota untuk diminta menjadi pengurus. Dan hal itu dibiarkan terkatung-katung sampai sekarang. Dan kita secara kolegial adalah penyebabnya. Surat-surat yang dikeluarkan oleh Tabprindo pun awalnya selalu dibubuhi tanda tangan Ketua DPD Perbarindo DKI. Undangan, Backdrop, Standing Banner pun selalu disandingkan dengan logo DPD Perbarindo DKI Jaya. Bahkan Tabprindo dimasukkan sebagai program kerja bagian Litbang.
Apakah ini belum cukup untuk membuktikan bahwa memang ada keterkaitan antara DPD Perbarindo DKI Jaya dan sekitarnya. Dan kenapa harus bermunculan cerita tentang Tabprindo dalam berbagai versi.
Mengapa kita harus berpikir mundur kebelakang ?
Ini adalah yang ada di benak saya.. Kenapa kita sekarang menjadi diributkan oleh dari mana Tabprindo berasal? Kenapa kita tak berpikir untuk kepentingan Tabprindo ke depan. Apapun sejarah Tabprindo fakta nanti yang akan berbicara, dan itu sebenarnya tak perlu menjadi polemik. Kenapa juga kita harus meributkan rekening Tabprindo dan ingin memindahkan pada rekening yang lain? Apakah karena ada sejumlah uang? Bukankah uang itu bukan milik kita, uang itu adalah uang amanah yang harus kita pertanggungjawabkan dengan sebaik-baiknya. Lalu kenapa kita juga harus membingungkan dimana sekretariat Tabprindo, bukankah dari dulu Tabprindo bersekretariat menjadi satu dengan DPD Perbarindo DKI Jaya.
Apakah tak lebih baik kita berpikir ke depan. Bergandengan tangan untuk memajukan Tabprindo. Bagaimana Tabprindo bisa menjadi Go Nasional seperti mimpi kita. Bagaimana Tabprindo bisa menggalang anggota lebih banyak dan lebih banyak lagi. Bagaimana kita kita membuat Tabprindo mengangkat image Industri BPR kita. Bagaimana kita bisa membuat perhelatan pengundian yang meriah dan pantas diliput banyak media. Bagaimana kita bisa membuat promosi bersama yang membuat BPR makin dikenal masyarakat. Bagaimana kita harus memperbaiki Panduan Tabprindo sehingga jelas bagi seluruh anggota dan panitia. Bagaimana kita bisa menggandeng banyak pihak untuk mendukung Tabprindo dan menghindari ekslusivme yang menghambat dukungan. Bagaimana Tabprindo bisa memberikan fasilitas kepada banyak anggota, dari pendidikan yang terkait dengan promosi Tabprindo sampai membuat laporan Tabprindo, bahkan pendidikan-pendidikan lainnya. Bagaimana menggiatkan kembali Bakti Sosial yang diselenggarakan Tabprindo dengan lebih bermakna untuk masyarakat. Bagaimana membuat Perlombaan atau kompetisi yang tekait dengan pelayanan Tabprindo atau yang memacu SDM BPR untuk berprestasi.. dan bagaimana-bagaimana lainnya. Ini adalah PR kita bersama yang belum kita selesaikan, namun kita sudah disibukkan oleh polemik.
Mau dibawa kemana Tapbrindo ?
Semuanya berakhir ditangan anggota. Saya berharap semua dapat berpikir jernih dan bijaksana. Keputusan yang akan dihasilkan apapun itu, jika kita tak mau bergandengan tangan, akan berdampak buruk terhadap Tabprindo. Yang diperlukan sekarang adalah kesadaran kita semua untuk mau bersehati memajukan Tabprindo. Hidup mati Tabprindo ada ditangan kita bersama. Haruskah setiap konflik harus menyebabkan kerugian bagi banyak pihak. Sebuah PR bagi yang berkonflik dan juga PR bagi anggota untuk berani menentukan sikap bagi kelangsungan hidup Tabprindo kedepan. Mari kita berpikir
bersama apakah dampak setiap keputusan yang kita ambil. Apakah akan membawa efek yang baik atau membawa efek yang buruk. Dan apabila Tabprindo di serahkan untuk dikelola oleh sebuah lembaga diluar DPD Perbarindo DKI Jaya, mungkin juga perlu dipertanyakan bagaimana Lembaga itu bisa menjawab semua pertanyaan “bagaimana-bagaimana” di alinea atas, dan berapakah dana serta anggota yang akan berhasil digalang, apakah bisa lebih baik dari pengelolaan dibawah DPD Perbarindo DKI Jaya.
Karena untuk pengelolaan tersebut pasti akan dikeluarkan sejumlah biaya dan tentu saja harus bisa dipertanggungjawabkan kepada seluruh anggota.
Tabprindo pasti tetap terbuka bagi siapa saja untuk berkontribusi, kalau bukan kita yang berkontribusi lalu siapa lagi. Kalau bukan kita yang memikirkan Tabprindo lalu siapa lagi. Mau dibawa kemana Tabprindo.. jawabannya ada di anggota Tabprindo. Semua pengurus yang saat itu melahirkan Tabprindo telah berani bermimpi dan mewujudkannya.. dan sekarang sanggupkah kita sebagai anggota berkontribusi untuk memajukan Tabprindo kedepan sehingga Tabprindo yang ada adalah Tabprindo yang damai dan penuh prestasi yang bisa dibanggakan. Tabprindo juga sebagai ajang pembuktian bahwa konflik bisa kita selesaikan dengan baik karena ada kasih dan kesehatian diantara kita, dan kita buktikan bahwa bekas konflik tak menghambat anggota dan panitia Tabprindo untuk berkiprah lebih baik dan lebih baik lagi. Apakah ini hanya mimpi.. ??? Biarlah ini diawali dengan mimpi..paling tidak kita sudah berani bermimpi.. dan semoga Tuhan memberi kita kesehatian untuk mewujudkannya. Amin.
Terima kasih telah bekenan membaca tulisan ini.