Biar Disapu Ombak

Biar Disapu Ombak
Lupakan.. lalu semuanya akan selesai...

Minggu, 13 November 2011

PENGECUT ....selalu burukkah ??????


Mendengar kata "PENGECUT" membuat hatiku tergerak untuk mencari tahu artinya. Kata ini menginspirasiku untuk mencari tahu artinya.. apakah pengecut itu sesuatu hal yang buruk. Atau memang kita perlu sesekali menjadi seorang PENGECUT.

Menurut artikata.com setelah disearch oleh mbah Google ternyata pengecut mempunyai arti demikian
pe·nge·cut n 1 penakut: ia menuduh aku ~ dan tidak berani menghadapi kenyataan; 2 munafik;

Definisi pengecut adalah orang yang nggak punya cukup keberanian untuk mengakui yg sebenarnya." - Refrain

Pengecut adalah pemberani. Untuk menjadi pengecut minimal diperlukan keberanian untuk bisa berbohong pada hati nurani sendiri. Bukankah menentang hati itu adalah keberanian yang luar biasa..?

Adapula dalam sebuah blog seseorang menulis demikian...

Memaki, menghina, berteriak di balik tirai adalah tindakan seorang pengecut. Maaf kawan, kita tidak membutuhkan pengecut di sini.

Setiap kesalahan harusnya memiliki hak tanya dan hak jawab. Setiap orang boleh bertanya: “mengapa kau menjadi sedemikian menyimpang?” Dan yang ditanya pun memiliki hak jawab, alasan kenapa dia melakukannya.

Tetapi, jika makian hadir, penghinaan, apakah itu sebuah tanya? Terlebih kepada seorang pengecut yang bertanya di balik tirai, kepada siapa hendak hak jawab itu dilayangkan.

Jika engkau lelaki, jadilah pejantan. Jangan terus hidup di balik bayang.

Teman. Ini adalah dunia. Kita nyata di sini. Semua orang memiliki andil, namun kita tidak butuh pengecut di sini.

Membaca tulisan seseorang di sebuah blog seperti di atas.. dapat dipastikan itu disebabkan karena tak adanya komunikasi yang baik. Sehingga semuanya tak disampaikan secara langsung. Penyampaian tak langsung atau lewat tulisan atau lewat orang lain kadang memang bisa berkonotasi macam-macam.

Dalam sebuah blog lain yang terbaca ada tulisan demikian,

Tahukah Anda? Kalau setiap orang memiliki chicken little dalam dirinya. Mungkin Anda akan membantah hal tersebut dan Anda akan berkata, saya bukan seorang pengecut. Jika itu memang benar, Anda patut bersyukur karena Anda memiliki jiwa pemenang.

Kita semua memiliki sikap pengecut dalam diri kita, namun kita sering kali tidak menyadarinya. Pengejek adalah salah satu sikap dari pengecut or chicken little. Setiap hari kita dikelilingi oleh pengejek yang menceritakan segela sesuatu yang buruk dan negatif.

Selain itu kita juga merupakan seorang pengecut, ini muncul disaat perasaan takut dan kawatir datang menyelimuti pikiran kita. Kita sering berkata “Saya tidak pandai.” “Saya tidak bagus.” “Saya beda dengan kamu, kamu punya bakat dan saya tidak punya bakat.” “Saya tidak bisa melakukannya.” Kekawatiran ini seringkali membuat rasa pengecut kita mulai tumbuh dan membesar dalam diri kita. Sikap pengecut biasanya suka memakai kata-kata “Bagaimana jika ...saya gagal, saya kalah, tidak berjalan sesuai dengan rencana, dll.”

Pada dasarnya seorang pengecut selalu mencari alasan. Contahnya saya tidak bisa karena saya... Itu tidak cocok bagi saya karena saya tidak mampu. Saya tidak punya bakat. Saya masih kecil belum cukup umur. Saya tidak punya kekuatan...Saya tidak...saya tidak...saya tidak....Seorang Chicken little selalu menggunakan kata-kata tersebut.

Pengecut tidak pernah mencari solusi tetapi terus menerus mencari alasan. Alasan yang dapat membenarkan dirinya sehingga sikap pengecut yang ada dalam dirinya tidak begitu kelihatan mencolok. Tapi pernahkah anda banyangkan, sebenarnya alasannya tersebut sebenarnya telah membentuk dirinya menjadi seorang pengecut sejati.

Jika pengecut seperti tulisan di atas memang tak seharusnya kita lakukan. Kita harus yakin apapun yang terjadi kita harus mampu mengatasinya.. kita jangan mencari-cari alasan seperti seorang pengecut.

Namun akan berbeda jika kita membaca cerita dibawah ini.. ternyata pengecut tak selalu berkonotasi jelek.

Banyak yang masih berpendapat ‘Kemenangan adalah Keharusan’ atau ‘kemenangan tidak bisa ditawar-tawar’, bahkan lebih extrim lagi : ‘Menyerah adalah perbuatan pengecut’. Ucapan motivasi ini pada dasarnya adalah baik tapi akan lebih baik lagi jika disertai kebijaksanaan.

Ada kejadian di sejarah yang bisa menjadi contoh bahwa menyerah tidak selamanya identik dengan perbuatan pengecut. Kejadiannya sebagai berikut :

Di masa awal Dinasti Tang, dinasti yang baru berdiri ini menghadapi berbagai ancaman dari luar maupun rongrongan dari dalan negeri. Salah satu ancaman dari luar adalah suku-suku pengembara yang berasal dari Utara Tiongkok dan sekitar Mongolia. Perang terbuka telah terjadi beberapa kali dan bahkan ada suatu kesempatan di mana gerombolan suku nomaden mengepung Ibukota Chang An sehingga nasib dinasti baru ini sangat kritis.

Singkat cerita Ibukota Chang An berhasil dibebaskan dari kepungan, tapi suku nomaden ini bukan lawan sembarangan. Kehadiran mereka tetap saja mengganggu stabilitas DInasti Tang. Manuver dan strategi perang yang dilancarkan suku ini termasuk mematikan.

Salah satu muslihat yang dilaksanakan adalah mengepung kota kecil yang tidak berpengaruh terhadap ekonomi maupun stabilitas Dinasti Tang. Kota ini disebut Sui Zhou. Kepungan ini ternyata hanya bersifat pancingan untuk memancing Tentara Tang datang dan membebaskan kota dari kepungan. Jika Tentara Tang (mayoritas infantri) tiba, pasukan berkuda suku nomaden akan segera melancarkan sergapan yang mematikan untuk membantai Tentara Tang sehabis-habisnya.

Kabar pengepungan segera tersiar ke Ibukota dan Kaisar Li Shi Min agak ragu untuk mengirimkan bantuan. Sementara pejabat Kota Sui Zhou saat itu, Fan Xing, juga tidak habis pikir mengapa suku pengembara mengincar kota ini. Fan Xing dan beberapa pejabat yang berwenang segera berunding untuk mencari tahu apa maksud suku pengembara mengepung kota kecil ini. Perundingan akhirnya mendapatkan hasil bahwa suku pengembara bermaksud memancing Tentara Tang untuk datang dan menghabisi mereka begitu mereka tiba dengan memanfaatkan medan / padang tempur yang rata dan luas.Para pejabat segera mengutus pembawa pesan untuk berangkat ke kota terdekat. Sayangnya, si pembawa pesan terbunuh saat mengitari kepungan dan dengan demikian pesan tidak tersampaikan.

Sang Kaisar di saat yang hampir bersamaan juga menyimpulkan hal yang sama. Dilema makin berat karena rakyat di kota tersebut menjadi taruhannya, jika kota tidak diselamatkan. Sementara itu, jika masih nekat mengirimkan bala bantuan, maka sama saja memakan umpan siasat dari suku pengembara.

Belum lagi Sang Kaisar mengambil keputusan, datang kabar bahwa Pejabat Kota Sui Zhou, Fan Xing, telah membuka gerbang dan menyerahkan kota ke pimpinan suku pengembara. Suasana hati Kaisar seketika bercampur aduk. Di satu sisi senang karena tidak termakan siasat suku pengembara dan di sisi lain ada penyesalan karena rakyat lagi-lagi menjadi korban sekaligus menyesali diri karena tidak mampu melindungi rakyat.

Belakangan diketahui bahwa Fan Xing berlutut memohon agar pihak penyerang tidak melukai rakyat Sui Zhou. Pemimpin suku mengabulkan permintaan tersebut dan mengutus Fan Xing sebagai pembawa kabar ke hadapan Kaisar mengenai tebusan jumlah besar untuk menebus rakyat Sui Zhou yang saat ini tengah ditawan.

Begitu Fan Xing tiba di ibukota, dia segera ditawan. Lawan-lawan politiknya menghadap Kaisar dan menghendaki agar Fan Xing dihukum mati. Kaisar berhasil meredakan kebencian golongan anti-Fan Xing dan mengunjungi penjara untuk menjenguk Fan Xing. Kaisar sudah berencana agar Fan Xing sekedar diasingkan dan tidak perlu dihukum mati.

Fan Xing sadar bahwa walaupun dia sudah berjasa, kalau tetap hidup akan ada pihak-pihak yang memanfaatkan hal ini untuk menyerang dirinya. Kaisarpun akan kerepotan untuk meredakan gejolak golongan anti-Fan Xing. Akhirnya dia memutuskan untuk bunuh diri.

Cerita sejarah membuktikan bahwa menyerah bukanlah selalu identik dengan pengecut. Terkadang mengucapkan kalimat ’saya menyerah’ perlu keberanian lebih daripada menyatakan ’saya tidak menyerah’. Menyerah masih mudah untuk dilakukan, yang sulit adalah menyerah dengan bijak.

Membaca cerita diatas, kita akan setuju bahwa tindakan pengecut Fan Xing adalah tindakan penuh pengorbanan. Jadi pengecut itu tak selalu jelek. Pengecut itu tak selalu berarti lempar batu sembunyi tangan, pengecut itu tak selalu orang yang munafik, pengecut itu bukan selalu identik dengan penakut. Diam itu tak selalu identik dengan pengecut. Tak membalas juga bukan berarti sebagai tindakan pengecut. Tak menjawab juga bukan berarti tindakan yang pengecut. Tak menjawab bukan berarti membenarkan semua tuduhan. Tak memberikan perlawanan dan tak mengungkapkan kebenaran yang ada juga tak bisa disebut sebagai pembenaran terhadap tuduhan itu dan dicap sebagai pengecut. Kalau dengan diam dapat meredam masalah lalu untuk apa memperbesar masalah.. Biarlah nanti waktu yang akan membuktikan.

Setiap orang mempunyai alasan masing-masing. Kita mempunyai alasan sendiri pada saat kita menuduh orang lain pengecut. Kita juga punya alasan sendiri untuk tidak menjawab tuduhan "pengecut" yang dilontarkan kepada kita. Seperti juga kita mempunyai alasan untuk menulis sesuatu dalam sebuah forum dan seperti juga kita mempunyai alasan untuk menghapus tulisan dalam forum tersebut. Semua orang mempunyai alasannya masing-masing dan seharusnya semuanya juga dapat memahaminya. Bukankah lebih baik itu dihapus demi menjaga nama baik sebuah lembaga, hubungan baik dengan lembaga lain, nama baik orang-orang yang seharusnya kita hormati. Apakah tindakan tersebut dapat dikatakan sebagai tindakan pengecut atau sabotase.

Bukankah seperti tertulis, janganlah kita membalas orang menurut perbuatannya. Dia jahat kita balas jahat, dia teriak pengecut kita pun meneriakkan hal yang serupa. Ada saatnya diam adalah yang terbaik. Panas tak perlu dibalas dengan panas.. Keras tak perlu dibalas dengan keras. Selain itu tindakan pengecut memang perlu dilakukan karena kita juga tak tahu apakah memang kalimat itu ditujukan pada kita. Daripada salah menjawab, lebih baik diam bukan.

Jadi jika kita bertindak "pengecut" seperti Fan Xing, untuk kepentingan banyak orang, kedamaian dan nama baik orang lain yang kita menaruh hormat.. kenapa harus takut disebut pengecut. Lalu jika akhirnya kita memilih menyerah karena telah lelah dan memikirkan demi kedamaian serta kebaikan banyak orang.. apakah itu juga dikatakan sebagai tindakan pengecut ataupun penakut... Apakah menyerah selalu identik dengan kalah... Menyerah tak selalu berarti kalah.. Mungkin lebih baik kita menyerahkan semuanya kepada yang merasa mampu mengerjakan, daripada kita tak bisa bekerja karena selalu dipersalahkan.

Lalu apakah kita tak boleh mengeritik orang lain.. tentu saja boleh kita mengeritik orang lain jika memang kita mempunyai alasan dan bukti-bukti yang jelas. Tak seharusnya kita menjadi pengecut dengan mengeritik seseorang tanpa jelas kepada siapa keritik itu ditujukan. Adalah amat membahagiakan jika diantara kita berani tampil untuk mengeritik segala hal yang bobrok segala hal yang tak baik untuk kepentingan orang banyak. Karena tak semua orang dianugrahi keberanian untuk berani mengutarakan pendapat, berani mengeritik.

Seperti tertulis dalam sebuah blog,

Kenyataan yang ada adalah Kita semua sudah dididik menjadi bangsa pengecut. Bangsa yg terkungkung pada aturan baku. Tidak berani mempertanyakan dan tidak berani mengkritik. Seolah tahu bahwa hukum tidak berfungsi di negeri ini. Bangsa ini telah tertelan oleh arus kekuatan dan uang. Bangsa ini dibungkam oleh karakter “berserah diri”. Toleransi menurunkan daya saing kita, toleransi pula yang mengakibatkan maraknya plagiat. Cukup sudah kita dikungkung dan dihina seperti ini, mari bangkit menjadi bangsa yang besar.

Kita sebagai individu harus maju. Kemajuan dihasilkan dari sesuatu yang visioner. Jika ada yg tidak baik dan tidak efisien, silahkan kritik dan beri perubahan. Setidaknya kita sudah melakukan amal untuk perubahan yg lebih baik dan merasa puas dalam diri, apabila kiritikan kita tidak ditanggapi. Paling tidak kita sudah menjadi orang yang menang sebelum berperang, berani untuk mencoba.

Membaca tulisan diatas... Bukankah kita harus berterima kasih pada orang-orang yang pemberani seperti ini, apalagi jika kritik itu jelas ditujukan kepada siapa dan didasarkan pada bukti-bukti. Tentu kita dengan senang hati untuk membantu dan mendukungnya... untuk mengusut persoalan yang dikritik itu sampai tuntas.

Jadi tak selalu pengecut itu hina, dan tak selalu pengecut itu baik.. tergantung pada posisi kita.. tergantung pada keadaan.. kadang memang kita harus berlaku pengecut.. kadang kita dilarang menjadi pengecut. Ingin menjadi pengecut atau bukan pengecut.. semua balik lagi pada kita.. setiap kita mempunyai alasannya masing-masing. Pilihan ada ditangan kita...

------------------------

Bicara mengenai Penakut dan Pengecut.. puisi ini amat menggelitik... Ya.. jika untuk ini.. kenapa kita harus menjadi pengecut..

Penakut Bukan Pengecut(dari Makna Kata)

Aku memang penakut.
Tapi bukan pengecut.

Bagimu mungkin sama.
Bagiku beda.

Aku memang penakut.
Tapi bukan pengecut.

Kejujuran berdiri di tengah mereka.
Jadi pembeda.

Aku penakut, kalau-kalau kamu menghilang.
Tapi bukan pengecut yang sungkan bilang.

Aku penakut, yang takut kamu tak mencari aku.
Tapi bukan pengecut yang malu mengaku.

Bagus sekali bukan puisi ini...

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar