Biar Disapu Ombak

Biar Disapu Ombak
Lupakan.. lalu semuanya akan selesai...

Selasa, 29 Oktober 2013

KENAPA KITA HARUS BERJALAN MUNDUR ?


Mungkin saya adalah orang yang paling kurang kerjaan dalam kepanitiaan Tabprindo, yang mau menghabiskan waktu untuk membongkar perpustakaan saya untuk mencari jejak langkah Tabprindo. Tabprindo seperti sesuatu yang amat dekat dengan kehidupan saya dalam berorganisasi. Melihatnya bagaimana dulu dilahirkan sampai periode saat ini, ada rasa bangga ada rasa sedih. Bangga karena keyakinan yang teguh yang ditularkan dan selalu dikuatkan oleh Ketua DPD DKI saat itu, sedih karena Tabprindo menjadi polemik disaat keanggotaan melorot dan kepanitiaan yang seperti tak bersemangat.
Kita Mundur Untuk Melihat Sejarah Tabprindo
Masih ingat dalam benak saya bagaimana saat itu terjadi perbedaan pendapat antara Pengurus DPD Perbarindo DKI dengan Pengurus DPP Perbarindo mengenai Pilot Project Tabungan Bersama yang akan dilaksanakan di wilayah DPD DKI Jaya. Saya waktu itu bukanlah seorang sekretaris seperti saat ini, namun hanyalah pengurus di Komisariat Bekasi Timur dan kemudian diminta untuk masuk ke DPD DKI mengisi pergantian antar waktu.
Konflik memang sepertinya merebak antara DPD Perbarindo DKI Jaya dan DPP Perbarindo karena ketidakpuasan masing-masing atas pengurus yang akan mewakili duduk di kepengurusan Tabprindo. DPP Perbarindo keberatan dengan seseorang yang mewakili DPD DKI duduk di kepanitian Tabprindo, begitu juga dengan DPD DKI yang keberatan dengan pengurus yang dikirimkan oleh DPP untuk duduk di kepanitiaan Tabprindo. Kedua belah pihak menganggap dirinya sama-sama benar. Dan akhirnya muncul edaran dari DPP Perbarindo, bahwa pengurus DPP menarik dukungannya terhadap Tabprindo sehingga beberapa anggota yang telah mendaftar banyak yang mengundurkan diri. Entah kenapa masing-masing mempertahankan orang-orang tersebut yang jelas-jelas semuanya tahu bahwa kedua orang tersebut tak mungkin dapat disatukan dalam satu kemudi, karena ada masalah pribadi antar kedua orang yang diminta mewakili tersebut di BPR tempat mereka berkarya.
Lalu kenapa saya bisa mendapatkan cerita ini ? Karena orang yang menjadi sumber konflik sering menghubungi saya. Seorang sudah meninggal namun seorang lagi masih ada sampai sekarang walau sudah tak lagi menggeluti dunia BPR.
Hubungan yang tak harmonis antara DPP Perbarindo dengan DPD DKI saat itu sudah bukan menjadi rahasia, dan salah satu faktor pemicu ketidakharmonisan ini adalah Pilot Project Tabungan Bersama yang diberi nama Tabprindo. Konflik ini terus berlangsung sampai pada masa Direktur DKBU BI ibu Ratna E. Amiyati, yang tak pernah lelah untuk mencoba mengharmoniskan keduanya. Bahkan sebagai bukti bahwa DPP telah mendukung Tabprindo kembali nama Tabprindo dimunculkan dalam website DPP Perbarindo yang beralamat di www.perbarindo.or.id, walau saat ini sudah tidak muncul lagi. Pengurus DPP pun selalu mengusahakan untuk hadir dalam setiap acara pengundian Tabprindo jika diminta kehadirannya oleh DPD DKI. Bahkan beberapa pengurus DPP mulai tertarik untuk bergabung di Tabprindo, namun ternyata masih banyak hal yang menjadi kendala.
Saya amat salut dengan kegigihan Ketua DPD DKI saat itu. Walau tanpa dukungan, dia tetap yakin untuk terus melanjutkan Tabprindo. Saya yang awalnya tak tertarik dengan program ini karena disarati konflik, akhirnya memilih bergabung bahkan bersedia menjadi Bendahara dalam periode pertama dan kedua. Sehingga muncullah nama saya dalam Rekening DPD Perbarindo DKI Jaya khusus untuk Tabprindo yang dibuka di BRI Tanah Abang. Yang menandatangani rekening itu adalah Ketua dan sekretaris DPD DKI Jaya, Ketua dan Bendahara Tabprindo periode pertama.
Rekening ini tetap aktif sampai saat ini dan hanya khusus untuk semua transaksi Tabprindo. Dan Tabprindo telah mencapai periode ke 11, yang dari awal dimulai dari 22 BPR dengan jumlah pengumpulan dana masyarakat 6,76 M, dan mencapai jumlah anggota terbesar adalah pada periode ke 5 dan mengalami penurunan sehingga di periode 11 hanya beranggotakan 32 BPR. Namun secara jumlah Dana yang tergalang, mengalami peningkatan setiap tahunnya, dengan jumlah terakhir 21.58 M.
Kita mudur untuk mengerti apa itu Tabprindo ?
Walau saya mengikuti perkembangan Tabprindo dari awal, tapi saya tetap membutuhkan saksi mata lain terhadap sejarah Tabprindo. Karena banyak cerita sejarah yang sekarang bermunculan tentang Tabprindo. Saya membuka-buka majalah Suara BPR Jaya yang merupakan majalah produk dari DPD Perbarindo DKI. Saya mencari tulisan-tulisan tentang Tabprindo. Saya ingat dulu pernah ada tulisan sahabat saya mengenai perjalanan Tabprindo, bagaimana Team Tabprindo berkumpul dan berpikir untuk mempersiapkan peluncuran Tabprindo kepada anggota di DPD Perbarindo DKI. Walau dia sekarang sudah tak lagi terlibat di dalam Tabprindo tapi perannya sangat luar biasa di Tabprindo ini, dan saya sebagai pribadi memberikan dua jempol bahkan jika bisa empat jempol pun akan saya berikan, untuk semua kontribusinya yang amat luar biasa. Sayangnya edisi yang muat itu belum saya temukan sampai pagi ini.
Dalam Majalah Suara BPR Jaya yang pemimpin umumnya adalah Ketua DPD Perbarindo DKI Jaya dan sekitarnya. dan Pimpinan Redaksinya adalah sahabat saya yang saya berikan acungan jempol di atas itu, di Edisi VI / Agustus 2008, termuat kalimat seperti ini di halaman 20.
Tabprindo merupakan salah satu produk Tabungan yang diluncurkan pertama kali pada tanggal 19 Desember 2005 dengan mendapat dukungan penuh dari Bank Indonesia, sebab tujuan dari tabungan ini adalah untuk meningkatkan image BPR di mata masyarakat di samping untuk meningkatkan fungsi BPR sebagai lembaga intermediasi dalam penghimpunan dana pihak ketiga. Tabprindo sendiri merupakan singkatan dari Tabungan Bank Perkreditan Rakyat Indonesia yang merupakan salah satu program yang akan terus dikembangkan oleh pencetusnya dan sekaligus pengelolanya yaitu Perbarindo DKI Jaya dan sekitarnya.
Tentunyanya tulisan ini tak akan terbit begitu saja tanpa campur tangan dan ijin dari Ketua DPD DKI saat itu. Jadi saya meyakini ini sebagai fakta sejarah.
Fakta sejarah lainnya adalah adanya SK Pengangkatan oleh DPD Perbarindo DKI untuk panitia Tabprindo diawal Tabprindo berdiri dan terus berlanjut sampai beberapa periode, dan baru terjadi masalah saat
beberapa periode terakhir dimana terjadi ketidakjelasan personil pengurus Tabprindo karena sulitnya anggota untuk diminta menjadi pengurus. Dan hal itu dibiarkan terkatung-katung sampai sekarang. Dan kita secara kolegial adalah penyebabnya. Surat-surat yang dikeluarkan oleh Tabprindo pun awalnya selalu dibubuhi tanda tangan Ketua DPD Perbarindo DKI. Undangan, Backdrop, Standing Banner pun selalu disandingkan dengan logo DPD Perbarindo DKI Jaya. Bahkan Tabprindo dimasukkan sebagai program kerja bagian Litbang.
Apakah ini belum cukup untuk membuktikan bahwa memang ada keterkaitan antara DPD Perbarindo DKI Jaya dan sekitarnya. Dan kenapa harus bermunculan cerita tentang Tabprindo dalam berbagai versi.
Mengapa kita harus berpikir mundur kebelakang ?
Ini adalah yang ada di benak saya.. Kenapa kita sekarang menjadi diributkan oleh dari mana Tabprindo berasal? Kenapa kita tak berpikir untuk kepentingan Tabprindo ke depan. Apapun sejarah Tabprindo fakta nanti yang akan berbicara, dan itu sebenarnya tak perlu menjadi polemik. Kenapa juga kita harus meributkan rekening Tabprindo dan ingin memindahkan pada rekening yang lain? Apakah karena ada sejumlah uang? Bukankah uang itu bukan milik kita, uang itu adalah uang amanah yang harus kita pertanggungjawabkan dengan sebaik-baiknya. Lalu kenapa kita juga harus membingungkan dimana sekretariat Tabprindo, bukankah dari dulu Tabprindo bersekretariat menjadi satu dengan DPD Perbarindo DKI Jaya.
Apakah tak lebih baik kita berpikir ke depan. Bergandengan tangan untuk memajukan Tabprindo. Bagaimana Tabprindo bisa menjadi Go Nasional seperti mimpi kita. Bagaimana Tabprindo bisa menggalang anggota lebih banyak dan lebih banyak lagi. Bagaimana kita kita membuat Tabprindo mengangkat image Industri BPR kita. Bagaimana kita bisa membuat perhelatan pengundian yang meriah dan pantas diliput banyak media. Bagaimana kita bisa membuat promosi bersama yang membuat BPR makin dikenal masyarakat. Bagaimana kita harus memperbaiki Panduan Tabprindo sehingga jelas bagi seluruh anggota dan panitia. Bagaimana kita bisa menggandeng banyak pihak untuk mendukung Tabprindo dan menghindari ekslusivme yang menghambat dukungan. Bagaimana Tabprindo bisa memberikan fasilitas kepada banyak anggota, dari pendidikan yang terkait dengan promosi Tabprindo sampai membuat laporan Tabprindo, bahkan pendidikan-pendidikan lainnya. Bagaimana menggiatkan kembali Bakti Sosial yang diselenggarakan Tabprindo dengan lebih bermakna untuk masyarakat. Bagaimana membuat Perlombaan atau kompetisi yang tekait dengan pelayanan Tabprindo atau yang memacu SDM BPR untuk berprestasi.. dan bagaimana-bagaimana lainnya. Ini adalah PR kita bersama yang belum kita selesaikan, namun kita sudah disibukkan oleh polemik.
Mau dibawa kemana Tapbrindo ?
Semuanya berakhir ditangan anggota. Saya berharap semua dapat berpikir jernih dan bijaksana. Keputusan yang akan dihasilkan apapun itu, jika kita tak mau bergandengan tangan, akan berdampak buruk terhadap Tabprindo. Yang diperlukan sekarang adalah kesadaran kita semua untuk mau bersehati memajukan Tabprindo. Hidup mati Tabprindo ada ditangan kita bersama. Haruskah setiap konflik harus menyebabkan kerugian bagi banyak pihak. Sebuah PR bagi yang berkonflik dan juga PR bagi anggota untuk berani menentukan sikap bagi kelangsungan hidup Tabprindo kedepan. Mari kita berpikir
bersama apakah dampak setiap keputusan yang kita ambil. Apakah akan membawa efek yang baik atau membawa efek yang buruk. Dan apabila Tabprindo di serahkan untuk dikelola oleh sebuah lembaga diluar DPD Perbarindo DKI Jaya, mungkin juga perlu dipertanyakan bagaimana Lembaga itu bisa menjawab semua pertanyaan “bagaimana-bagaimana” di alinea atas, dan berapakah dana serta anggota yang akan berhasil digalang, apakah bisa lebih baik dari pengelolaan dibawah DPD Perbarindo DKI Jaya.
Karena untuk pengelolaan tersebut pasti akan dikeluarkan sejumlah biaya dan tentu saja harus bisa dipertanggungjawabkan kepada seluruh anggota.
Tabprindo pasti tetap terbuka bagi siapa saja untuk berkontribusi, kalau bukan kita yang berkontribusi lalu siapa lagi. Kalau bukan kita yang memikirkan Tabprindo lalu siapa lagi. Mau dibawa kemana Tabprindo.. jawabannya ada di anggota Tabprindo. Semua pengurus yang saat itu melahirkan Tabprindo telah berani bermimpi dan mewujudkannya.. dan sekarang sanggupkah kita sebagai anggota berkontribusi untuk memajukan Tabprindo kedepan sehingga Tabprindo yang ada adalah Tabprindo yang damai dan penuh prestasi yang bisa dibanggakan. Tabprindo juga sebagai ajang pembuktian bahwa konflik bisa kita selesaikan dengan baik karena ada kasih dan kesehatian diantara kita, dan kita buktikan bahwa bekas konflik tak menghambat anggota dan panitia Tabprindo untuk berkiprah lebih baik dan lebih baik lagi. Apakah ini hanya mimpi.. ??? Biarlah ini diawali dengan mimpi..paling tidak kita sudah berani bermimpi.. dan semoga Tuhan memberi kita kesehatian untuk mewujudkannya. Amin.
Terima kasih telah bekenan membaca tulisan ini.


Minggu, 27 Oktober 2013

Lumpuhkanlah Ingatanku

Jangan sembunyi
 Ku mohon padamu jangan sembunyi 
Sembunyi dari apa yang terjadi 
Tak seharusnya hatimu kau kunci
Bertanya, cobalah bertanya pada semua 
Di sini ku coba untuk bertahan
 Ungkapkan semua yang ku rasakan
Kau acuhkan aku, kau diamkan aku 
Kau tinggalkan aku
Lumpuhkanlah ingatanku, hapuskan tentang dia 
Ku ingin ku lupakannya
Jangan sembunyi 
Ku mohon padamu jangan sembunyi 
Sembunyi dari apa yang terjadi 
Tak seharusnya hatimu kau kunci
Lumpuhkanlah ingatanku, hapuskan tentang dia 
Hapuskan memoriku tentang dia 
Hilangkanlah ingatanku jika itu tentang dia 
Ku ingin ku lupakannya
Lumpuhkanlah ingatanku, hapuskan tentang dia 
Hapuskan memoriku tentang dia 
Hilangkanlah ingatanku jika itu tentang dia
Ku ingin ku lupakannya
Lumpuhkanlah ingatanku, hapuskan tentang dia
Ku ingin ku lupakannya
Kau acuhkan aku, kau diamkan aku
Kau tinggalkan aku
 
 



 

Yo Terjatuh

Yo tadi jatuh saat di makam Tanah Kusir. Terlentang. Kakinya berdarah.. karena minum obat pengencer darah, darahnya sulit membeku. Seandainya saja dia mau berlatih jalan dengan rajin, pasti hal seperti ini bisa dihindari. Kadang dia tak bisa mengira-ngira bagaimana posisi kakinya agar bisa berjalan tanpa hambatan. Berjalannya tanpa dipikir. Kalau didampingi terus menerus tak pernah bisa mandiri, tapi begitu kami lengah..banyak hal yang bisa terjadi.
Kami hanya bisa berdoa semoga tidak ada hal-hal yang mengganggu kesehatannya.


Sabtu, 26 Oktober 2013

Cerita yang Terpotong - sepotong - potongan...

Tiba-tiba tangan kekar itu menangkap lenganku. Hampir jatuh kameraku. "Apa maumu.."sentakku sambil berusaha melepas cengkramannya yang kasar. Dia menarikku menepi. "Kenapa yang terkait denganku harus kamu foto.. apa maumu.."bisiknya..tanpa sedikitpun merenggang
kan cengkramannya. "Bukan urusanmu... " kataku sambil mengalihkan pandanganku ke arah lain.. tak sanggup aku ditatap setajam itu. "Selama itu terkait denganku..itu urusanku..kenapa.."kejarnya. "Lepaskan tanganku.."pintaku penuh iba. "Tidak.. sebelum kau jawab.."tegas sekali nadanya. "Jawaban apa yang kau inginkan.. "tantangku kesal. Tiba-tiba cengkraman itu lepas.. dia menunduk kaku.. lalu melangkah pergi... tanpa menatapku lagi...

Ahhhhh... kenapa tak kau kejar sampai aku menjawab sesuai yang kau inginkan....

Rabu, 07 Agustus 2013

Memaafkan Itu Indah

Seringkali kutak mampu bersyukur, gagal menata pikiranku, perasaan-perasaanku dan jauh dari kesabaran, kadang merasa tak bahagia, dan sering merasa gagal membangun hubungan yang saling menghidupkan yang mampu memaafkan dan dimaafkan.

Apakah aku memahami makna maaf yang sebenarnya ?

Mungkin benar aku tersesat dalam pemahaman arti kata maaf yang keliru.
Maaf ternyata bukan untuk kepentingan orang lain.. tapi lebih pada kepentinganku sendiri.
Mengucapkan kata maaf yang sesungguhnya memerlukan kerendahan hati.

Katanya kita hidup saling mencinta. Hakikat cinta sendiri adalah melepaskan ego untuk kebaikan orang yang kita cintai.
Memaafkan adalah memahami orang lain sebagai orang lain dan berfokus pada kebaikan orang lain.
Hal inilh yang membuat cinta identik dengan memaafkan.
Apakah ada cinta yang tanpa maaf.. atau cinta malah membuat kita sulit untuk memaafkan?

Kadang kita memilih melupakan daripada memaafkan.
Tapi semakin kita ingin melupakan.. maka semakin sulit dilupakan

Maafkanlah dan tak perlu dilupakan karena memang sulit dilupakan
tapi ingatlah sebagai  pengalaman yang sudah terjadi dan merupakan bagian dari perjalanan hidup kita, yang ada untuk mendewasakan kita.
Intinya adalah Ikhlas....

Tindakan memaafkan memang tak seindah ucapannya.
Tapi sadarilah bahwa setiap orang pasti ingin melakukan yang terbaik yang dapat dilakukan.
Dan bisa saja dalam melakukannya bersinggungan dengan kepentingan kita,,
Sudah sepantas dan seharusnya kita memaklumi.

Tuntaskanlah maaf selagi kita hidup.
Jangan membawa dendam ke liang kubur.
Ada sesuatu yang dibayar untuk melunasi hutang itu.
Ubah penyesalan menjadi maaf, karena maaf menjadi tak sekedar indah tapi juga menyembuhkan.

Maaf memang tak mengubah masa lalu kita..
tapi yakini ini akan mengubah masa depan kita.
Maaf tak harus membuat kita menjalin hubungan seperti dulu
Dan tak perlu kita merasa bersalah
Karena memang maaf tak bisa mengubah masa yang telah lewat
dan wajar jika kita mengambil jarak agar tak terulang lagi
dan tentu saja kita bebas memilih hubungan yang baru

Tak ada yang perlu dipersalahkan..
Jika kita tetap jauh walau telah saling memaafkan..
Yang terpenting adalah Maaf telah diberikan dengan tulus tanpa pretensi apapun...

Sudah saatnya kita saling memaafkan..
Dimulai dari memaafkan diri senidiri karena itulah yang kita perlukan
Agar hidup kita menjadi menyenangkan, terbebas dari perasaan penuh amarah dan pikiran-pikiran yang penuh kebencian..
Maafkan aku ya...
.

(Coretanku dari Buku Jalan Keluarnya Rudi Tamrin...)



Mari Kita Mulai dengan Memaafkan diri sendiri




Tidak ada pil, minyak, obat, minuman, makanan, kekuatan, ramalan ataupun penguatan
yang adapat mengubah apa yang telah terjadi

Sbagaimana cinta menyinari kegelapan
begitu pula cinta memberikan kehangatan serta kedamaian
ke dalam daerah hitam yang paling kelam
Dan pada dirimu terdapat beberapa daerah kegelapan itu
ini berlaku untuk setiap orang

Memaafkan diri sendiri adalah kunci meraih terang
Memaafkan diri orang lain adalah sangat mulia
namun memaafkan diri sendiri harus dimulai terlebih dahulu..

Aku sudah memaafkan diri ku sendiri
dan aku juga telah memaafkan dirimu setulusnya
memaafkan artinya aku harus melupakan semua ketidakadilan yang telah aku terima

Dengan memaafkan diri ku sendiri dan diriku memaafkan kamu..
aku berharap dirimu juga mampu memaafkan dirimu sendiri dan kelak
mampu untuk memaafkan aku....

KARENA

Yang lemah tidak dapat memaafkan
Memaafkan adalah tanda dari mereka yang kuat
Jika kita terus menerus mempraktekkan "mata ganti mata" dan "gigi ganti gigi",
maka akhirnya
kita akan memiliki dunia yang dipenuhi oleh mereka yang buta dan tidak bergigi
(Mahatma Gandhi)

Pemaafan merupakan respon kita untuk melupakan ketidakadilan yang kita alami
(Anthony Dio Martin)

Memaafkan adalah kekuatan yang luar biasa
Memaafkan adalah tindakan kita yang menolak
untuk menjadi korban dari kebencian dan rasa dendam dalam diri kita
(Anthony Dio Martin)

Pemaafan memang tidak akan mengubah masa lalu kita,
tetapi ia akan memperluas jangkauan masa depan kita.

Maafkan aku.....


(catatanku dari buku ADM "EQM"..darinyalah aku tertegur untuk memaafkan dan ingin memperbanyak ruang kesabaran)


Selasa, 06 Agustus 2013

5% -10% sehari.. Siapa Mau ????

Sebenarnya ini tadi cuman sekedar iseng-iseng saja. Saat makan di Lumba-lumba di kawasan kota tua, aku melihat dari jendela penjaja uang receh sedang menjajakan uangnya. Saat ku membahasnya dengan my baby bungsuku, my baby menjelaskan demikian "Katanya mami kalo menukar di bank itu ribet, ngantri, dan jumlahnya terbatas, kalo di mereka gak ribet n gak pake ngantri..walau harus bayar."

Emang sih ribet.. terbatas dan capek antri..
Akhirnya ... selesai makan.. kuberhentikan mobilku di salah satu penjaja uang. Uang receh yang aku persiapkan untuk diriku sendiri sudah ludes diminta oleh saudara dan teman-temanku, tentu saja tanpa biaya sepeserpun. Aku memerlukan lima ribuan dan dua ribuan untuk parkir dan lain-lain nantinya, tak ada salahnya mencoba untuk menukar sehingga tahu berapa mereka menjual uang receh itu.

"!00.000 jadi bayarnya 110 ribu bu.. "jelasnya. "Semua sama bu.. sepanjang jalan ini sama semuanya, kan kami dapatnya dari BOS..". "Mahal sekali bu.. di diskon deh sedikit.. "pintaku. "Kalo kemarin 100ribu itu jadi 105ribu, kalo sekarang dah gak bisa bu. Dari BOS nya sudah segitu. Akhirnya aku bayar juga jumlah yang diminta.

Mungkin lebih baik bayar daripada buang waktu seperti ini
Lalu aku mulai berhitung.. kantorku setiap minggu mendapat jatah dua kali dari BI. Katakanlah 300 juta aku dapat.. artinya dalam 1 minggu menjelang lebaran bisa mendapatkan keuntungan 30 juta. Ya ampun.. ya ampun keluar dari mulutku.

Penukaran di kantorku aku berikan gratis kepada seluruh nasabah bahkan bukan nasabah. Begitu juga kenalan-kenalan kami jika mereka memerlukan untuk berhari raya. Aku lagi membayangkan seandainya karyawanku tak punya komitmen.. seandainya penukar uang ternyata penjual uang.. olalala apa jadinya... Padahal kami mendapatkannya saja begitu sulit menjelang hari raya. Permintaan kami tak pernah dapat di penuhi BI. Bisa mendapat setengahnya saja sudah bagus. Kami menukarkan tanpa biaya.. sedangkan yang dengan menjual sepertinya mudah mendapatkan.. sepertinya stok uangnya tak ada habis-habisnya. BOS nya begitu pintar memperoleh uang receh. Kami kalah pintar.

Sebenarnya ini salah siapa.. BI yang tidak dapat menyebarkan uang receh sehingga mudah diakses oleh masyarakat, apa salah bank yang tak bisa menjadi tempat penyebaran uang receh.. apa kebutuhan uang receh dan persediaan uang receh tak seimbang, apa kenapa ya.. sehingga setiap hari raya pasti penjual uang receh ini laris manis walau dikenakan biaya 10%. Atau.. ya sudahlah sekali-sekali bagi-bagi rejeki... kan yang nuker juga pada dapat THR...  kalau yang kayak begini ini masuk Riba apa bukan yaaaa.. bunga bank saja disebut riba... gak tahulah jadi pusing...

Hahaahahaha lagian juga ngapain dipikirin... yang nuker bayar 10% aja gak pusing.. yang nyebarin yang gak bisa memenuhi permintaan masyarakat juga kagak pusing...

 http://www.beritajakarta.com/2008/id/berita_detail.asp?nNewsId=55481
http://www.aktual.co/sosial/190312hukumnya-riba-transaksi-tukar-uang-receh-menjelang-lebaran





Kuingin Melepasnya dengan Rela

Hai Blog... sudah lama ya aku tidak bercerita-cerita padamu. Jadwalku memang sedang padat kemarin-kemarin. Aku harus ke Tidung menemani putri sulungku, pekerjaan di kantor yang padat karena Renovasi dan banyaknya permintaan kredit.. dan juga karena Aku harus ke Jogja menemani putri cantikku yang diterima di TekKim UGM. Sebenarnya putriku itu juga diterima di TekKim UI tapi putriku tetap meminta untuk diijinkan  ke UGM. Sebenarnya aku sih kurang rela tapi ya sudahlah.. biarlah putriku melangkahkan kaki sesuai keinginannya. "Kenapa mami tidak memaksaku di UI, kalau mami paksa aku pasti menurut", begitu pernah putriku berkata. Ah.. aku tak pernah mau memaksakan mimpiku pada anak-anakku.. anakku punya mimpi sendiri, biarlah ia yang memilihnya. 

Aku tak mau membuat kesalahan untuk kedua kalinya. Dulu putriku yang pertama aku tahan sehingga tak jadi berangkat ke Newyork, padahal ia sudah diterima di FIT. Setiap bicara tentang mimpinya aku seperti orang yang paling bersalah dimuka bumi ini. Aku yakin suatu saat putriku akan terbang ke Newyork dan yang tinggal dirumah hanya aku, Yo dan bungsuku My Baby. "Aku akan kesepian tanpa Tessa.. aku mau nyusul Tessa ke Jogja.. aku mau masuk kedokteran di UGM," begitu kata My Baby....ah benerkan..semua akan pergi meninggalkan aku dan Yo.. mereka akan mengejar mimpi-mimpi mereka. 
dengan jaket UGM... cantiknya

Anak-anakku bukanlah pemimpi yang hanya bermimpi. Setiap langkahnya dipikirkan masak-masak. Dari kelas 1 SMA putri cantikku sudah menentukan tempat kuliahnya di Jogja. "Mami.nanti aku mau kuliah di UGM.. aku suka sekali melihat kampusnya.. suasananya.. dan disana kan biaya hidup tidak mahal.." Saat itu aku menganggapnya sepele..ah paling hanya keinginan sekejab.. mana berani putriku pergi tanpa aku.. mana berani putriku tidur sendiri.. mana berani dia berada di kota yang tak jelas arah untuk dirinya. "Mami aku mau masuk Teknik Kimia.. kalau Kedokteran rasanya terlalu lama dan aku tak terlalu yakin nanti kedepannya.. rasanya agak sulit. Aku ingin yang cepat bekerja.."begitu pernah putriku berkata. Lagi-lagi kupikir..ah masuk fakultas negeri itu kan untung-untungan.. belum tentu nanti akhirnya masuk kesana.. karena itu aku selalu takut jika mimpinya tak jadi kenyataan. Tapi putriku memang tak seperti aku. Setiap keinginanya pasti dipertanggungjawabkan dengan baik. Aku sampai kadang takut dengan semangatnya yang terlalu menyala-nyala.. aku takut putriku kecewa. Tapi ternyata dia mampu membuktikannya.. bahwa putriku serius dengan pilihannya.
"Aku sudah mantap di UGM mami.." katanya mengambil keputusan. Aku hanya mengingatkan bahwa keputusannya mengikat sampai lima tahun kedepan. "empat tahun mami..terlalu lama lima tahun" protesnya.. "ya.. apapun yang terjadi lancar atau tidak lancar..mengikat sampai lima tahun..kita berharap semua baik-baik dan lancar..".

Akhirnya kami berburu kost di Jogjakarta. Semua jalan kami telusuri untuk mendapatkan kost yang sesuai untuk putriku. Kucoba untuk berjalan kaki, kucoba untuk naik ojek. Kuteliti satu persatu apakah dekat fotocopy, laundry, penjual makanan, mart, pangkalan ojek dan halte bis.
 
Sekarang bulan Agustus berjalan satu demi satu harinya. Makin mendekati tanggal 20 makin aku gelisah. Kenapa ya aku tak memaksakan saja kehendakku agar dia di UI saja..kadang penyesalan itu muncul. Saat tidur sering ku menatapnya.. badannya yang kurus karena pikirannya hanya tertuju pada mimpinya.. karena kegelisahannya yang tak lulus jalur undangan. "Aku siswa terbaik di sekolahku.. tapi aku tak masuk jalur undangan.. bagaimana kalau aku tak lulus juga nanti.. pasti aku dan sekolahku amat malu.." katanya sambil berurai air mata. "Aku lebih baik tidak jadi siswa terbaik saja mami..tapi aku lulus.." Ahhh.. aku juga sedih luar biasa dengan kegalauannya ini. Jantungku juga ikut berdetak-detak tak karuan. Sekarang semuanya sudah menjadi nyata.. dan aku yang makin gelisah..

Di pesawat saat perjalanan pulang aku melihatnya putriku makin mantap dengan pilihannya. Segudang rencana ia ceritakan padaku termasuk keinginannya untuk mendapatkan beasiswa.  Senang hatiku mendengarnya.
 
"Ini adalah Awal Tessa.. bukan akhir perjuangan..Perjalanan mimpimu sudah dibukakan Tuhan.. sekarang kakimu akan mulai melangkah.. Mami yakin ... Komitmenmu.. tekadmu.. niatmu.. janjimu untuk selalu di jalan Tuhan..akan membuat mimpi ini semakin nyata..."

Ohhh..kegelisahan pergilah.... aku ingin melepasnya dengan rela agar putriku juga tak gelisah nanti disana...

Kamis, 09 Mei 2013

Terima Kasih untuk Hari ini

Hari ini aku dan anak-anakku menemani Yo mengunjungi mall favoritnya. Jangan heran kalau mall favoritnya jauh dari rumah. Mall Cijantung. Kenapa? Di mall ini Yo bisa langsung menuju ke lokasi dimana toko yang menjual stiker dan bendera yang menjadi koleksinya mudah diakses dengan kemampuannya yang terbatas.

Berjalan di mall ini, sepertinya aku melihat para penjual sudah mengenal Yo dengan baik. Penjual majalah sudah bisa berkomunikasi dengan baik, dia tahu persis apa yang biasa dibeli Yo. Majalah Asri, Laras dan tabloid yang menyangkut bola. Yang menjual bendera pun tak hilang akal agar koleksi benderanya dibeli oleh Yo. Mereka berkomunikasi dengan gambar. Yo memang mengoleksi bendera negara, biasanyanya sih bendera negara yang club sepakbolanya dia kagumi. Ternyata Yo pesan bendera Yunani dan Spanyol. Pasti itu terkomunikasikan dengan gambar.

Begitu juga penjual stiker.. sepertinya juga sudah mengerti bagaimana harus melayani Yo. Anak-anakku tertawa-tawa melihat kejadian hari ini. Tak ada rasa malu dengan kondisi papinya yang banyak kekurangan.

Libur satu hari ini, yang tadi pagi kami awali dengan mengikuti kebaktian Kenaikan Tuhan Yesus, kami tutup dengan nonton Cinta Brontosaurus yang konyol. Yaaa.. apakah cinta perlu dipertanyakan alasannya...begitulah yang aku ingat dari film itu.. cinta itu perlu diperjuangkan.. cinta itu kadang pahit, kadang ada marah, ada ribut..tapi juga banyak manisnya...

Bapa.. terima kasih untuk cinta dari orang-orang tercinta...

Saat Ku Menatapnya

Penyakit sulit tidurku sepertinya mulai kumat kembali. Semua sudah terlelap malam ini. Tapi aku.. tak sedikitpun aku merasakan kantuk. Padahal tadi sore telah kutelan obat penghilang rasa sakit kepala karena sakitnya sudah tak tertahankan. Lagu-lagu pengantar tidur sudah aku kumandangkan tapi tak mampu mengundang mataku terlelap. 

Yo sudah terlelap sejak tadi. My Baby baru saja terlelap setelah kedua kakaknya terlelap lebih dahulu. Kurasa My Baby mulai terjangkiti penyakit yang sama denganku. Sulit tidur dan sulit bangun di pagi hari. Alhasil sering terlambat. Bahkan pernah terlambat dan tak diijinkan masuk kelas beberapa kali. Tapi herannya My Baby tak pernah hilang akal. Dari meminta pak Salam, driver kami untuk membuat surat bahwa mobilnya bermasalah dijalan, sampai mengendap-ngendap masuk kelas. "Aku heran dengan sekolah ini mami.. kenapa anak mau belajar kok dipersulit..."begitu ia mengeluh yang membuatku hampir tersedak. Aku sendiri juga heran kenapa sekolah ini selalu memulangkan anak-anak yang terlambat. Ya kalau kembali ke rumah.. kalau pergi yang tak jelas tujuannya kan malah merepotkan orang tua. "Seharusnya anak-anak yang telat itu diminta meringkas saja pelajaran yang tak mereka sukai.."pernah aku berkata seperti itu kepada My Baby dan ia menjawab.."aku lebih suka diminta membaca dan meringkas berlembar-lembar mami daripada disuruh pulang". "Tapi mami.. kalau gurunya gak asyik..kalau disuruh pulang enak juga.." kadang My Baby setuju dengan peraturan itu. Perkataan guru gak asyik menggelitikku untuk melontarkan pertanyaan apa kriteria guru gak asyik. Ternyata guru gak asyik itu guru yang meminta muridnya mencatat apa yang ditulis gurunya di papan tulis. Kalau cuman nyalin mah gak usah ada guru mami.. kita juga bisa sendiri..". Anak sekarang memang kritis-kritis kadang aku sering kehabisan kata.

Memandangi ketiga putriku yang telah terlelap membuatku makin mengucap syukur. Bersyukur dikarunia mereka dalam hidupku. Walau kondisi Yo tak bisa membantuku merawat anak-anak dan mencukupi semua kebutuhan anak-anak, aku merasa kuat menjalani semuanya. Putri-putriku adalah putri yang teramat manis untukku. Mereka punya keiinginan yang tak terpatahkan. Mereka tak mudah menyerah jika menginginkan sesuatu. Untuk mempertahankan ranking putriku rela belajar hingga larut malam dan membuang semua keinginannya untuk bermain. Untuk mendapatkan sekolah yang dituju mereka sudah berjuang dari semester satu diawal sekolah. Kadang aku malu jika memandingkan semangat belajarku dengan semangat belajar mereka.

Begitu juga jika mereka ingin menonton konser. Mereka tak pernah merepotkan aku. Menabung jauh-jauh hari. Namun jika kondisinya uangnya tak ada merekapun tak hilang akal. Seperti Konser Mika besok, mereka bisa mengupayakan tiket sendiri tanpa harus menguras kantongku. Mencari kuis yang menghadiahi Tiket untuk menonton konser. Dan mereka berhasil mendapatkan 4 tiket sekaligus. "mami mau ikut gak nonton konser..kita deh yang siapin tiketnya.." ajak putri-putriku. Besar keinginanku untuk menemani mereka seperti saat konser-konser sebelumnya. Tapi kakiku sudah bukan kaki tahun-tahun yang lalu.. sudah tak kuat aku berdiri terlalu lama. Akhirnya tiket jatahku dilepas oleh mereka dengan harga Rp. 450.000,00, untuk uang taksi dan uang makan mereka saat nonton besok. Aku menyimak diam-diam rencana ketiga putriku untuk persiapan menonton konser besok. Kedekatan mereka, keakraban mereka sungguh luar biasa.

Handphone, jejaring sosial  bukanlah momok yang perlu aku takutkan. Karena putriku tahu persis apa yang bisa dimanfaatkan dengan HP dan notebook yang berada di tangannya. Menulis Blog tentang fashion dengan konsisten, membaca kalimat-kalimat motivasi, mencari uang dari kuis atau lomba-lomba yang ada di twitter, bahkan mencari tiket gratis untuk menonton konser. Aku tak bisa marah jika mereka asyik dengan HP nya. Tak ada alasan yang bisa aku jadikan alat untuk membuat mereka meletakkan HP. Meminta mereka belajar dan menghentikan aktifitas ber HP nya pun tak bisa, karena mereka semua punya prestasi yang baik di sekolah. Paling disaat aku merasa diabaikan karena mereka asyik sendiri baru aku merajuk meminta perhatian mereka.

Memandangi ketiga putriku.. membuatku amat bersyukur.. ditengah beratnya beban yang aku rasakan.. mereka merupakan penghiburan untukku yang amat luar biasa. Aku kuat, aku semangat, aku termotivasi.. sungguh karena putriku. Merekalah role model untukku.. kadang aku malu sebagai mamanya yang tak bisa mencapai target yang ada dalam impianku.. aku kalah jauh dibanding dengan mereka bertiga. Aku tahu kenapa mereka bisa berpikir sejauh itu.. "aku bangga pada mbah (ibuku).. aku ingin nanti diwaktu tua bisa seperti mbah.."begitu ketiganya selalu berkata. Ya.. semua karena almarhumah Ibuku..

Ya Bapa.. beri aku kesehatan..kekuatan ..kesempatan untuk selalu bisa memberikan yang terbaik utuk ketiga putri-putriku.

Sampai kalimat-kalimat yang aku tuliskan mulai tak beraturan, sampai aku kehilangan kalimat  yang akan kutuliskan..kantukku tak kunjung juga tiba.. entah lari kemana kantukku sehingga sulit aku mengejarnya....

Sabtu, 20 April 2013

Putri yang Merdeka Cita-citanya



Ibu kita Kartini Putri sejati
Putri Indonesia Harum namanya

Ibu kita Kartini Pendekar bangsa
Pendekar kaumnya Untuk merdeka

Wahai ibu kita Kartini Putri yang mulia
Sungguh besar cita-citanya Bagi Indonesia

Ibu kita Kartini Putri jauhari
Putri yang berjasa Se Indonesia

Ibu kita Kartini Putri yang suci
Putri yang merdeka Cita-citanya

Wahai ibu kita Kartini Putri yang mulia
Sungguh besar cita-citanya Bagi Indonesia

Ibu kita Kartini Pendekar bangsa
Pendeka kaum ibu Se-Indonesia

Ibu kita Kartini Penyuluh budi
Penyuluh bangsanya Karena cintanya

Wahai ibu kita Kartini Putri yang mulia
Sungguh besar cita-citanya Bagi Indonesia



Itulah syair lagu Ibu Kita Kartini karangan WR Supratman. Ternyata panjang bukan syairnya. Tapi yang biasa kita nyanyikan hanya bagian depannya saja. 3 bait saja. Dari sekian bait yang panjang itu ada satu bait yang aku ulang baik-baik "Ibu kita Kartini Putri yang suci
Putri yang merdeka Cita-citanya"

Putri yang merdeka cita-citanya. Merdeka cita-citanya. Apakah aku sudah memerdekakan anak-anakku dalam menentukan cita-citanya. "Aku ingin sekolah fashion mami di Amerika..."kata sulungku.. "Aku ingin menjadi animal director mami.. atau aku ingin tahu tentang panda.."kata bungsuku. "Aku ingin menjadi dokter gigi.. ahhh dokter umum... sepertinya aku ambil teknik kimia saja mami tapi di UGM saja". Dan aku menjawabnya.. "kenapa tidak sekolah ekonomi saja, kenapa tidak di Jakarta saja.. kenapa tidak.. kenapa tidak..." atau aku menjawab.. "boleh di teknik kimia tapi di Jakarta aja ya.. kalau UGM nanti bagaimana kalau mami kangen.." atau "boleh fashion tapi di Jakarta saja ya.. jangan jauh-jauh..". Dan kadang kulihat anakku terisak pelan dan keluarlah air matanya.

Apakah aku sudah tidak memerdekakan cita-cita putri-putriku ? Apakah melarang putriku ke Bandung karena tak ikhlas dan terlalu kuatir juga termasuk kategori aku tak memerdekakan cita-cita mereka. "Aku sudah besar mami.. aku sudah bisa jaga diri.. kalau cara mami seperti ini aku tak kan pernah lihat dunia ini.."kata putri bungsuku sambil terisak-isak. Ohhh.. aku tersentak mendengar kata-katanya. "Kalau begitu mami temani ya.. " kataku mengalah.. tapi ternyata bukan soal ke Bandung nya.. tapi soal diijinkan pergi dengan teman-temannya. 

Mempunyai tiga putri bukanlah persoalan yang mudah. Apalagi dengan kondisi Yo saat ini. Semuanya harus kuputuskan sendiri dan kadang air mata putriku sudah membuatku berpikir apakah aku terlalu memproteksi. Kadang aku ngotot mempertahankan kehendakku tanpa mau tahu airmatanya, kadang aku luluh oleh airmatanya.

Tapi kulihat jika aku tak membatasi putri-putriku, mereka bertindak dengan penuh tanggung jawab. Putri sulungku. Kubiarkan ia dengan pilihan-pilihannya walau aku begitu takut dengan dunia fashion yang aku tahu begitu glamour dan dandanan yang kadang seronok. Dia begitu all out menjalani pilihannya. Tugas-tugas dari dosennya semua dikerjakan dengan sebaik-baiknya bahkan menurutku kadang terlihat terlalu sempurna. Melihatnya bagaimana dia mau berjuang membuat yang terbaik, aku jadi ingat bagaimana aku dulu saat SMA dan saat kuliah. Putriku sudah bisa menentukan kapan dia bisa bermain dengan teman-temannya dan kapan dia harus konsentrasi pada kuliahnya juga tahu kapan bisa asyik dengan blognya.

Putri kedua dan ketigaku. Aku begitu percaya bahwa mereka dapat mengatur waktu dengan sebaik-baiknya. Kapan harus belajar dan kapan harus bermain. Seingatku dari kelas 4 SD semua putriku sudah tahu kapan harus belajar dan kapan bermain-main. Putriku tahu kapan harus les kapan harus belajar sendiri di rumah. Mereka menentukan guru les nya sendiri. Menentukan waktu belajarnya sendiri. Aku bersyukur dulu mengikuti nasihat ibuku untuk tidak mencereweti anak untuk belajar. "Kalau mereka tahu kenapa mereka harus belajar dan apa manfaatnya belajar.. mereka akan belajar.. " begitu pesannya selalu. Ya ibuku tidak pernah belajar Quantum Learning, tapi apa yang diucapkan itu adalah Quantum Learning.. AMBAK (Apa Manfaatnya Bagi AKu)..yaitu motivasi yang didapat dari pemilihan secara mental apa manfaat dan akibat-akibat dari suatu keputusan. Dan secara tak langsung kita juga telah mengajarkan anak-anak kita untuk mengambil keputusan. Jika kita mampu menciptakan minat anak-anak kita pada suatu subjek, maka biasanya anak-anak kita akan menuju pada minat-minat baru, menciptakan reaksi rantai yang terus menerus. Itu membantu anak-anak kita membuat keputusan dengan penuh keyakinan dan dapat melahirkan pribadi yang kuat.

Aku ingat dulu saat aku lulus SMA, aku tak bisa mengendarai kendaraan baik roda dua dan roda tiga. Ibuku yang mati-matian mengupayakan aku untuk bisa mengendarai kendaraan. Bahkan ibuku rela menemani aku belajar mengemudikan mobil. Ibu selalu megatakan nanti suatu saat kamu akan mengerti kenapa ibu memaksakan ini. Kalau kamu bisa mengendarai mobil kamu tak bergantung pada orang lain, kamu bisa mandiri. Apakah seumur hidupmu kita harus bergantung pada supir? pada kakakmu pada adikmu?. Kamu bisa pergi kemana kamu akan pergi. Ya.. ibuku selalu mengutarakan manfaat apa yang akan aku peroleh jika aku mengikuti sarannya. Saat aku memutuskan untuk tidak bekerja. Ibu ku mendiamkan aku beberapa saat, tetapi setelah itu ibu mengarahkan aku, memberikan pandangan-pandangan padaku baik buruknya jika aku memilih sebagai ibu rumah tangga. Dan kalau aku memilih mengikuti sarannya itu bukan karena paksaannya, karena aku sudah mengerti AMBAK, Apa Manfaatnya Bagi AKu. Apalagi sekarang disaat suamiku sakit..aku semakin mengerti kenapa ibuku memaksakan hal ini padaku. Aku makin melihat..inilah manfaatnya.

Saat marak penjualan kunci jawaban untuk Tryout dan UN. Putriku tak ada yang terpengaruh untuk membeli. Kenapa gak beli saja kataku sering memancing-mancing. Atau jangan-jangan udah beli..kataku menyelidik. "Kenapa sih mami gak percaya sama aku.. gak tahu aku ini bagaimana.. mami soal-soal UN itu adalah soal yang mudah.. kalau itu saja gak mampu jawab.. gimana nanti ujian masuk PTN...gimana nanti kalau diminta ngerjain soal..Lagian kenapa harus jadi orang yang gak percaya diri.. ya kalau bener jawabannya.. kalau salah..? Mendingan juga belajar.. dan aku belajar bukan hanya untuk lulus.. tapi karena aku ingin mengerti..ingin bisa.. " Aku kadang terpana dengan jawaban-jawabannya. Atau saat mereka saling curhat di mobil soal perlu tidaknya UN karena maraknya penjual jawaban. "Kenapa yang disalahkan UN nya.. kenapa yang disalahin yang jual jawaban.. kenapa yang disalahin gurunya.. ya yang salah ya yang beli jawaban lah.. yang gak percaya diri.." dan lagi-lagi aku hanya menyimaknya diam-diam. Diantara kekuatiranku mengenai kelulusan dengan yakinnya putriku merasa dirinya lulus. Kadang aku merasa anakku lebih dewasa daripada aku.

Ya aku bahagia menjadi ibu yang dibukakan pikirannya oleh anak-anakku. Walau kadang aku cemas tapi aku tekan rasa cemasku. Kadang aku kuatir tapi memang aku harus belajar menghilangkan rasa kuatirku. Kadang aku sedih jika aku bertanya pada mahasiswaku "kenapa memilih jurusan ini?" dan mereka menjawab.."karena mama ingin aku memilih jurusan ini..". Atau saat aku bertemu dengan seorang anak aku bertanya "nanti besar mau jadi apa..?" dan dia menjawab "maunya mama sih aku jadi dokter tapi aku maunya jadi pelukis". Jawaban-jawaban itulah yang akhirnya menguatkan aku untuk memerdekakan anak-anakku memilih.. memilih apa yang ingin dipilih. Aku sebagai ibunya berkewajiban mengarahkan dan mengingatkan atas apa yang dipilihnya..bukan melarang. Kalau ibu Kartini yang lahir 21 April 1879 saja sudah mempunyai impian untuk memerdekakan cita-citanya, untuk memerdekakan wanita.. kenapa kita kadang sulit memerdekakan anak-anak kita dalam menentukan cita-citanya. Saat mereka mampu membuat keputusan sendiri..sudah sepantasnya kita merayakannya. Seperti juga kita memberikan kebebasan untuk merayakan bersama teman-temannya berakhirnya UN, merayakan dengan dirinya sendiri setelah selesai mengerjakan tugas berhari-hari dengan bangun siang dihari sabtu atau minggu. Karena mereka pasti sudah tahu..kapan mereka harus bangun siang dan kapan harus bangun pagi.


Biarlah anak kita mengikuti suara hatinya lentera jiwanya... seperti lagu lentera jiwa ini..

Lama sudah kumencari Apa yang hendak kulakukan 
Sgala titik kujelajahi Tiada satupun kumengerti
Tersesatkah aku di samudra hidupmu
Kata-kata yang kubaca Terkadang tak mudah kucerna 
Bunga-bunga dan rerumputan Bilakah kau tahu jawabnya
Inikah jalanku inikah takdirku
Kubiarkan kumengikuti suara dalam hati 
Yang slalu membunyikan cinta 
Kupercaya dan kuyakini murninya nurani 
Menjadi penunjuk jalanku Lentera jiwaku
Kubiarkan kumengikuti suara dalam hati 
Yang slalu membunyikan cinta 
Kupercaya dan kuyakini murninya nurani 
Menjadi penunjuk jalanku Lentera jiwaku

 



Senin, 15 April 2013

Selamat Ulang Tahun Yo

Hari ini Yo berulang tahun
51 tahun sudah umurnya
Tapi penyakitnya telah membuat ia tak seperti seorang Pria yang berumur 51 tahun.

Tiga tahun sudah bahkan lebih kami melewatinya..
Situasi yang kadang membuat kepala kami rasanya mau pecah
Situasi yang bisa membuat kami meledak-ledak
Situasi yang membuat kami menangis terisak-isak.
Situasi yang bisa membuat kami terbahak-bahak mentertawakan kebodohan kami sendiri.


Tiga tahun lebih kami menanti..
Ingatannya bisa kembali sempurna
Tapi tak juga datang..
Tapi tak juga menjadi kenyataan

Tiga tahun lebih putri kami menanti
Melihat papa nya seperti yang dulu
Yang bisa menjadi teman belajar
Yang bisa membantu memecahkan tugas yang sulit
Yang rela membagi bagiannya untuk mereka

Tiga tahun lebih kami menanti
Yo mampu memanggil kami seperti yang dulu
Tapi itu masih menjadi mimpi

Tiga tahun lebih kami berkomunikasi
Dengan menebak-nebak
Dengan menerka-nerka
Dengan mengira-ngira

Tiga tahun lebih kami meributkan
soal makanan
soal kedokter
soal ke Lab
Tapi kami tak pernah bisa membuat Yo tergerak
Yo terlalu seenaknya..

Dulu air mata kami air mata keperihan...
Sekarang air mata kami air mata bahagia
saat Yo mampu melakukan hal yang baru

Pahit..??
Ya amat pahit..
Tapi inilah yang ada di depan kami
Yang harus kami hadapi walau teramat berat..
Yang harus kami hadapi dengan senyum dan hati yang penuh Syukur pada Nya.

Selamat ulang tahun Yo..
Kami hanya berharap Yo tahu satu hal..
Kami memang sering melarang...
Itu karena rasa sayang kami.. yang begitu besar..

Selamat ulang tahun Yo..
Kami ingin melihat Yo yang dulu..
Kami rindu bisa berbagi cerita..
Tentang apa saja....

Selamat Ulang tahun Yo
maafkan jika aku terlambat pulang
Janjiku hari ini terasa seperti janji palsu..
Kue pun hanya martabak manis diberi magic candle..
Tapi kamu lihat Yo.. kami semua bahagia berada di sisimu..

Selamat Ulang tahun Yo
Tuhan amat sayang pada kita...
Kita pasti mampu melaluinya..

15 April 2013







Jumat, 29 Maret 2013

Suatu Saat.... lewat Tulisan Tangan

Masih aku ingat saat aku diberikan tugas oleh pak Bayu untuk mencari satu orang yang mau dibaca tulisan tangannya. Saat aku mendengar dia menugaskan seperti itu, ingin rasanya aku lari saja dari pelatihan ini. Yaaa rasanya mencari orang yang mau diganggu dihotel ini dan mau diketahui masalahnya dan kepribadiannya dengan suka rela .. mana mungkin ada yang mau.
Tapi demi martabat dan nama baik yaaa dengan amat sangat terpaksa aku cari juga orang yang mau dibaca-baca tulisan tangannya.

Akhirnya langkahku berhenti di resepsonis. Ada seorang petugas pria yang berbadan tegap dan jangkung yang berdiri disana. Tampan menurut ukuranku. Dan ternyata tak berkeberatan untuk dibaca tulisannya bahkan begitu antusias.. 

Dengan senang hati dia menuliskan apa yang aku minta. Menuruti semua perintahku. Sedang kan aku sibuk mereka-reka apa arti dibalik tulisan tangannya. Mau mati saja rasanyaaaaaa. Sepertinya semua isi buku yang sudah aku baca dan semua yang telah dijelaskan oleh pak Bayu hilang lenyap tanpa bekas.. 

Kucerna satu persatu tulisannya. Aku bahas satu persatu berdasarkan yang aku ingat lebih dahulu. Pertama-tama tanda tangannya. Mas pasti lebih suka dipanggil dengan nama belakang yaaa.. "loh kok ibu tahu..." nahhh kalimat ini sedikit memberi semangat. Kok nametagnya pake nama yang didepan mas... kan mas sukanya dipanggil dengan nama belakang. Mas nya tersenyum..amat manis.. hahaha..aku jadi cuci mata.. cakep-cakep kok gak jadi model saja sih mas...
"Habis dari awal kerja temen-temen sudah terlanjur manggil nama depan sih bu.. jadi susah mau ganti nama belakang..".

Mas ini mesti tanda tangan dari remaja belum pernah ganti ya... "loh kok ibu tahu..." hahaha bahagia rasanya kalau dijawab begitu. Rasanya aku sedang jadi mama Loren. Mulailah dia bercerita soal tanda tangannya yang berbintang itu. Jadi dia yang banyak curhat.. aku mendengarkan baik-baik dan menyimak. "Saya pengen ganti tanda tangan bu...kasih saran dong gimana baiknya..."... gleg gleg gleg.. aku mau ganti tanda tangan aja sampai sekarang gak jadi-jadi..masih mencari dan mencari.. mana yang terbaik. Akhirnya berdasarkan jurus-jurus yang sudah dipelajari dan tersangkut dikepala aku menjelaskan kepada mas yang tampan ini. Dia mengangguk-angguk tanda setuju. Mudah-mudahan gak ada yang salah ya mas... maklum mas masih belajar.

Kemudian kulihat huruf d nya.. mas ini pasti perasaan nya sehalus kulit wajahnya.. hahaha.. mata ini kayaknya perlu disekolahin juga.. Lagi-lagi dia mengangguk-angguk dan curhat sendiri. Haduh senengnya kalau dapat klien seperti ini.

Kemudian dengan perlahan aku menanyakan apakah ada masalah dalam kehidupan keluarganya.. dengan ayah atau pasangan.. karena terbaca demikian di tulisannya.. "saya sedang dalam proses cerai bu.." Haduh rasanya kalau bisa aku pengen udahan saja... rasanya gak tega mengudak-ngudak perasaan dan persoalannya.
"Bu..saya ingin mengubah tulisan saya.. supaya saya tidak sensitif dan supaya tidak terbaca kalau saya sedang punya masalah perceraian..."katanya lagi.  Begini mas.. kita bisa kok mencoba mengubah tulisan kita kalau kita punya kemauan, memang agak susah karena semua keluar dari alam bawah sadar kita.. tapi coba mas bandingkan ya tulisan saat pacaran, pengantin baru, dan saat sekarang dan nanti setelah proses perceraian selesai ya.. kataku sedikit sok tahu.. dari mana juga tu kalimat sampe bisa keluar.

Terus terang.. aku amat takut kalau salah bicara... dengan alasan sudah saatnya balik lagi ke tempat pelatihan aku meninggalkannya setelah mengucapkan terima kasih dan mendoakan semoga kedepan semuanya lebih baik. Aku salut padanya.. yang mau dengan kesadaran sendiri untuk melakukan perubahan.

Benar-benar tugas yang sulit.. lebih baik aku diminta untuk menawarkan kredit tabungan atau deposito saja daripada mendapatkan tugas seperti ini. Bukan apa-apa.. ilmumu ku masih rendah sekali..dan blank..

Di lift aku merenung-renung sendiri.. kenapa kok bisa pas ya..apakah ini kebetulan... atau memang  benar tulisan tangan kita itu adalah dunia yang penuh kejujuran... 







Maafkan mama...

Hari ini.. aku telah membuat sulungku menangis..
Menangis yang paling memilukan dihati dan telingaku
Hanya karena urusan sepele.. baju bekas..
Entah kenapa semua uneg-uneg dan kekesalanku selama ini
atas sikap anak-anakku kulepaskan begitu saja..
Dan setelah itu aku menangis dalam kesendirian..

Seandainya anak-anakku tahu..
betapa aku merasa berat menjalani semua kehidupanku yang berubah dalam tiga tahun ini
Kehidupan tanpa komunikasi..
Kehidupan yang memaksa aku untuk mampu berjuang sendiri..
Tiap hari kusimpan sendiri resahku, gelisahku..yang tak bisa kuceritakan pada anak-anakku..
Betapa aku mencari pelarian untuk membahagiakan diriku sendiri..
Betapa aku mencari penyelesaian sendiri untuk masalah-masalah pribadi yang kuhadapi sendiri
Betapa aku merasakan sepi.. takut..kuatir.. yang hanya kubisa kusimpan sendiri..
Dan tersedu-sedu dalam tidurku..
Dan mengeluhkan semua ini pada Nya..
Mencoba untuk selalu mengucap syukur atas semua derita yang aku rasakan..
Mencoba tertawa untuk menutupi tangis yang aku tahan...


Sudah kuminta maaf pada sulungku..
tapi sulungku masih menyimpan marahnya.. walau dibalut tangis yang masih tersedu-sedu
"aku capek mama..aku capek..."
ya mama tahu.. kamu capek.. semua yang dirumah ini capek..
Tiga tahun ini memang masa yang melelahkan hati kita..
Tapi tolonglah mengerti...
Kita semua bisa meledak tanpa terduga.. karena kita semua menahannya..
memampukan diri untuk mencoba menerima.. walau sakit...

Maafkan mamamu ini..
yang tak dapat mengekang lidah dan emosi..
tak ada keinginan sedikitpun untuk melukaimu..
mama hanya ingin diajak bicara..bahkan untuk hal-hal yang kecil sekalipun..
Apa yang mama lakukan.. semua hanya untuk membahagiakan semua anak-anak mama..
Kalau mama mampu bertahan saat ini .. ini karena kalian semua anak-anak mama..

Maafkan mama....


Ijinkan aku Tuhan...

Tiap pagi pak Anto Toding mengirimkan sarapan pagi berupa Firman Tuhan. Pak Anto selalu rajin membroadcast sarapan pagi kepada kami teman-temannya. Kadang aku membacanya selintas dengan alasan terburu-buru waktu, tapi tak jarang seperti Tuhan mengarahkan aku untuk membacanya dengan hikmat dan merenungkannya. Dan aku merasakan disaat aku tiba-tiba ingin mengetahui dan membacanya sampai akhir itu pasti merupakan peringatan Tuhan untuk sikap-sikapku yang harus segera dibereskan. 
Seperti di kemarin pagi ketika aku membaca mengenai sikap seorang pemimpin. Diceritakan mengenai sikap Pilatus dalam mengambil keputusan mengenai Yesus. Pilatus tahu..mana yang benar dan mana yang salah tapi dia tak mau melakukan. Seperti ini kisahnya,

SANTAPAN HARIAN
Kamis, 28 Maret 2013
Baca: Matius 27:11-31

TAHU, TETAPI TIDAK MELAKUKAN
Pada waktu rezim apartheid di Afrika Selatan berhasil digulingkan, Nelson Mandela naik utk menjadi pemimpin Afrika Selatan. Ia adalah seorang tokoh lokal yg memimpin perjuangan Afrika Selatan utk terbebas dari politik apartheid. Politik apartheid memisahkan org kulit hitam dari org kulit putih. Org kulit putih berlaku sbg kaum yg berkuasa. Hal yg menarik adalah ketika ia menjadi presiden, Nelson Mandela justru mengajak org² kulit putih utk bekerja bersamanya. Keputusannya itu menuai banyak protes dari org² di sekitarnya, termasuk rakyatnya. Namun Nelson Mandela tetap pada keputusannya. Pada akhirnya ia dapat membuat org² kulit hitam & kulit putih berdamai & bersama membangun Afrika Selatan.

Sepenggal kisah mengenai Nelson Mandela di atas sangat menarik krn menunjukkan seorang pemimpin yg tegas dalam mengambil keputusan yg menurutnya baik tanpa terpengaruh suara² lain di sekitarnya. Hal ini bertolak belakang dgn sikap yg ditunjukkan oleh Pilatus dalam bacaan kita kali ini. Pilatus sbg seorang pemimpin tdk memiliki sikap yg tegas dalam mengambil keputusan. Ia mengetahui kebenaran bhw Yesus tdk bersalah (23). Akan tetapi ia tdk mengikuti apa yang ia tahu benar melainkan mendengarkan kata² rakyatnya yg terbakar emosi (26). Ia menuruti istrinya utk tdk terlibat dlm kasus ini. Solusi yg ia tawarkan hanyalah utk keamanan diri (17). Padahal ia bertanggung jwb utk menyelesaikan & memiliki wewenang utk memutuskan. Ia melakukan cuci tangan & tidak mau dianggap bersalah (24).

Sebagai seorang pengikut Kristus, di manakah posisi kita pada saat ini? Apakah kita menjadi seorang pengikut yg memperjuangkan kebenaran ataukah kita adalah seorang pengikut yg mencari aman, bahkan akan cuci tangan kalau hal tersebut mengandung risiko? Apalagi kalau kita dipercaya menjadi seorang pemimpin, beranikah kita menegakkan kebenaran dgn tdk mencari kepentingan atau keuntungan diri sendiri? Amin.

Bukankah acapkali sikapku seperti itu. Trauma masa lalu mengajarkanku untuk lebih baik diam daripada kehilangan dan dibenci oleh sahabat maupun teman. Aku merasakan betapa sakitnya perbedaan pendapat, betapa menyakitkan kehilangan teman karena perbedaan pendapat. Aku dulu berpikir perbedaan pendapat itu makin memperkaya diri kita, tapi ternyata itu pendapat yang tidak benar. Perbedaan pendapat adalah penyebab kesalahpahaman, ketersinggungan dan kehilangan teman-teman dan yang menyedihkan kehilangan sahabat-sahabat.

Saatku tahu bagaimana duduk persoalan yang sebenarnya, aku sekarang tak terlalu ingin bicara. Karena banyak juga sahabatku yang mengatakan "sing waras ngalah" atau "udah diam sajalah nanti berantem lagi..urusan gak akan pernah selesai". Apalagi jika pengambilan keputusan sudah berdasarkan suara terbanyak, dan mayoritas menyetujui. Apakah ada gunanya lagi berbicara ? Apakah ada gunanya lagi menyatakan kebenaran ?
Dan tiba-tiba di pagi itu aku membaca Santapan Harian yang dikirimkan pak Anto Toding. Betapa aku sama dengan Pilatus.. aku lebih memilih mencari aman. Mengikuti saja apa yang menjadi suara terbanyak walau kadang aku ingin mengatakan apa yang aku tahu. Tapi ya sudahlah.. aku lebih mempercayai kata hatiku "waktu nanti yang akan membuktikan"

Aku sering teringat betapa dulu aku begitu berani menyatakan ketidaksetujuanku, apa isi kepalaku, apa yang aku tahu, walau itu berbeda. Sehingga aku berselisih dengan sahabat-sahabatku, aku penyebab banyak kekacauan dan kesalahpahaman..dan yang lebih parah perpecahan atas persahabatan yang telah kami bina bertahun-tahun. Sampai satu saat aku berada pada satu titik aku merasa bahwa kekerasan kepalaku tak ada gunanya.. karena aku kehilangan sahabat-sahabatku. Apa sebenarnya yang aku cari..???? Dan saat ini.. walau aku tahu diam itu salah, aku masih memilih lebih baik aku diam saja. Aku merasakan aku lebih nyaman..aku merasa lebih tentram dan aku bisa menikmati apa yang memang aku ingin nikmati.

Aku memang penuh dosa, penuh sakit hati, penuh dendam.. aku ingin mengikisnya menghilangkannya. Aku ingin punya arti untuk sesamaku.. bukan penghambat sesamaku.. walau aku tahu ada yang aku korbankan dengan pilihanku itu.

Tuhan..betapa banyak dosaku.. ampuni aku Tuhan
Ijinkan aku Tuhan.. saat ini aku untuk berdiam diri..
Untuk menahan perasaanku..lidahku..
Untuk belajar lebih sabar..
Untuk belajar santun menyampaikan pendapat..
Untuk belajar menghargai perasaan orang lain..
Bukan berkata "aku adalah orang yang terus terang dan apa adanya.. inilah aku.." tanpa mau mengerti perasaan orang yang mendengarkan perkataanku...
Biarlah kejadian ini mampu mendewasakan aku..
Memperbaiki semua kesalahan sikapku..

Aku mencintai semua sahabatku..
Ajari aku Tuhan
untuk selalu mengasihi sahabat-sahabatku dalam Kasih Tuhan Yesus.
Kasih Tuhan Yesus yang rela dikhianati, difitnah, dimaki, dicerca, dicambuk, dipukul, ditusuk duri, dipaku, ditombak, dan disalib, demi kami anak-anakMu yang penuh dosa.. tapi selalu mengampuni...
Kenapa aku tak mampu mengampuni... apakah yang kutanggung lebih berat dari yang Tuhan Yesus tanggung.. ahh.. tak ada apa-apanya Tuhan dibanding apa yang Tuhan Yesus harus tanggung.

Ajari aku Tuhan untuk menghapus dendamku dan selalu mengampuni....seperti Engkau mengampuni kesalahan kami.

Amin..


Sebuah Renungan di Jumat Agung.




Sabtu, 02 Maret 2013

Terima kasih untuk ke 4 malaikat penolongku..

Bloggy.. akhirnya aku mendapatkan seorang yang berhati malaikat yang mau menolongku. Namanya pak Manin. Dia lagi duduk-duduk di bawah pohon menanti mobil yang akan keluar dan masuk. Pak Manin  adalah seorang juru parkir. Senyumnya selalu mengembang di bibirnya. 

Dengan rela hati dia menolongku. "Tapi saya tak tahu mau menulis apa bu.." ujarnya bingung. "Bagaimana kalau cerita suka dukanya jadi juru parkir selama 8 tahun.." kataku. Suka duka ????? dia mengulang kalimatku.Nahhhh kan.. ada yang mau tapi tak tahu mau menulis apa.

Akhirnya dibuat kesepakatan dia menulis apa yang aku tanyakan berikut jawabannya. Tertulislah namanya, tanggal lahirnya, tempat tinggalnya, lama menjadi juru parkir, penghasilannya. Terakhir kutanyakan.. "kalau seandainya ada pilihan pekerjaan selain juru parkir.. bapak mau gak.. misalnya kerja di kantor jadi OB gitu.. atau apalah yang bisa bapak kerjakan ?" Dia dengan mantap menggeleng.. "kalau kerja kantor itu terikat.. kalau begini kan bebas..". Nah kan.. beda sama tadi pas ditanya.. kenapa jadi juru parkir.. jawabnya gak dapat kerjaan..nyari kerjaan susah.. dari pada nganggur mendingan jadi juru parkir. Tapi ya sudahlah terserah dia... yang penting dia mau nulis. Tapi kasihan juga pak Manin.. gara-gara ngobrol denganku beberapa mobil yang keluar tak sempat dia mintakan ongkos parkirnya. Waaaah sudah merugikan dia ya aku ini.

Begitu selesai dia menulis, maka ku minta dia mereferensikanku pada teman-temannya/ Maka langsung datanglah beberapa temannya. Nahhh... kalau begini enak juga. Dia yang meminta teman-temannya untuk menulis. Akhirnya terdapatlah 3 orang yang dengan tulus ikhlas mau menulis dengan mencontoh tulisan yang sudah di buat oleh pak Manin. Sambil nulis kami ngobrol ngalor ngidul namun masih dalam konteks tulis menulis. Saking asyiknya pak Suwarno yang pengojek menolak melayani penumpang. Waduh.. sudah 2 orang yang aku rugikan.

Akhirnya hari ini aku berkenalan dengan 4 orang.. pak Manin juru parkir yang katanya terpaksa jadi juru parkir daripada nganggur tapi tak mau kerja di kantor. Pak Suwarno pengojek yang dulu mantan supir tapi karena sudah tua jadi memutuskan untuk berhenti berdagang..dan akhirnya menjadi pengojek, pak  Jenal yang pedagang asongan yang katanya terpaksa jadi pedagang tapi sekarang sudah menikmati sebagai pedagang dari pada nganggur, dan terakhir yang paling muda juru parkir juga namanya Jamaludin yang ingin sekali bisa kerja di kantor sebagai apa saja. Saat ditanya berapa nomor HP nya dia bilang tidak ada. Lah tumben ada orang muda gak punya HP. Akhirnya dia bilang HP nya ketinggalan di kost dan dia tak hafal nomornya sendiri. Ya sudahlah.. apapun alasannya yang penting mereka sudah mau menulis untukku.

Terima kasih ya untuk ke empat malaikat penolong ku... semoga selalu sehat dan menemukan apa yang sebenarnya ingin dikerjakan...

Bukan Rejekiku dan dia...

Hallo Bloggy apa kabar.. 
Hari ini aku mencoba memperdalam sesuatu hal. Walau rasanya setelah duduk di kelas kepalaku rasanya jadi pusing tujuh keliling. Datang terlambat. Novel Agatha Christie yang belum selesai aku baca. Menambah lengkap rasa tidak siapku untuk duduk di kelas hari ini.
Baru duduk beberapa menit sudah mendapat tugas untuk mencari 3 orang yang mau menuliskan sesuatu untukku. Hohoho.. kemana ya harus kucari.

Akhirnya sambil berpikir sekali dayung dua pulau terlampui. Aku harus ke ATM untuk mengambil uang dan mencari 3 malaikat penolongku. Pergilah aku ke ATM dengan planning akan meminta tulisan kepada orang pertama yang aku temui di luar halaman hotel.
Ternyata penjual serbet atau lap yang aku temui pertama kali.

Awalnya aku jujur mengatakan aku sedang belajar dan minta pertolongan agar dia mau berbaik hati menulis sedikit saja untukku. Tapi tak mempan juga membujuknya. Akhirnya aku ajak berbicara soal impiannya. "Saya sebenarnya gak suka usaha keliling seperti ini.."katanya sedikit kesal. Lalu bapak maunya usaha apa. "Saya gak punya modal..kalo saya punya modal apa juga gak gampang". Oh yaaaa... "Ok..jadi kalo bapak punya modal katakanlah sekarang ada uang di depan bapak.. bapak mau usaha apa", pancingku. "Dagang"jawabnya mantap. OK..dagang apa.. begitul aku kejar. "Ya dagang.. punya lapak.. "sahutnya. Ok dagang punya lapak.. tapi bapak mau dagang apa.. Nah mulai dia mengernyit-ngernyitkan alisnya, "dagang kelontong" jawabnya.Well.. apa sih yang dimaksud kelontong itu.. bagaimana jika bapak tuliskan disini nama bapak, alamat, no Hp, dan keinginan bapak jika mendapatkan modal dari bank..pintaku. 

Dia menatapku.. "memang ibu siapa?" tanyanya curiga. Yaaaahhh.. dari tadi juga sudah dijelaskan..aku ini mau minta tolong dia mau menuliskan sesuatu untukku. Weelll dengan sedikit sombong aku jawab.."saya orang bank..saya bisa kasih modal bapak..berapa bapak memerlukan modal..??" Dia menyahut sepuluh juta dengan mantap. Nah tuliskan disini... bagaimana.. pintaku lagi. Mulailah terjadi perdebatan.. dia tak bisa menulis lah.. dia pusing lah.. dia nulisnya jelek lah.. plussss ditambah seseorang berteriak.."woooiii tulisannya mau dibaca tu..nasibnya buruk apa jelek..." Makinlah ketakutan penjual serbet itu.. dan langsung kabur..."lain kali aja deh bu..."... Hmmmm emang kalau bukan rejeki ..ya begini ini.. bukan rejeki dia dan juga bukan rejeki ku...

Jumat, 01 Februari 2013

Pada Saat Itu

Masih amat teringat dalam benakku, bagaimana kenakalan-kenakalan aku saat aku menjadi seorang karyawan. Aku tak memulai sesuatu tiba-tiba di atas. Aku memulainya semua dari bawah. Aku juga pernah bekerja sebagai karyawan rendahan. Dari seorang operator komputer di sebuah perusahaan yang besar, dan aku hanya menjadi operator komputer untuk divisinya yang paling kecil. Dengan gaji yang sebenarnya habis untuk membeli bensin mobilku. Tapi aku menjalaninya dengan amat bahagia. Waktu itu aku baru lulus SMA, dan iseng aku melamar karena membaca sebuah lowongan pekerjaan di kampus. Tanpa proses yang berbelit--belit aku diterima. Aku yakin dengan kemampuanku, komitmenku dan aku yakin yang mewawancaraiku pasti tertarik dengan jawaban-jawabanku.

Aku yakin aku bekerja dengan baik, sehingga bos ku meminta aku untuk bergabung di perusahaan pribadinya setelah kontrakku disini selesai. Siapa sih yang tidak bahagia, tak pernah melamar tiba-tiba diminta untuk bergabung. Tentu saja aku menyambutnya dengan antusias. Ibu ku jelas makin marah luar biasa. Komunikasi ku dengan ibu makin berantakan.

Demi menyelesaikan skripsi akhirnya aku kembali ke SMA ku, niatnya hanya untuk penelitian saja, tapi suster kepalaku meminta aku mengajar, karena jelas-jelas aku kuliah di IKIP. Aku sudah menolak dengan segudang alasan.. tapi susterku memaksa. Dari satu mata pelajaran sampai akhirnya menjadi tiga mata pelajaran. Pagi mengajar, siang kerja di bosku. Skripsi tak kunjung selesai. Komunikasiku dengan ibu makin dan semakin berantakan. Ulangan yang menumpuk yang harus aku periksa, kerjaan kantor juga makin menuntut perhatian karena usaha bos ku makin maju.

"Berapa gajimu menjadi guru?" tanya bosku... kusebut sejumlah yang membuat matanya membelalak heran. "Berhenti jadi guru..kerja saja disini setiap hari dengan jam kerja dari jam B sampai jam 5, saya bayar dua kali lipat dari yang kamu terima jadi guru..", perintahnya. Kepalaku tambah pusing. Membayangkan tugas guru yang tak enak. Membuat soal dan memeriksa, setiap minggu harus ulangan. Tiga mata pelajaran, belum lagi harus belajar karena harus lebih pintar dari muridnya. masih ditambah orang tua murid yang datang ke rumah meminta anaknya mendapatkan nilai yang baik agar bisa naik kelas.. malas sekali aku.  Tawaran tadi amat menggiurkan. Akhirnya aku mengundurkan diri dari sekolah. Heran juga.. buat apa kalau begitu aku sekolah di IKIP kalau tawaran bekerja lebih menarik untukku. Ibu ku tambah kecewa.. makin berantakanlah hubunganku dengan ibu.

Agar ibu tak terlalu kecewa buru-buru keselesaikan urusan kelulusan.. aku pindah jalur dari skripsi menjadi komprehensip. Aku yakin aku akan lulus, karena dosen-dosenku mengenal aku dengan baik dan aku selalu membina komunikasi yang baik dengan dosen-dosenku. Seperti dugaanku nilai ujian kompreku memuaskan. Walau aku lulus ibu tetap tak bahagia.. "bagaimana bisa S2 kalau kamu mengambil komprehensip bukan skripsi" begitu amarah ibu. Aku menjawab dalam hati.. aku nanti mau menjadi ibu rumah tangga saja.. jadi tidak perlu S2.. dan kusimpan semua keinginan untuk kuliah S2. (Setelah kuliah di S2 baru kutahu kalimat ibu itu benar.. tanpa skripsi..aku seperti orang paling beloon di kelas).

Loyalitasku tinggi sekali pada bosku.. bertahun-tahun aku mengikutinya. Dari yang hanya tukang entry sampai menjadi tangan kanan bos. Bosku amat dekat padaku. Amat baik padaku. Amat percaya padaku dan amat-amat lainnya. Dikantorku tak ada mesin absensi, sebagai akibatnya bosku amat rajin menelpon setiap pagi .. mengecek siapa yang sudah datang dan yang belum datang. "Farida sudah datang..?".. sudah bu,, mana saya mau bicara,, "Dari sudah datang.."..sudah bu.. mana saya mau bicara..dan karyawan selanjutnya. Sampai suatu saat kami bersepakat kalau terlambat dan bos sudah menelpon ..katakan ya kalau di toilet.. Sekali dua kali aman.. tapi sepandai-pandainya tupai melompat ya akhirnya jatuh juga. Akhirnya aku mendapat teguran keras, karena bosku amat percaya padaku, tapi aku berani menipunya. Setelah itu.. aku bisa menjadi lebih bijaksana.. meminta pengertian teman untuk menjadi apa adanya saja. Terlambat ya mengaku saja terlambat.

Bekerja bertahun-tahun ternyata membosankan juga. Aku iseng melamar disebuah bank umum. Aku yakin 100% pasti aku diterima, apa yang di test pada ku aku bisa, dan aku yakin pasti yang mewawancara aku akan tertarik padaku. Akhirnya aku bingung sendiri. Meninggalkan bos atau menjadi karyawan bank. Akhirnya aku tetap pada bosku. Ibuku tambah marah luar biasa. Ibuku ingin aku kerja di bank, apalagi pihak bank menelpon terus menerus ke rumah minta aku bergabung dan ibu yang menerima. Segudang nasihat tak mempan membuatku pindah. Aku malas jadi bawahan, lebih enak jadi bos kecil di tempat bosku. Disana aku bisa belajar banyak hal.

Entah kenapa partner bosku menawarkan aku untuk ikut dia. Mungkin saat itu aku sedang error tanpa pikir panjang aku mengajukan pengunduran diri pada bosku. Padahal jelas-jelas kalo bosku tahu dia akan berang luar biasa. Akhirnya aku pindah di tempat partner bosku. Baru sebulan aku sudah tak kerasan. Kerjanya hanya jalan-jalan saja seperti tak ada kerjaan. Aku melamar di perusahaan Jepang yang sangat terkenal. Di wawancara oleh orang jepang, dengan bahasa inggris ala kadarnya aku menjawab. Entah apa kriterianya.. aku diterima bekerja disini.  Apa karena aku satu lift dengan yang mewawancarai aku saat aku pertama kali datang.. dan saat aku duduk dihadapan nya aku makin yakin dia akan tertarik untuk menerimaku. Setelah diterima aku bingung sendiri. Tak enak mengajukan pengunduran diri. Ibuku marah ... karena aku tak juga mau memanfaatkan kesempatan yang tak selalu datang untuk kedua kalinya. Ah.. aku malas.. kerja di Cibitung.. jadi karyawan rendahan, lebih baik ikut partner bosku, jadi tangan kanannya.

Mantan bosku selalu menelpon.. memintaku kembali. Entah mungkin aku sedang error karena tak banyak kerjaan di tempat partner bosku..aku akhirnya minta maaf dan mengatakan aku ingin kembali saja ke bosku yang dulu. Partner bosku bertanya..apakah gajinya kurang.. bukan masalah gaji.. tapi aku malas kalau tak ada kerjaannya.
Akhirnya aku kembali lagi pada bosku. Ibuku tambah pusing..hubunganku tambah buruk dengan ibuku.

Sampai akhirnya aku memutuskan untuk berhenti karena aku sudah berkeluarga dan aku telah hamil. Bosku kecewa..kecewa luar biasa. Saat aku keluar hubungan kami menjadi tidak baik. Dia kecewa..aku kecewa. Tapi Tuhan mempertemukan kami kembali dan memperbaiki hubungan kami. Dan hubungan kami baik sampai saat ini.

Jadilah aku pengangguran.. bukankah aku kemarin pernah menjawab dalam hati aku ingin menjadi ibu rumah tangga.. jadilah aku ibu rumah tangga.. dan ternyata jadi ibu rumah tangga itu tidak membuat aku bahagia. Isinya aku hanya meributkan suamiku yang pulang terlambat karena aku sendirian di rumah. Cemburu besar jika suami keluar kota atau keluar negeri. Makin pusing... ibupun makin pusing dan memutar otak...

Intinya ibu tak ingin aku hanya menjadi ibu rumah tangga.

Kita buat BPR, apakah mau mengurus. Ya daripada mengecewakan ibu terus menerus, aku mengangguk-angguk saja. BPR apa saja aku tak tahu.. yahhh yang penting ibu bahagia dulu lah.





Senin, 31 Desember 2012

Selamat Tinggal 2012.. Selamat Datang 2013

Tahun 2012 adalah tahun yang banyak menyimpan kenangan. Kenangan manis dan juga kenangan yang pahit. Tapi apapun itu aku dijadikan bertumbuh dan makin dewasa dalam menghadapi warna-warni kehidupan yang harus aku jalani.

Tahun 2012 Ibu meninggalkan aku untuk selamanya. 14 Mei 2012. Setelah berhari-hari di ruang ICU. Sepertinya ibu tahu betapa kami berempat tak tahu harus mengambil keputusan yang terbaik untuk ibu. Kami tahu betapa tersiksanya ibu mengikuti keinginan kami untuk mempertahankan dengan segala daya upaya kami. Aku berharap ibu mengerti saat aku membisikkan bahwa aku akan melanjutkan kuliah lagi, aku tahu ibu menyimpan keinginan itu tapi tak ingin membebani aku dengan tanggung jawabku terhadap Yo dan putri-putriku. Walau diakhir sebelum ibu sakit, ibu meminta aku melanjutkan sesuai dengan keinginanku, cita-citaku, mimpiku. Tapi aku simpan dulu mimpi itu ibu..aku tak tahu apakah jurusan ini sesuai tidak untuk aku.. tapi aku ingin mencintai apa yang bisa kupilih, apa yang ada dihadapanku. Aku berharap aku mampu menyelesaikannya dan tak membuat satu orangpun kecewa kepadaku.

Tahun 2012 adalah tahun dimana aku harus melewati hari-hariku tanpa ibu. Tanpa seseorang yang bisa aku ceritakan bagaimana sakitnya hati ini bagaimana gundahnya hati ini bagaimana bahagianya hati ini. Aku mulai belajar memutuskan sendiri, berdiskusi dengan diriku sendiri. 

Tahun 2012 adalah tahun dimana aku amat merasakan betapa kakak dan adikku senantiasa menjagai aku, memintaku untuk tidak merasa sendiri..karena mereka selalu ada untuk aku..

Tahun 2012 adalah tahun dimana aku amat merasakan bahwa ketiga putriku amat mengerti aku, mensuport aku.. prestasi mereka yang amat membanggakan untukku. Putriku mampu bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri. Mereka belajar tanpa harus aku minta, mereka telah tahu apa yang seharusnya mereka perbuat. 

Tahun 2012 adalah tahun dimana aku melihat bahwa walau lambat aku melihat ada perkembangan sedikit demi sedikit untuk kesehatan Yo. Bicaranya walau masih tak mampu menjawab aku menangkap dia makin mengerti apa yang kami bicarakan, Aku mulai mengerti bahasa yang keluar dari mulutnya. Aku melihat Yo diam-diam berlatih sendiri sesuai kemampuannya. Makin hari aku makin merasakan bahwa cintanya memang selalu ada untukku. Aku melihat bagaimana ia begitu bangga menunjukkan koran yang memuat diriku, dan kemudian menyimpan koran itu dengan baik. Yo selalu tahu saat aku resah.. tangannya selalu siap mengusap punggungku saat dia melihat aku gelisah dalam tidurku. Makin hari aku makin belajar untuk mencintainya dalam segala kekurangannya. Ya.. aku akan mendampinginya apapun yang terjadi. Aku pastikan aku selalu ada Yo.. untukmu. Maafkan aku jika aku begitu banyak kekurangan dan tak sempurna dihadapanmu.

Tahun 2012 adalah tahun dimana aku makin berani untuk membagi beban tanggung jawabku pada tim ku di kantor, pada orang-orang yang aku percayai. Dan aku makin tahu bahwa mereka tak pernah setengah-setengah mensuport aku. Dan buktinya.. akhir tahun ini dapat kami tutup dengan manis.

Tahun 2012 adalah tahun dimana aku menjadi mahasiswi kembali. Aku mendapati kelasku begitu menyenangkan, penuh gelak tawa. Kadang aku rindu ingin cepat kuliah disaat libur, tapi ingin libur disaat kuliah. 

Tahun 2012 adalah tahun dimana aku mulai berani menyatakan perbedaanku di depan banyak orang. Aku tahu itu makin menyakiti hatinya. Tapi ini adalah awal dan juga akhir. Setelah kejadian itu aku telah berjanji  untuk menutup mulutku dan tak akan melakukan apapun untuk mempertahankan pendapatku. Aku ingin membebaskan diriku dari sakit yang telah membelengguku bertahun-tahun. Aku akan menutup mata, telinga, mulutku dan bahkan hatiku. 

Tahun 2012 adalah tahun dimana aku mendapatkan seorang sahabat. Entah bagaimana awalnya, kami bisa menjadi dekat, padahal kami sudah mengenal satu sama lain bertahun-tahun yang lalu. Tapi semuanya biasa saja. Dia adalah satu-satu nya orang yang bisa membuat aku masuk dalam percakapan yang sebelumnya tak pernah aku mau mengucapkannya. Kami bisa mentertawakan kebodohan kami sendiri. Menceritakan kejelekan kami masing-masing, dan saling mentertawakan. Dunia ini makin berwarna dengan kehadirannya. Aku mulai menikmati senda guraunya. Aku mulai santai dalam menghadapi gaya bicaranya. Dan aku mulai belajar mengikuti arusnya. Dan aku akan tersenyum senang jika aku bisa mengalahkan kekonyolannya. Kenapa setiap hal harus dihadapi dengan serius.. ya ya.. kenapa harus menangis jika masih bisa tertawa.


Aku percaya bahwa setiap orang yang hadir dan pergi dalam kehidupan ku adalah semua atas rencananya. Aku tahu Tuhan ingin memberikan ku yang terbaik. Aku belajar untuk tidak menyesali setiap pertemuan yang berakhir dengan perpisahan. Setiap persamaan yang berakhir dengan perbedaan. Aku tahu Tuhan menghendaki aku untuk tumbuh, dan Dia tahu yang terbaik untukku. Aku tahu kini aku sudah bisa menghapus air mataku sendiri.. 
Aku tahu kini aku sudah belajar untuk tidak terlalu serius dalam menanggapi sebuah perbedaan..
Aku tahu kini aku makin bertumbuh..

Terima kasih Bapa.
Terima kasih Ayah dan Ibu..
Terima kasih Yo..
Terima kasih putri-putriku
Terima kasih kakak dan adikku
Terima kasih untuk tim kerjaku
Terima kasih sahabat-sahabatku
Terima kasih untuk mbak di rumah
Terima kasih untuk setiap orang yang kujumpai dalam hidupku...
Terima kasih untuk seseorang yang telah membuat hidupku penuh gelak tawa.., yang membuatku sanggup untuk mentertawakan diriku sendiri..dan mengajarkanku untuk melihat sebuah dunia dari sudut yang berbeda.

Terima kasih.... untuk tahun 2012 yang menjadi penuh warna dalam kehidupanku..
Selamat tinggal 2012.. biar masa lalu yang tak perlu ku ingat biarlah tak teringat..
Selamat datang 2013.. ijinkan aku makin bertumbuh dan makin mengerti makna hidup ini..
Ijinkan aku untuk dapat menyentuh kehidupan banyak orang, walau dengan hal-hal yang sederhana.




Sabtu, 22 Desember 2012

Akan banyak jalan menuju kesana...

Jika bicara Amerika..
Putriku sulungku selalu menangis..
Jangan bicara itu lagi mami
Katanya sambil terisak..

Ku yakin ..
suatu saat dia akan mengerti
Bahwa banyak hal
yang menjadi pertimbanganku

Yakinlah nak..
Suatu saat
akan banyak jalan menuju kesana
Percayalah..

Impianmu
Cita-citamu
Pasti menjadi nyata...
Belajarlah yang baik sekarang
Untuk bekalmu kelak...

Impianmu..
Itu juga menjadi impian mama..
Tuhan pasti akan membukakan jalan...