Biar Disapu Ombak

Biar Disapu Ombak
Lupakan.. lalu semuanya akan selesai...

Sabtu, 20 April 2013

Putri yang Merdeka Cita-citanya



Ibu kita Kartini Putri sejati
Putri Indonesia Harum namanya

Ibu kita Kartini Pendekar bangsa
Pendekar kaumnya Untuk merdeka

Wahai ibu kita Kartini Putri yang mulia
Sungguh besar cita-citanya Bagi Indonesia

Ibu kita Kartini Putri jauhari
Putri yang berjasa Se Indonesia

Ibu kita Kartini Putri yang suci
Putri yang merdeka Cita-citanya

Wahai ibu kita Kartini Putri yang mulia
Sungguh besar cita-citanya Bagi Indonesia

Ibu kita Kartini Pendekar bangsa
Pendeka kaum ibu Se-Indonesia

Ibu kita Kartini Penyuluh budi
Penyuluh bangsanya Karena cintanya

Wahai ibu kita Kartini Putri yang mulia
Sungguh besar cita-citanya Bagi Indonesia



Itulah syair lagu Ibu Kita Kartini karangan WR Supratman. Ternyata panjang bukan syairnya. Tapi yang biasa kita nyanyikan hanya bagian depannya saja. 3 bait saja. Dari sekian bait yang panjang itu ada satu bait yang aku ulang baik-baik "Ibu kita Kartini Putri yang suci
Putri yang merdeka Cita-citanya"

Putri yang merdeka cita-citanya. Merdeka cita-citanya. Apakah aku sudah memerdekakan anak-anakku dalam menentukan cita-citanya. "Aku ingin sekolah fashion mami di Amerika..."kata sulungku.. "Aku ingin menjadi animal director mami.. atau aku ingin tahu tentang panda.."kata bungsuku. "Aku ingin menjadi dokter gigi.. ahhh dokter umum... sepertinya aku ambil teknik kimia saja mami tapi di UGM saja". Dan aku menjawabnya.. "kenapa tidak sekolah ekonomi saja, kenapa tidak di Jakarta saja.. kenapa tidak.. kenapa tidak..." atau aku menjawab.. "boleh di teknik kimia tapi di Jakarta aja ya.. kalau UGM nanti bagaimana kalau mami kangen.." atau "boleh fashion tapi di Jakarta saja ya.. jangan jauh-jauh..". Dan kadang kulihat anakku terisak pelan dan keluarlah air matanya.

Apakah aku sudah tidak memerdekakan cita-cita putri-putriku ? Apakah melarang putriku ke Bandung karena tak ikhlas dan terlalu kuatir juga termasuk kategori aku tak memerdekakan cita-cita mereka. "Aku sudah besar mami.. aku sudah bisa jaga diri.. kalau cara mami seperti ini aku tak kan pernah lihat dunia ini.."kata putri bungsuku sambil terisak-isak. Ohhh.. aku tersentak mendengar kata-katanya. "Kalau begitu mami temani ya.. " kataku mengalah.. tapi ternyata bukan soal ke Bandung nya.. tapi soal diijinkan pergi dengan teman-temannya. 

Mempunyai tiga putri bukanlah persoalan yang mudah. Apalagi dengan kondisi Yo saat ini. Semuanya harus kuputuskan sendiri dan kadang air mata putriku sudah membuatku berpikir apakah aku terlalu memproteksi. Kadang aku ngotot mempertahankan kehendakku tanpa mau tahu airmatanya, kadang aku luluh oleh airmatanya.

Tapi kulihat jika aku tak membatasi putri-putriku, mereka bertindak dengan penuh tanggung jawab. Putri sulungku. Kubiarkan ia dengan pilihan-pilihannya walau aku begitu takut dengan dunia fashion yang aku tahu begitu glamour dan dandanan yang kadang seronok. Dia begitu all out menjalani pilihannya. Tugas-tugas dari dosennya semua dikerjakan dengan sebaik-baiknya bahkan menurutku kadang terlihat terlalu sempurna. Melihatnya bagaimana dia mau berjuang membuat yang terbaik, aku jadi ingat bagaimana aku dulu saat SMA dan saat kuliah. Putriku sudah bisa menentukan kapan dia bisa bermain dengan teman-temannya dan kapan dia harus konsentrasi pada kuliahnya juga tahu kapan bisa asyik dengan blognya.

Putri kedua dan ketigaku. Aku begitu percaya bahwa mereka dapat mengatur waktu dengan sebaik-baiknya. Kapan harus belajar dan kapan harus bermain. Seingatku dari kelas 4 SD semua putriku sudah tahu kapan harus belajar dan kapan bermain-main. Putriku tahu kapan harus les kapan harus belajar sendiri di rumah. Mereka menentukan guru les nya sendiri. Menentukan waktu belajarnya sendiri. Aku bersyukur dulu mengikuti nasihat ibuku untuk tidak mencereweti anak untuk belajar. "Kalau mereka tahu kenapa mereka harus belajar dan apa manfaatnya belajar.. mereka akan belajar.. " begitu pesannya selalu. Ya ibuku tidak pernah belajar Quantum Learning, tapi apa yang diucapkan itu adalah Quantum Learning.. AMBAK (Apa Manfaatnya Bagi AKu)..yaitu motivasi yang didapat dari pemilihan secara mental apa manfaat dan akibat-akibat dari suatu keputusan. Dan secara tak langsung kita juga telah mengajarkan anak-anak kita untuk mengambil keputusan. Jika kita mampu menciptakan minat anak-anak kita pada suatu subjek, maka biasanya anak-anak kita akan menuju pada minat-minat baru, menciptakan reaksi rantai yang terus menerus. Itu membantu anak-anak kita membuat keputusan dengan penuh keyakinan dan dapat melahirkan pribadi yang kuat.

Aku ingat dulu saat aku lulus SMA, aku tak bisa mengendarai kendaraan baik roda dua dan roda tiga. Ibuku yang mati-matian mengupayakan aku untuk bisa mengendarai kendaraan. Bahkan ibuku rela menemani aku belajar mengemudikan mobil. Ibu selalu megatakan nanti suatu saat kamu akan mengerti kenapa ibu memaksakan ini. Kalau kamu bisa mengendarai mobil kamu tak bergantung pada orang lain, kamu bisa mandiri. Apakah seumur hidupmu kita harus bergantung pada supir? pada kakakmu pada adikmu?. Kamu bisa pergi kemana kamu akan pergi. Ya.. ibuku selalu mengutarakan manfaat apa yang akan aku peroleh jika aku mengikuti sarannya. Saat aku memutuskan untuk tidak bekerja. Ibu ku mendiamkan aku beberapa saat, tetapi setelah itu ibu mengarahkan aku, memberikan pandangan-pandangan padaku baik buruknya jika aku memilih sebagai ibu rumah tangga. Dan kalau aku memilih mengikuti sarannya itu bukan karena paksaannya, karena aku sudah mengerti AMBAK, Apa Manfaatnya Bagi AKu. Apalagi sekarang disaat suamiku sakit..aku semakin mengerti kenapa ibuku memaksakan hal ini padaku. Aku makin melihat..inilah manfaatnya.

Saat marak penjualan kunci jawaban untuk Tryout dan UN. Putriku tak ada yang terpengaruh untuk membeli. Kenapa gak beli saja kataku sering memancing-mancing. Atau jangan-jangan udah beli..kataku menyelidik. "Kenapa sih mami gak percaya sama aku.. gak tahu aku ini bagaimana.. mami soal-soal UN itu adalah soal yang mudah.. kalau itu saja gak mampu jawab.. gimana nanti ujian masuk PTN...gimana nanti kalau diminta ngerjain soal..Lagian kenapa harus jadi orang yang gak percaya diri.. ya kalau bener jawabannya.. kalau salah..? Mendingan juga belajar.. dan aku belajar bukan hanya untuk lulus.. tapi karena aku ingin mengerti..ingin bisa.. " Aku kadang terpana dengan jawaban-jawabannya. Atau saat mereka saling curhat di mobil soal perlu tidaknya UN karena maraknya penjual jawaban. "Kenapa yang disalahkan UN nya.. kenapa yang disalahin yang jual jawaban.. kenapa yang disalahin gurunya.. ya yang salah ya yang beli jawaban lah.. yang gak percaya diri.." dan lagi-lagi aku hanya menyimaknya diam-diam. Diantara kekuatiranku mengenai kelulusan dengan yakinnya putriku merasa dirinya lulus. Kadang aku merasa anakku lebih dewasa daripada aku.

Ya aku bahagia menjadi ibu yang dibukakan pikirannya oleh anak-anakku. Walau kadang aku cemas tapi aku tekan rasa cemasku. Kadang aku kuatir tapi memang aku harus belajar menghilangkan rasa kuatirku. Kadang aku sedih jika aku bertanya pada mahasiswaku "kenapa memilih jurusan ini?" dan mereka menjawab.."karena mama ingin aku memilih jurusan ini..". Atau saat aku bertemu dengan seorang anak aku bertanya "nanti besar mau jadi apa..?" dan dia menjawab "maunya mama sih aku jadi dokter tapi aku maunya jadi pelukis". Jawaban-jawaban itulah yang akhirnya menguatkan aku untuk memerdekakan anak-anakku memilih.. memilih apa yang ingin dipilih. Aku sebagai ibunya berkewajiban mengarahkan dan mengingatkan atas apa yang dipilihnya..bukan melarang. Kalau ibu Kartini yang lahir 21 April 1879 saja sudah mempunyai impian untuk memerdekakan cita-citanya, untuk memerdekakan wanita.. kenapa kita kadang sulit memerdekakan anak-anak kita dalam menentukan cita-citanya. Saat mereka mampu membuat keputusan sendiri..sudah sepantasnya kita merayakannya. Seperti juga kita memberikan kebebasan untuk merayakan bersama teman-temannya berakhirnya UN, merayakan dengan dirinya sendiri setelah selesai mengerjakan tugas berhari-hari dengan bangun siang dihari sabtu atau minggu. Karena mereka pasti sudah tahu..kapan mereka harus bangun siang dan kapan harus bangun pagi.


Biarlah anak kita mengikuti suara hatinya lentera jiwanya... seperti lagu lentera jiwa ini..

Lama sudah kumencari Apa yang hendak kulakukan 
Sgala titik kujelajahi Tiada satupun kumengerti
Tersesatkah aku di samudra hidupmu
Kata-kata yang kubaca Terkadang tak mudah kucerna 
Bunga-bunga dan rerumputan Bilakah kau tahu jawabnya
Inikah jalanku inikah takdirku
Kubiarkan kumengikuti suara dalam hati 
Yang slalu membunyikan cinta 
Kupercaya dan kuyakini murninya nurani 
Menjadi penunjuk jalanku Lentera jiwaku
Kubiarkan kumengikuti suara dalam hati 
Yang slalu membunyikan cinta 
Kupercaya dan kuyakini murninya nurani 
Menjadi penunjuk jalanku Lentera jiwaku

 



Senin, 15 April 2013

Selamat Ulang Tahun Yo

Hari ini Yo berulang tahun
51 tahun sudah umurnya
Tapi penyakitnya telah membuat ia tak seperti seorang Pria yang berumur 51 tahun.

Tiga tahun sudah bahkan lebih kami melewatinya..
Situasi yang kadang membuat kepala kami rasanya mau pecah
Situasi yang bisa membuat kami meledak-ledak
Situasi yang membuat kami menangis terisak-isak.
Situasi yang bisa membuat kami terbahak-bahak mentertawakan kebodohan kami sendiri.


Tiga tahun lebih kami menanti..
Ingatannya bisa kembali sempurna
Tapi tak juga datang..
Tapi tak juga menjadi kenyataan

Tiga tahun lebih putri kami menanti
Melihat papa nya seperti yang dulu
Yang bisa menjadi teman belajar
Yang bisa membantu memecahkan tugas yang sulit
Yang rela membagi bagiannya untuk mereka

Tiga tahun lebih kami menanti
Yo mampu memanggil kami seperti yang dulu
Tapi itu masih menjadi mimpi

Tiga tahun lebih kami berkomunikasi
Dengan menebak-nebak
Dengan menerka-nerka
Dengan mengira-ngira

Tiga tahun lebih kami meributkan
soal makanan
soal kedokter
soal ke Lab
Tapi kami tak pernah bisa membuat Yo tergerak
Yo terlalu seenaknya..

Dulu air mata kami air mata keperihan...
Sekarang air mata kami air mata bahagia
saat Yo mampu melakukan hal yang baru

Pahit..??
Ya amat pahit..
Tapi inilah yang ada di depan kami
Yang harus kami hadapi walau teramat berat..
Yang harus kami hadapi dengan senyum dan hati yang penuh Syukur pada Nya.

Selamat ulang tahun Yo..
Kami hanya berharap Yo tahu satu hal..
Kami memang sering melarang...
Itu karena rasa sayang kami.. yang begitu besar..

Selamat ulang tahun Yo..
Kami ingin melihat Yo yang dulu..
Kami rindu bisa berbagi cerita..
Tentang apa saja....

Selamat Ulang tahun Yo
maafkan jika aku terlambat pulang
Janjiku hari ini terasa seperti janji palsu..
Kue pun hanya martabak manis diberi magic candle..
Tapi kamu lihat Yo.. kami semua bahagia berada di sisimu..

Selamat Ulang tahun Yo
Tuhan amat sayang pada kita...
Kita pasti mampu melaluinya..

15 April 2013







Jumat, 29 Maret 2013

Suatu Saat.... lewat Tulisan Tangan

Masih aku ingat saat aku diberikan tugas oleh pak Bayu untuk mencari satu orang yang mau dibaca tulisan tangannya. Saat aku mendengar dia menugaskan seperti itu, ingin rasanya aku lari saja dari pelatihan ini. Yaaa rasanya mencari orang yang mau diganggu dihotel ini dan mau diketahui masalahnya dan kepribadiannya dengan suka rela .. mana mungkin ada yang mau.
Tapi demi martabat dan nama baik yaaa dengan amat sangat terpaksa aku cari juga orang yang mau dibaca-baca tulisan tangannya.

Akhirnya langkahku berhenti di resepsonis. Ada seorang petugas pria yang berbadan tegap dan jangkung yang berdiri disana. Tampan menurut ukuranku. Dan ternyata tak berkeberatan untuk dibaca tulisannya bahkan begitu antusias.. 

Dengan senang hati dia menuliskan apa yang aku minta. Menuruti semua perintahku. Sedang kan aku sibuk mereka-reka apa arti dibalik tulisan tangannya. Mau mati saja rasanyaaaaaa. Sepertinya semua isi buku yang sudah aku baca dan semua yang telah dijelaskan oleh pak Bayu hilang lenyap tanpa bekas.. 

Kucerna satu persatu tulisannya. Aku bahas satu persatu berdasarkan yang aku ingat lebih dahulu. Pertama-tama tanda tangannya. Mas pasti lebih suka dipanggil dengan nama belakang yaaa.. "loh kok ibu tahu..." nahhh kalimat ini sedikit memberi semangat. Kok nametagnya pake nama yang didepan mas... kan mas sukanya dipanggil dengan nama belakang. Mas nya tersenyum..amat manis.. hahaha..aku jadi cuci mata.. cakep-cakep kok gak jadi model saja sih mas...
"Habis dari awal kerja temen-temen sudah terlanjur manggil nama depan sih bu.. jadi susah mau ganti nama belakang..".

Mas ini mesti tanda tangan dari remaja belum pernah ganti ya... "loh kok ibu tahu..." hahaha bahagia rasanya kalau dijawab begitu. Rasanya aku sedang jadi mama Loren. Mulailah dia bercerita soal tanda tangannya yang berbintang itu. Jadi dia yang banyak curhat.. aku mendengarkan baik-baik dan menyimak. "Saya pengen ganti tanda tangan bu...kasih saran dong gimana baiknya..."... gleg gleg gleg.. aku mau ganti tanda tangan aja sampai sekarang gak jadi-jadi..masih mencari dan mencari.. mana yang terbaik. Akhirnya berdasarkan jurus-jurus yang sudah dipelajari dan tersangkut dikepala aku menjelaskan kepada mas yang tampan ini. Dia mengangguk-angguk tanda setuju. Mudah-mudahan gak ada yang salah ya mas... maklum mas masih belajar.

Kemudian kulihat huruf d nya.. mas ini pasti perasaan nya sehalus kulit wajahnya.. hahaha.. mata ini kayaknya perlu disekolahin juga.. Lagi-lagi dia mengangguk-angguk dan curhat sendiri. Haduh senengnya kalau dapat klien seperti ini.

Kemudian dengan perlahan aku menanyakan apakah ada masalah dalam kehidupan keluarganya.. dengan ayah atau pasangan.. karena terbaca demikian di tulisannya.. "saya sedang dalam proses cerai bu.." Haduh rasanya kalau bisa aku pengen udahan saja... rasanya gak tega mengudak-ngudak perasaan dan persoalannya.
"Bu..saya ingin mengubah tulisan saya.. supaya saya tidak sensitif dan supaya tidak terbaca kalau saya sedang punya masalah perceraian..."katanya lagi.  Begini mas.. kita bisa kok mencoba mengubah tulisan kita kalau kita punya kemauan, memang agak susah karena semua keluar dari alam bawah sadar kita.. tapi coba mas bandingkan ya tulisan saat pacaran, pengantin baru, dan saat sekarang dan nanti setelah proses perceraian selesai ya.. kataku sedikit sok tahu.. dari mana juga tu kalimat sampe bisa keluar.

Terus terang.. aku amat takut kalau salah bicara... dengan alasan sudah saatnya balik lagi ke tempat pelatihan aku meninggalkannya setelah mengucapkan terima kasih dan mendoakan semoga kedepan semuanya lebih baik. Aku salut padanya.. yang mau dengan kesadaran sendiri untuk melakukan perubahan.

Benar-benar tugas yang sulit.. lebih baik aku diminta untuk menawarkan kredit tabungan atau deposito saja daripada mendapatkan tugas seperti ini. Bukan apa-apa.. ilmumu ku masih rendah sekali..dan blank..

Di lift aku merenung-renung sendiri.. kenapa kok bisa pas ya..apakah ini kebetulan... atau memang  benar tulisan tangan kita itu adalah dunia yang penuh kejujuran... 







Maafkan mama...

Hari ini.. aku telah membuat sulungku menangis..
Menangis yang paling memilukan dihati dan telingaku
Hanya karena urusan sepele.. baju bekas..
Entah kenapa semua uneg-uneg dan kekesalanku selama ini
atas sikap anak-anakku kulepaskan begitu saja..
Dan setelah itu aku menangis dalam kesendirian..

Seandainya anak-anakku tahu..
betapa aku merasa berat menjalani semua kehidupanku yang berubah dalam tiga tahun ini
Kehidupan tanpa komunikasi..
Kehidupan yang memaksa aku untuk mampu berjuang sendiri..
Tiap hari kusimpan sendiri resahku, gelisahku..yang tak bisa kuceritakan pada anak-anakku..
Betapa aku mencari pelarian untuk membahagiakan diriku sendiri..
Betapa aku mencari penyelesaian sendiri untuk masalah-masalah pribadi yang kuhadapi sendiri
Betapa aku merasakan sepi.. takut..kuatir.. yang hanya kubisa kusimpan sendiri..
Dan tersedu-sedu dalam tidurku..
Dan mengeluhkan semua ini pada Nya..
Mencoba untuk selalu mengucap syukur atas semua derita yang aku rasakan..
Mencoba tertawa untuk menutupi tangis yang aku tahan...


Sudah kuminta maaf pada sulungku..
tapi sulungku masih menyimpan marahnya.. walau dibalut tangis yang masih tersedu-sedu
"aku capek mama..aku capek..."
ya mama tahu.. kamu capek.. semua yang dirumah ini capek..
Tiga tahun ini memang masa yang melelahkan hati kita..
Tapi tolonglah mengerti...
Kita semua bisa meledak tanpa terduga.. karena kita semua menahannya..
memampukan diri untuk mencoba menerima.. walau sakit...

Maafkan mamamu ini..
yang tak dapat mengekang lidah dan emosi..
tak ada keinginan sedikitpun untuk melukaimu..
mama hanya ingin diajak bicara..bahkan untuk hal-hal yang kecil sekalipun..
Apa yang mama lakukan.. semua hanya untuk membahagiakan semua anak-anak mama..
Kalau mama mampu bertahan saat ini .. ini karena kalian semua anak-anak mama..

Maafkan mama....


Ijinkan aku Tuhan...

Tiap pagi pak Anto Toding mengirimkan sarapan pagi berupa Firman Tuhan. Pak Anto selalu rajin membroadcast sarapan pagi kepada kami teman-temannya. Kadang aku membacanya selintas dengan alasan terburu-buru waktu, tapi tak jarang seperti Tuhan mengarahkan aku untuk membacanya dengan hikmat dan merenungkannya. Dan aku merasakan disaat aku tiba-tiba ingin mengetahui dan membacanya sampai akhir itu pasti merupakan peringatan Tuhan untuk sikap-sikapku yang harus segera dibereskan. 
Seperti di kemarin pagi ketika aku membaca mengenai sikap seorang pemimpin. Diceritakan mengenai sikap Pilatus dalam mengambil keputusan mengenai Yesus. Pilatus tahu..mana yang benar dan mana yang salah tapi dia tak mau melakukan. Seperti ini kisahnya,

SANTAPAN HARIAN
Kamis, 28 Maret 2013
Baca: Matius 27:11-31

TAHU, TETAPI TIDAK MELAKUKAN
Pada waktu rezim apartheid di Afrika Selatan berhasil digulingkan, Nelson Mandela naik utk menjadi pemimpin Afrika Selatan. Ia adalah seorang tokoh lokal yg memimpin perjuangan Afrika Selatan utk terbebas dari politik apartheid. Politik apartheid memisahkan org kulit hitam dari org kulit putih. Org kulit putih berlaku sbg kaum yg berkuasa. Hal yg menarik adalah ketika ia menjadi presiden, Nelson Mandela justru mengajak org² kulit putih utk bekerja bersamanya. Keputusannya itu menuai banyak protes dari org² di sekitarnya, termasuk rakyatnya. Namun Nelson Mandela tetap pada keputusannya. Pada akhirnya ia dapat membuat org² kulit hitam & kulit putih berdamai & bersama membangun Afrika Selatan.

Sepenggal kisah mengenai Nelson Mandela di atas sangat menarik krn menunjukkan seorang pemimpin yg tegas dalam mengambil keputusan yg menurutnya baik tanpa terpengaruh suara² lain di sekitarnya. Hal ini bertolak belakang dgn sikap yg ditunjukkan oleh Pilatus dalam bacaan kita kali ini. Pilatus sbg seorang pemimpin tdk memiliki sikap yg tegas dalam mengambil keputusan. Ia mengetahui kebenaran bhw Yesus tdk bersalah (23). Akan tetapi ia tdk mengikuti apa yang ia tahu benar melainkan mendengarkan kata² rakyatnya yg terbakar emosi (26). Ia menuruti istrinya utk tdk terlibat dlm kasus ini. Solusi yg ia tawarkan hanyalah utk keamanan diri (17). Padahal ia bertanggung jwb utk menyelesaikan & memiliki wewenang utk memutuskan. Ia melakukan cuci tangan & tidak mau dianggap bersalah (24).

Sebagai seorang pengikut Kristus, di manakah posisi kita pada saat ini? Apakah kita menjadi seorang pengikut yg memperjuangkan kebenaran ataukah kita adalah seorang pengikut yg mencari aman, bahkan akan cuci tangan kalau hal tersebut mengandung risiko? Apalagi kalau kita dipercaya menjadi seorang pemimpin, beranikah kita menegakkan kebenaran dgn tdk mencari kepentingan atau keuntungan diri sendiri? Amin.

Bukankah acapkali sikapku seperti itu. Trauma masa lalu mengajarkanku untuk lebih baik diam daripada kehilangan dan dibenci oleh sahabat maupun teman. Aku merasakan betapa sakitnya perbedaan pendapat, betapa menyakitkan kehilangan teman karena perbedaan pendapat. Aku dulu berpikir perbedaan pendapat itu makin memperkaya diri kita, tapi ternyata itu pendapat yang tidak benar. Perbedaan pendapat adalah penyebab kesalahpahaman, ketersinggungan dan kehilangan teman-teman dan yang menyedihkan kehilangan sahabat-sahabat.

Saatku tahu bagaimana duduk persoalan yang sebenarnya, aku sekarang tak terlalu ingin bicara. Karena banyak juga sahabatku yang mengatakan "sing waras ngalah" atau "udah diam sajalah nanti berantem lagi..urusan gak akan pernah selesai". Apalagi jika pengambilan keputusan sudah berdasarkan suara terbanyak, dan mayoritas menyetujui. Apakah ada gunanya lagi berbicara ? Apakah ada gunanya lagi menyatakan kebenaran ?
Dan tiba-tiba di pagi itu aku membaca Santapan Harian yang dikirimkan pak Anto Toding. Betapa aku sama dengan Pilatus.. aku lebih memilih mencari aman. Mengikuti saja apa yang menjadi suara terbanyak walau kadang aku ingin mengatakan apa yang aku tahu. Tapi ya sudahlah.. aku lebih mempercayai kata hatiku "waktu nanti yang akan membuktikan"

Aku sering teringat betapa dulu aku begitu berani menyatakan ketidaksetujuanku, apa isi kepalaku, apa yang aku tahu, walau itu berbeda. Sehingga aku berselisih dengan sahabat-sahabatku, aku penyebab banyak kekacauan dan kesalahpahaman..dan yang lebih parah perpecahan atas persahabatan yang telah kami bina bertahun-tahun. Sampai satu saat aku berada pada satu titik aku merasa bahwa kekerasan kepalaku tak ada gunanya.. karena aku kehilangan sahabat-sahabatku. Apa sebenarnya yang aku cari..???? Dan saat ini.. walau aku tahu diam itu salah, aku masih memilih lebih baik aku diam saja. Aku merasakan aku lebih nyaman..aku merasa lebih tentram dan aku bisa menikmati apa yang memang aku ingin nikmati.

Aku memang penuh dosa, penuh sakit hati, penuh dendam.. aku ingin mengikisnya menghilangkannya. Aku ingin punya arti untuk sesamaku.. bukan penghambat sesamaku.. walau aku tahu ada yang aku korbankan dengan pilihanku itu.

Tuhan..betapa banyak dosaku.. ampuni aku Tuhan
Ijinkan aku Tuhan.. saat ini aku untuk berdiam diri..
Untuk menahan perasaanku..lidahku..
Untuk belajar lebih sabar..
Untuk belajar santun menyampaikan pendapat..
Untuk belajar menghargai perasaan orang lain..
Bukan berkata "aku adalah orang yang terus terang dan apa adanya.. inilah aku.." tanpa mau mengerti perasaan orang yang mendengarkan perkataanku...
Biarlah kejadian ini mampu mendewasakan aku..
Memperbaiki semua kesalahan sikapku..

Aku mencintai semua sahabatku..
Ajari aku Tuhan
untuk selalu mengasihi sahabat-sahabatku dalam Kasih Tuhan Yesus.
Kasih Tuhan Yesus yang rela dikhianati, difitnah, dimaki, dicerca, dicambuk, dipukul, ditusuk duri, dipaku, ditombak, dan disalib, demi kami anak-anakMu yang penuh dosa.. tapi selalu mengampuni...
Kenapa aku tak mampu mengampuni... apakah yang kutanggung lebih berat dari yang Tuhan Yesus tanggung.. ahh.. tak ada apa-apanya Tuhan dibanding apa yang Tuhan Yesus harus tanggung.

Ajari aku Tuhan untuk menghapus dendamku dan selalu mengampuni....seperti Engkau mengampuni kesalahan kami.

Amin..


Sebuah Renungan di Jumat Agung.




Sabtu, 02 Maret 2013

Terima kasih untuk ke 4 malaikat penolongku..

Bloggy.. akhirnya aku mendapatkan seorang yang berhati malaikat yang mau menolongku. Namanya pak Manin. Dia lagi duduk-duduk di bawah pohon menanti mobil yang akan keluar dan masuk. Pak Manin  adalah seorang juru parkir. Senyumnya selalu mengembang di bibirnya. 

Dengan rela hati dia menolongku. "Tapi saya tak tahu mau menulis apa bu.." ujarnya bingung. "Bagaimana kalau cerita suka dukanya jadi juru parkir selama 8 tahun.." kataku. Suka duka ????? dia mengulang kalimatku.Nahhhh kan.. ada yang mau tapi tak tahu mau menulis apa.

Akhirnya dibuat kesepakatan dia menulis apa yang aku tanyakan berikut jawabannya. Tertulislah namanya, tanggal lahirnya, tempat tinggalnya, lama menjadi juru parkir, penghasilannya. Terakhir kutanyakan.. "kalau seandainya ada pilihan pekerjaan selain juru parkir.. bapak mau gak.. misalnya kerja di kantor jadi OB gitu.. atau apalah yang bisa bapak kerjakan ?" Dia dengan mantap menggeleng.. "kalau kerja kantor itu terikat.. kalau begini kan bebas..". Nah kan.. beda sama tadi pas ditanya.. kenapa jadi juru parkir.. jawabnya gak dapat kerjaan..nyari kerjaan susah.. dari pada nganggur mendingan jadi juru parkir. Tapi ya sudahlah terserah dia... yang penting dia mau nulis. Tapi kasihan juga pak Manin.. gara-gara ngobrol denganku beberapa mobil yang keluar tak sempat dia mintakan ongkos parkirnya. Waaaah sudah merugikan dia ya aku ini.

Begitu selesai dia menulis, maka ku minta dia mereferensikanku pada teman-temannya/ Maka langsung datanglah beberapa temannya. Nahhh... kalau begini enak juga. Dia yang meminta teman-temannya untuk menulis. Akhirnya terdapatlah 3 orang yang dengan tulus ikhlas mau menulis dengan mencontoh tulisan yang sudah di buat oleh pak Manin. Sambil nulis kami ngobrol ngalor ngidul namun masih dalam konteks tulis menulis. Saking asyiknya pak Suwarno yang pengojek menolak melayani penumpang. Waduh.. sudah 2 orang yang aku rugikan.

Akhirnya hari ini aku berkenalan dengan 4 orang.. pak Manin juru parkir yang katanya terpaksa jadi juru parkir daripada nganggur tapi tak mau kerja di kantor. Pak Suwarno pengojek yang dulu mantan supir tapi karena sudah tua jadi memutuskan untuk berhenti berdagang..dan akhirnya menjadi pengojek, pak  Jenal yang pedagang asongan yang katanya terpaksa jadi pedagang tapi sekarang sudah menikmati sebagai pedagang dari pada nganggur, dan terakhir yang paling muda juru parkir juga namanya Jamaludin yang ingin sekali bisa kerja di kantor sebagai apa saja. Saat ditanya berapa nomor HP nya dia bilang tidak ada. Lah tumben ada orang muda gak punya HP. Akhirnya dia bilang HP nya ketinggalan di kost dan dia tak hafal nomornya sendiri. Ya sudahlah.. apapun alasannya yang penting mereka sudah mau menulis untukku.

Terima kasih ya untuk ke empat malaikat penolong ku... semoga selalu sehat dan menemukan apa yang sebenarnya ingin dikerjakan...

Bukan Rejekiku dan dia...

Hallo Bloggy apa kabar.. 
Hari ini aku mencoba memperdalam sesuatu hal. Walau rasanya setelah duduk di kelas kepalaku rasanya jadi pusing tujuh keliling. Datang terlambat. Novel Agatha Christie yang belum selesai aku baca. Menambah lengkap rasa tidak siapku untuk duduk di kelas hari ini.
Baru duduk beberapa menit sudah mendapat tugas untuk mencari 3 orang yang mau menuliskan sesuatu untukku. Hohoho.. kemana ya harus kucari.

Akhirnya sambil berpikir sekali dayung dua pulau terlampui. Aku harus ke ATM untuk mengambil uang dan mencari 3 malaikat penolongku. Pergilah aku ke ATM dengan planning akan meminta tulisan kepada orang pertama yang aku temui di luar halaman hotel.
Ternyata penjual serbet atau lap yang aku temui pertama kali.

Awalnya aku jujur mengatakan aku sedang belajar dan minta pertolongan agar dia mau berbaik hati menulis sedikit saja untukku. Tapi tak mempan juga membujuknya. Akhirnya aku ajak berbicara soal impiannya. "Saya sebenarnya gak suka usaha keliling seperti ini.."katanya sedikit kesal. Lalu bapak maunya usaha apa. "Saya gak punya modal..kalo saya punya modal apa juga gak gampang". Oh yaaaa... "Ok..jadi kalo bapak punya modal katakanlah sekarang ada uang di depan bapak.. bapak mau usaha apa", pancingku. "Dagang"jawabnya mantap. OK..dagang apa.. begitul aku kejar. "Ya dagang.. punya lapak.. "sahutnya. Ok dagang punya lapak.. tapi bapak mau dagang apa.. Nah mulai dia mengernyit-ngernyitkan alisnya, "dagang kelontong" jawabnya.Well.. apa sih yang dimaksud kelontong itu.. bagaimana jika bapak tuliskan disini nama bapak, alamat, no Hp, dan keinginan bapak jika mendapatkan modal dari bank..pintaku. 

Dia menatapku.. "memang ibu siapa?" tanyanya curiga. Yaaaahhh.. dari tadi juga sudah dijelaskan..aku ini mau minta tolong dia mau menuliskan sesuatu untukku. Weelll dengan sedikit sombong aku jawab.."saya orang bank..saya bisa kasih modal bapak..berapa bapak memerlukan modal..??" Dia menyahut sepuluh juta dengan mantap. Nah tuliskan disini... bagaimana.. pintaku lagi. Mulailah terjadi perdebatan.. dia tak bisa menulis lah.. dia pusing lah.. dia nulisnya jelek lah.. plussss ditambah seseorang berteriak.."woooiii tulisannya mau dibaca tu..nasibnya buruk apa jelek..." Makinlah ketakutan penjual serbet itu.. dan langsung kabur..."lain kali aja deh bu..."... Hmmmm emang kalau bukan rejeki ..ya begini ini.. bukan rejeki dia dan juga bukan rejeki ku...

Jumat, 01 Februari 2013

Pada Saat Itu

Masih amat teringat dalam benakku, bagaimana kenakalan-kenakalan aku saat aku menjadi seorang karyawan. Aku tak memulai sesuatu tiba-tiba di atas. Aku memulainya semua dari bawah. Aku juga pernah bekerja sebagai karyawan rendahan. Dari seorang operator komputer di sebuah perusahaan yang besar, dan aku hanya menjadi operator komputer untuk divisinya yang paling kecil. Dengan gaji yang sebenarnya habis untuk membeli bensin mobilku. Tapi aku menjalaninya dengan amat bahagia. Waktu itu aku baru lulus SMA, dan iseng aku melamar karena membaca sebuah lowongan pekerjaan di kampus. Tanpa proses yang berbelit--belit aku diterima. Aku yakin dengan kemampuanku, komitmenku dan aku yakin yang mewawancaraiku pasti tertarik dengan jawaban-jawabanku.

Aku yakin aku bekerja dengan baik, sehingga bos ku meminta aku untuk bergabung di perusahaan pribadinya setelah kontrakku disini selesai. Siapa sih yang tidak bahagia, tak pernah melamar tiba-tiba diminta untuk bergabung. Tentu saja aku menyambutnya dengan antusias. Ibu ku jelas makin marah luar biasa. Komunikasi ku dengan ibu makin berantakan.

Demi menyelesaikan skripsi akhirnya aku kembali ke SMA ku, niatnya hanya untuk penelitian saja, tapi suster kepalaku meminta aku mengajar, karena jelas-jelas aku kuliah di IKIP. Aku sudah menolak dengan segudang alasan.. tapi susterku memaksa. Dari satu mata pelajaran sampai akhirnya menjadi tiga mata pelajaran. Pagi mengajar, siang kerja di bosku. Skripsi tak kunjung selesai. Komunikasiku dengan ibu makin dan semakin berantakan. Ulangan yang menumpuk yang harus aku periksa, kerjaan kantor juga makin menuntut perhatian karena usaha bos ku makin maju.

"Berapa gajimu menjadi guru?" tanya bosku... kusebut sejumlah yang membuat matanya membelalak heran. "Berhenti jadi guru..kerja saja disini setiap hari dengan jam kerja dari jam B sampai jam 5, saya bayar dua kali lipat dari yang kamu terima jadi guru..", perintahnya. Kepalaku tambah pusing. Membayangkan tugas guru yang tak enak. Membuat soal dan memeriksa, setiap minggu harus ulangan. Tiga mata pelajaran, belum lagi harus belajar karena harus lebih pintar dari muridnya. masih ditambah orang tua murid yang datang ke rumah meminta anaknya mendapatkan nilai yang baik agar bisa naik kelas.. malas sekali aku.  Tawaran tadi amat menggiurkan. Akhirnya aku mengundurkan diri dari sekolah. Heran juga.. buat apa kalau begitu aku sekolah di IKIP kalau tawaran bekerja lebih menarik untukku. Ibu ku tambah kecewa.. makin berantakanlah hubunganku dengan ibu.

Agar ibu tak terlalu kecewa buru-buru keselesaikan urusan kelulusan.. aku pindah jalur dari skripsi menjadi komprehensip. Aku yakin aku akan lulus, karena dosen-dosenku mengenal aku dengan baik dan aku selalu membina komunikasi yang baik dengan dosen-dosenku. Seperti dugaanku nilai ujian kompreku memuaskan. Walau aku lulus ibu tetap tak bahagia.. "bagaimana bisa S2 kalau kamu mengambil komprehensip bukan skripsi" begitu amarah ibu. Aku menjawab dalam hati.. aku nanti mau menjadi ibu rumah tangga saja.. jadi tidak perlu S2.. dan kusimpan semua keinginan untuk kuliah S2. (Setelah kuliah di S2 baru kutahu kalimat ibu itu benar.. tanpa skripsi..aku seperti orang paling beloon di kelas).

Loyalitasku tinggi sekali pada bosku.. bertahun-tahun aku mengikutinya. Dari yang hanya tukang entry sampai menjadi tangan kanan bos. Bosku amat dekat padaku. Amat baik padaku. Amat percaya padaku dan amat-amat lainnya. Dikantorku tak ada mesin absensi, sebagai akibatnya bosku amat rajin menelpon setiap pagi .. mengecek siapa yang sudah datang dan yang belum datang. "Farida sudah datang..?".. sudah bu,, mana saya mau bicara,, "Dari sudah datang.."..sudah bu.. mana saya mau bicara..dan karyawan selanjutnya. Sampai suatu saat kami bersepakat kalau terlambat dan bos sudah menelpon ..katakan ya kalau di toilet.. Sekali dua kali aman.. tapi sepandai-pandainya tupai melompat ya akhirnya jatuh juga. Akhirnya aku mendapat teguran keras, karena bosku amat percaya padaku, tapi aku berani menipunya. Setelah itu.. aku bisa menjadi lebih bijaksana.. meminta pengertian teman untuk menjadi apa adanya saja. Terlambat ya mengaku saja terlambat.

Bekerja bertahun-tahun ternyata membosankan juga. Aku iseng melamar disebuah bank umum. Aku yakin 100% pasti aku diterima, apa yang di test pada ku aku bisa, dan aku yakin pasti yang mewawancara aku akan tertarik padaku. Akhirnya aku bingung sendiri. Meninggalkan bos atau menjadi karyawan bank. Akhirnya aku tetap pada bosku. Ibuku tambah marah luar biasa. Ibuku ingin aku kerja di bank, apalagi pihak bank menelpon terus menerus ke rumah minta aku bergabung dan ibu yang menerima. Segudang nasihat tak mempan membuatku pindah. Aku malas jadi bawahan, lebih enak jadi bos kecil di tempat bosku. Disana aku bisa belajar banyak hal.

Entah kenapa partner bosku menawarkan aku untuk ikut dia. Mungkin saat itu aku sedang error tanpa pikir panjang aku mengajukan pengunduran diri pada bosku. Padahal jelas-jelas kalo bosku tahu dia akan berang luar biasa. Akhirnya aku pindah di tempat partner bosku. Baru sebulan aku sudah tak kerasan. Kerjanya hanya jalan-jalan saja seperti tak ada kerjaan. Aku melamar di perusahaan Jepang yang sangat terkenal. Di wawancara oleh orang jepang, dengan bahasa inggris ala kadarnya aku menjawab. Entah apa kriterianya.. aku diterima bekerja disini.  Apa karena aku satu lift dengan yang mewawancarai aku saat aku pertama kali datang.. dan saat aku duduk dihadapan nya aku makin yakin dia akan tertarik untuk menerimaku. Setelah diterima aku bingung sendiri. Tak enak mengajukan pengunduran diri. Ibuku marah ... karena aku tak juga mau memanfaatkan kesempatan yang tak selalu datang untuk kedua kalinya. Ah.. aku malas.. kerja di Cibitung.. jadi karyawan rendahan, lebih baik ikut partner bosku, jadi tangan kanannya.

Mantan bosku selalu menelpon.. memintaku kembali. Entah mungkin aku sedang error karena tak banyak kerjaan di tempat partner bosku..aku akhirnya minta maaf dan mengatakan aku ingin kembali saja ke bosku yang dulu. Partner bosku bertanya..apakah gajinya kurang.. bukan masalah gaji.. tapi aku malas kalau tak ada kerjaannya.
Akhirnya aku kembali lagi pada bosku. Ibuku tambah pusing..hubunganku tambah buruk dengan ibuku.

Sampai akhirnya aku memutuskan untuk berhenti karena aku sudah berkeluarga dan aku telah hamil. Bosku kecewa..kecewa luar biasa. Saat aku keluar hubungan kami menjadi tidak baik. Dia kecewa..aku kecewa. Tapi Tuhan mempertemukan kami kembali dan memperbaiki hubungan kami. Dan hubungan kami baik sampai saat ini.

Jadilah aku pengangguran.. bukankah aku kemarin pernah menjawab dalam hati aku ingin menjadi ibu rumah tangga.. jadilah aku ibu rumah tangga.. dan ternyata jadi ibu rumah tangga itu tidak membuat aku bahagia. Isinya aku hanya meributkan suamiku yang pulang terlambat karena aku sendirian di rumah. Cemburu besar jika suami keluar kota atau keluar negeri. Makin pusing... ibupun makin pusing dan memutar otak...

Intinya ibu tak ingin aku hanya menjadi ibu rumah tangga.

Kita buat BPR, apakah mau mengurus. Ya daripada mengecewakan ibu terus menerus, aku mengangguk-angguk saja. BPR apa saja aku tak tahu.. yahhh yang penting ibu bahagia dulu lah.





Senin, 31 Desember 2012

Selamat Tinggal 2012.. Selamat Datang 2013

Tahun 2012 adalah tahun yang banyak menyimpan kenangan. Kenangan manis dan juga kenangan yang pahit. Tapi apapun itu aku dijadikan bertumbuh dan makin dewasa dalam menghadapi warna-warni kehidupan yang harus aku jalani.

Tahun 2012 Ibu meninggalkan aku untuk selamanya. 14 Mei 2012. Setelah berhari-hari di ruang ICU. Sepertinya ibu tahu betapa kami berempat tak tahu harus mengambil keputusan yang terbaik untuk ibu. Kami tahu betapa tersiksanya ibu mengikuti keinginan kami untuk mempertahankan dengan segala daya upaya kami. Aku berharap ibu mengerti saat aku membisikkan bahwa aku akan melanjutkan kuliah lagi, aku tahu ibu menyimpan keinginan itu tapi tak ingin membebani aku dengan tanggung jawabku terhadap Yo dan putri-putriku. Walau diakhir sebelum ibu sakit, ibu meminta aku melanjutkan sesuai dengan keinginanku, cita-citaku, mimpiku. Tapi aku simpan dulu mimpi itu ibu..aku tak tahu apakah jurusan ini sesuai tidak untuk aku.. tapi aku ingin mencintai apa yang bisa kupilih, apa yang ada dihadapanku. Aku berharap aku mampu menyelesaikannya dan tak membuat satu orangpun kecewa kepadaku.

Tahun 2012 adalah tahun dimana aku harus melewati hari-hariku tanpa ibu. Tanpa seseorang yang bisa aku ceritakan bagaimana sakitnya hati ini bagaimana gundahnya hati ini bagaimana bahagianya hati ini. Aku mulai belajar memutuskan sendiri, berdiskusi dengan diriku sendiri. 

Tahun 2012 adalah tahun dimana aku amat merasakan betapa kakak dan adikku senantiasa menjagai aku, memintaku untuk tidak merasa sendiri..karena mereka selalu ada untuk aku..

Tahun 2012 adalah tahun dimana aku amat merasakan bahwa ketiga putriku amat mengerti aku, mensuport aku.. prestasi mereka yang amat membanggakan untukku. Putriku mampu bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri. Mereka belajar tanpa harus aku minta, mereka telah tahu apa yang seharusnya mereka perbuat. 

Tahun 2012 adalah tahun dimana aku melihat bahwa walau lambat aku melihat ada perkembangan sedikit demi sedikit untuk kesehatan Yo. Bicaranya walau masih tak mampu menjawab aku menangkap dia makin mengerti apa yang kami bicarakan, Aku mulai mengerti bahasa yang keluar dari mulutnya. Aku melihat Yo diam-diam berlatih sendiri sesuai kemampuannya. Makin hari aku makin merasakan bahwa cintanya memang selalu ada untukku. Aku melihat bagaimana ia begitu bangga menunjukkan koran yang memuat diriku, dan kemudian menyimpan koran itu dengan baik. Yo selalu tahu saat aku resah.. tangannya selalu siap mengusap punggungku saat dia melihat aku gelisah dalam tidurku. Makin hari aku makin belajar untuk mencintainya dalam segala kekurangannya. Ya.. aku akan mendampinginya apapun yang terjadi. Aku pastikan aku selalu ada Yo.. untukmu. Maafkan aku jika aku begitu banyak kekurangan dan tak sempurna dihadapanmu.

Tahun 2012 adalah tahun dimana aku makin berani untuk membagi beban tanggung jawabku pada tim ku di kantor, pada orang-orang yang aku percayai. Dan aku makin tahu bahwa mereka tak pernah setengah-setengah mensuport aku. Dan buktinya.. akhir tahun ini dapat kami tutup dengan manis.

Tahun 2012 adalah tahun dimana aku menjadi mahasiswi kembali. Aku mendapati kelasku begitu menyenangkan, penuh gelak tawa. Kadang aku rindu ingin cepat kuliah disaat libur, tapi ingin libur disaat kuliah. 

Tahun 2012 adalah tahun dimana aku mulai berani menyatakan perbedaanku di depan banyak orang. Aku tahu itu makin menyakiti hatinya. Tapi ini adalah awal dan juga akhir. Setelah kejadian itu aku telah berjanji  untuk menutup mulutku dan tak akan melakukan apapun untuk mempertahankan pendapatku. Aku ingin membebaskan diriku dari sakit yang telah membelengguku bertahun-tahun. Aku akan menutup mata, telinga, mulutku dan bahkan hatiku. 

Tahun 2012 adalah tahun dimana aku mendapatkan seorang sahabat. Entah bagaimana awalnya, kami bisa menjadi dekat, padahal kami sudah mengenal satu sama lain bertahun-tahun yang lalu. Tapi semuanya biasa saja. Dia adalah satu-satu nya orang yang bisa membuat aku masuk dalam percakapan yang sebelumnya tak pernah aku mau mengucapkannya. Kami bisa mentertawakan kebodohan kami sendiri. Menceritakan kejelekan kami masing-masing, dan saling mentertawakan. Dunia ini makin berwarna dengan kehadirannya. Aku mulai menikmati senda guraunya. Aku mulai santai dalam menghadapi gaya bicaranya. Dan aku mulai belajar mengikuti arusnya. Dan aku akan tersenyum senang jika aku bisa mengalahkan kekonyolannya. Kenapa setiap hal harus dihadapi dengan serius.. ya ya.. kenapa harus menangis jika masih bisa tertawa.


Aku percaya bahwa setiap orang yang hadir dan pergi dalam kehidupan ku adalah semua atas rencananya. Aku tahu Tuhan ingin memberikan ku yang terbaik. Aku belajar untuk tidak menyesali setiap pertemuan yang berakhir dengan perpisahan. Setiap persamaan yang berakhir dengan perbedaan. Aku tahu Tuhan menghendaki aku untuk tumbuh, dan Dia tahu yang terbaik untukku. Aku tahu kini aku sudah bisa menghapus air mataku sendiri.. 
Aku tahu kini aku sudah belajar untuk tidak terlalu serius dalam menanggapi sebuah perbedaan..
Aku tahu kini aku makin bertumbuh..

Terima kasih Bapa.
Terima kasih Ayah dan Ibu..
Terima kasih Yo..
Terima kasih putri-putriku
Terima kasih kakak dan adikku
Terima kasih untuk tim kerjaku
Terima kasih sahabat-sahabatku
Terima kasih untuk mbak di rumah
Terima kasih untuk setiap orang yang kujumpai dalam hidupku...
Terima kasih untuk seseorang yang telah membuat hidupku penuh gelak tawa.., yang membuatku sanggup untuk mentertawakan diriku sendiri..dan mengajarkanku untuk melihat sebuah dunia dari sudut yang berbeda.

Terima kasih.... untuk tahun 2012 yang menjadi penuh warna dalam kehidupanku..
Selamat tinggal 2012.. biar masa lalu yang tak perlu ku ingat biarlah tak teringat..
Selamat datang 2013.. ijinkan aku makin bertumbuh dan makin mengerti makna hidup ini..
Ijinkan aku untuk dapat menyentuh kehidupan banyak orang, walau dengan hal-hal yang sederhana.




Sabtu, 22 Desember 2012

Akan banyak jalan menuju kesana...

Jika bicara Amerika..
Putriku sulungku selalu menangis..
Jangan bicara itu lagi mami
Katanya sambil terisak..

Ku yakin ..
suatu saat dia akan mengerti
Bahwa banyak hal
yang menjadi pertimbanganku

Yakinlah nak..
Suatu saat
akan banyak jalan menuju kesana
Percayalah..

Impianmu
Cita-citamu
Pasti menjadi nyata...
Belajarlah yang baik sekarang
Untuk bekalmu kelak...

Impianmu..
Itu juga menjadi impian mama..
Tuhan pasti akan membukakan jalan...



Kuberjanji tak akan membuat luka

Entah dari mana datangnya..
Entah dari kapan..
Entah kenapa..
Tiba-tiba dia masuk dalam kehidupanku..

Cerita masa lalu
Cerita sekarang
Cerita tak penting
Cerita yang ada diantara kami.. cerita yang membawa tawa..

Aku mulai melupakan
sakitnya masa lalu
Sepertinya luka yang menganga
bisa terobati


Ya ..
Ku akui luka ku terobati
Pikiranku tak lagi seperti dulu
Aku belajar untuk melihat dunia dari sisi yang berbeda..

Mulailah membuka diri..
begitu nasihat yang aku dengar..
Tapi kutahu..Kata hatiku berkata-kata
yang harus aku taati, agar kutak menambah luka..

Terima kasih telah hadir dalam kehidupanku...
Aku berjanji untuk menjadi sahabat yang baik..
Yang tak pernah membuat luka..
Karena memberi harap..


"Sahabat adalah seseorang yang selalu ada disampingmu, ketika kamu sakit untuk melihat ke belakang, atau takut melihat ke depan".

"Sahabat adalah seseorang yang sealu menyampaikan kebenaran walau terkadang itu menyakitkan. Tapi itu dia lakukan untuk kebaikan"

Kadang Kita hampir serupa dengan Rumput Liar yang diterbangkan angin..

Tidak semua yang terjadi dulu itu positif
Tidak semua yang terjadi sekarang ini negatif
Namun, kadang kita yang melupakan sejarah
Kita hampir serupa dengan rumput liar yang mudah sekali dicabut
dan diterbangkan angin

Jangan kita menjadi manusia bagaikan
"kacang lupa pada kulitnya"
Masa sekarang ada disebabkan karena masa lalu yang terlupakan

Ketika kita jujur pada kehidupan
Ia akan menjadi bagian dari masa lalu
Jika kita berdusta pada kehidupan
Ia akan akan menjadi masa depan yang terus menghantui kita

Terkadang kita tak mampu menerima kenyataan
Hanya karena kita tak ingin apa yang kita impikan selama ini
adalah sebuah kebohongan

dari : secangkir kopi - Leslie Yang

Sabtu, 15 Desember 2012

Aku ingin Bertanya

Aku ingin bertanya..
Untuk apa kau ada..
kalau hanya untuk menoreh kecewa..

Aku ingin bertanya
untuk apa cinta hadir
kalau hanya untuk membuat luka..

Aku ingin bertanya
untuk apa kita bersama
kalau hanya untuk berpisah..

Aku ingin bertanya
untuk apa kita bicara
kalau hanya untuk menyakiti

Aku ingin bertanya
untuk apa kau berjanji
kalau hanya untuk diingkari

Aku ingin bertanya..
untuk apa aku bertanya
kalau tak pernah ada jawabnya..

Aku ingin bertanya..
Aku ingin bertanya
Aku ingin bertanya
walau tak pernah ada jawabnya...

Di Uluwatu Aku Belajar pada Monyet

Di Uluwatu kemarin, seekor monyet menyambar kacamataku tanpa ampun. Membawanya ke atas pohon kemudian menggigit dan menekuk-nekuk. Aku cuman bisa diam, tanpa kacamata aku tak bisa melakukan apa-apa. Heni sepupuku malah sibuk memotret monyet yang membawa kabur kacamataku. Seorang bapak menghampiri kami dan membantu kami agar kacamataku kembali. Kacamata itu memang akhirnya kembali setelah ditukar dengan kacang. Tapi kondisinya tak seperti semula lagi. Jika dipakai rasanya jalan yang kulalui menurun semua. 

Kacamata sudah parah seperti ini saja masih menjadi perhatian monyet. Hahh benar-benar repot berjalan diikuti monyet. Dua ekor monyet ini masih saja membuntuti kami. Bahkan kaki Ika, pun menjadi sasaran empuk monyet. Hanya urusan sepele.. monyet tertarik pada bunga kamboja yang menempel di sandal jepit Ika. Ika sampai ingin membuang sandal jepitnya saja, tapi logikanya cepat jalan, bunga kamboja segera ditarik dari sandalnya dan dilempar ke arah monyet. Barulah monyet itu pergi meninggalkan kami.

Masuk Uluwatu sebenarnya kami sudah berusaha meminimalkan resiko. Dari meninggalkan tas di mobil, semua Handphone pun dilepas semua dari tangan demi sebuah keamanan. Hanya kamera saja yang aku kantongi. Itupun kalau memotret kami sudah bersepakat untuk memegang erat-erat. Kacamatapun juga aku pegangi terus menerus setiap seekor monyet mendekat. Bahkan kami sempat ingin meminta seorang ibu yang menawarkan jasa mengamankan dari gangguan monyet untuk mengawal kami, tapi akhirnya kami batalkan karena jumlah yang diminta kami anggap terlalu besar. Ibu ini sepertinya lupa kalau kami ini hanya turis lokal saja.

Selama dalam perjalan mengelilingi Uluwatu sudah beberapa orang terampas kacamatanya. Ada yang kembali ada yang tidak. Sebenarnya saat aku berfoto aku merasa ada seekor monyet yang mendekati aku. Tapi karena muka monyet tersebut tak mengarah padaku aku merasa aman. Walau katahatiku berkata, hati-hati monyet itu menunggu kesempatan. Tapi karena aku melihat dia tak melihat ke arahku, maka berposelah aku tanpa memegang kacamataku. Tiba-tiba dalam hitungan detik.. kacamata itu sudah berada di atas pohon bersama monyet. 

Betapa cerdiknya seekor monyet dan betapa cepatnya menangkap peluang. Itulah yang aku pelajari dari kejadian perampasan kacamataku. Seharusnya dalam bekerja kita juga harus seperti itu. Tak terlihat mengamati lawan.. tapi cepat menangkap peluang sebelum dimakan oleh lawan. Dan betapa gigihnya monyet dalam mengejar target.. sebelum berhasil tak akan pernah ada kata menyerah.

Dan lihat bagaimana monyet menarik perhatian sehingga semua menatap kepadanya, saat ku disana seekor monyet bergantungan di tiang bendera dan menggoyangkan ke kiri dan ke kanan sambil bersuara, sehingga semua mata menatap ulahnya ditiang bendera. Sebenarnya moment yang manis untuk difoto..tapi terima kasih deh..aku lebih senang kehilangan moment daripada kehilangan kamera.
Atau seekor monyet yang sengaja naik ke kap mobil, menabrak tempat sampah sehingga menimbulkan suara yang hingar bingar.. Begitulah cara monyet menarik perhatian.

Satu lagi pelajaran yang aku dapat.. meminimalkan resiko ternyata tak cukup.. tapi kita perlu mengantisipasi jika terjadi hal-hal yang diluar perkiraan kita. Jika kacamata terampas apa planning kita, lalu apa usaha kita agar kita tak diganggu monyet. Nah..itu semua tak pernah terpikir. Walau akhirnya terpikir.. kami membawa kemana-mana sebuah ranting pohon agar tak didekati monyet. Mendekatkan ranting pohon pada kamera jika kami ingin memotret, mendekatkan ranting pohon ke kacamata saat monyet mendekati. Terbukti manjur.

Tapi kadang aneh juga.. kita kesana katanya ingin melihat monyet.. tapi malah jadi terganggu karena monyet.. dan ingin monyet menjauh dari kita.. ibarat benci tapi rindu.

Di uluwatu aku belajar pada monyet.. ternyata mereka memang lebih cerdas daripadaku..
Pemandangan di Uluwatu itu indah..amat indah malah.. tapi kenangannya tak seindah kenangan bersama monyet..

Jumat, 07 Desember 2012

Kenapa Bali ?

Kenapa Bali tanyamu.
Ah.. kenapa harus kamu tanyakan itu.
Bali itu sebenarnya amat menyakitkan untukku.
Tak satupun bisa lepas dari ingatanku.
Suara ombak itu..
Lilin..
Tepi pantai..
Menyusuri jalan di Kuta..
Gelapnya malam..
Jadi kamu datang kesana untuk mengingat semua itu? kejarmu.
Tak cukupkah semua sakit yang kamu rasakan??

Sakit ya.. teramat sakit.
Tapi sakit itu harus aku obati..
kalau tak bisa harus aku amputasi..
Aku kesini bukan untuk itu..
Aku kesini untuk membahagiakan orang-orang yang selalu mensuportku..
Bukan untuk mengingat semua itu..
Aku yakin aku bisa melupakan suatu saat nanti..
PASTI


Jumat, 23 November 2012

OJK antara Harapan dan Kenyataan..

Ketika seorang teman memposting berita tentang pungutan OJK yang maksimal 0,06%, dan kemudian saya timpali dengan hasil sosialisasi  RPP tentang pungutan OJK maksimal dijelaskan 0,075% di grup, bermunculanlah komentar-komentar dari teman-teman saya, yang sama-sama merupakan Praktisi BPR. Tak ada satupun yang bernada menyambut dengan positif, semuanya menanggapi dengan sinis bahkan ada yang hampir emosi. Bisa-bisa kita kerja bakti untuk membiayai LPS dan OJK, negeri ini apa mau bangkrut  kok lembaga negara munguti iuran, yang membentuk pemerintah kenapa kita harus bayar, bisa-bisa kembali ketahun 90an ada tawar menawar hasil audit dengan oknum auditor, begitu sebagian komentar yang terpampang di grup.

Bahkan sahabat saya yang sedang emosi karena membaca posting di grup menuliskan demikian, kita ini sudah bayar beraneka macam pajak, pajak penghasilan karyawan, pajak atas bunga tabungan dan deposito, pajak badan, pajak deviden, premi LPS, pajak reklame, pajak pemasangan spanduk, pajak kendaraan, sumbangan untuk aparat setempat, biaya-biaya tak resmi, sekarang kenapa ditambah OJK. Bahkan ada juga yang menuliskan demikian.. lah mereka itu kan yang butuh memeriksa kita, kita sih tidak butuh diperiksa, mau periksa silahkan, tidak ya sudah. Kalau punya uang silahkan periksa kalau gak punya uang ya jangan maksa kita bayar.

Beberapa malah menyesalkan UMR yang naik. Belum lagi ketatnya persaingan, kadang membuat kita keluar biaya untuk memenangkan persaingan. Sepertinya lengkap sudah penderitaan kita. Bahkan saat di kelas saya diminta untuk menyampaikan hasil sosialisasi kepada teman-teman seperjuangan di S2, malah ada yang mau pulang karena malas mendengar, ada yang berapi-api menanggapi, dan malahan ada yang ingin mengajak untuk demo. Intinya tetap senada, untuk apa ada OJK jika hanya untuk memberat-beratkan saja. Benarkah perbankan yang sehat bisa tercipta dengan kita membayar pungutan.

Bahkan ada yang bertanya.. kalau mereka menyalahgunakan pungutan apa sanksi untuk mereka. Bahkan ada yang berbisik "mereka lebih suka kita yang membayari keperluan OJK daripada menggunakan dana APBN.. kalau diselewengkan tak tersentuh KPK". Apa iya sih karena itu maka dana APBN perlahan-lahan dikurangi dan kemudian ditiadakan. Pungutan OJK pada masa transisi tahun 2013 adalah 50%, kemudian 2014 menjadi 75% dan tahun 2015 semuanya sudah menjadi tanggung jawab semua lembaga yang kena pungutan, yaitu menjadi 100%. Jangan salah, pentahapan ini hanya berlaku untuk pungutan berkala tahunan, namun untuk pungutan lainya sudah diberlakukan 100% mulai tahun 2013, misalnya biaya-biaya perijinan dan biaya aksi korporasi.

Saat sosialisasi pun penggunaan kata "Pungutan" menjadi komentar dari berbagai pihak, karena konotasinya kurang baik. Padahal kata "Pungutan" sudah tercantum di Undang-undang No. 21 tahun 2011, tentu saja kata "pungutan" tak bisa lagi diganti dengan kata yang konotasinya lebih baik. Lihat saja di Pasal 37 :

Pasal 37
(1) OJK mengenakan pungutan kepada pihak yang melakukan kegiatan di sektor jasa keuangan.
(2) Pihak yang melakukan kegiatan di sektor jasa keuangan wajib membayar pungutan yang dikenakan OJK sebagaimana dimaksud pada ayat (1).
(3) Pungutan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah penerimaan OJK.
(4) OJK menerima, mengelola, dan mengadministrasikan pungutan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) secara akuntabel dan mandiri.
5) Dalam hal pungutan yang diterima pada tahun berjalan melebihi kebutuhan OJK untuk tahun anggaran berikutnya, kelebihan tersebut disetorkan ke Kas Negara.
(6) Ketentuan lebih lanjut mengenai pungutan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Pemerintah.

Beberapa kawan berbisik-bisik, beginilah kalau membuat UU saat RUU tak mau melibatkan asosiasi. Apapun komentar yang dilontarkan, jawabannya pasti adalah "ini amanat Undang-undang".

Beberapa peserta pun melontarkan agar OJK itu tidak memungut dari perbankan, tapi bisa meminta kepada LPS saja sebagian premi yang disetor oleh industri perbankan, toh jika OJK bekerja dengan baik mengawasi bank, maka tak ada Bank yang perlu lagi ditalangi oleh LPS. Apalagikan perhitungan premi LPS dianggap sudah memberatkan dan tidak fair.

Ada juga yang meminta agar jika pungutan yang melebihi kebutuhan OJK sebaiknya dikembalikan lagi untuk pemberian insentif kepada Industri agar pungutan tahun berikutnya dapat diturunkan, karena OJK masih mempunyai dana untuk operasional. Tapi.. rasanya jarang juga ya ada kelebihan, apalagi sudah dikatakan bahwa pungutan ini sudah minim, sudah paling murah dibandingkan negara-negara lain. Tapi lagi-lagi..usulan ini pun terbentur pada kalimat "ini sudah amanat undang-undang". Kita ke Mahkamah Konstitusi saja, kata seorang teman dengan gemasnya.

Komentar mengenai pungutan yang tak memikirkan "letak daerah" juga menjadi sorotan. Seharusnya daerah-daerah yang masih belum tersentuh oleh perbankan mendapat insentif, jangan dipukul rata dalam pembebanan biaya perijinannya.

Saya ajak sebentar untuk membuka Undang-undang No. 21 tentang OJK ini :
BAB III
TUJUAN, FUNGSI, TUGAS, DAN WEWENANG

Pasal 4
OJK dibentuk dengan tujuan agar keseluruhan kegiatan di dalam sektor jasa keuangan:
a. terselenggara secara teratur, adil, transparan, dan akuntabel;
b. mampu mewujudkan sistem keuangan yang tumbuh secara berkelanjutan dan stabil; dan
c. mampu melindungi kepentingan Konsumen dan masyarakat.

Pasal 5
OJK berfungsi menyelenggarakan sistem pengaturan dan pengawasan yang terintegrasi terhadap keseluruhan kegiatan di dalam sektor jasa keuangan.

Pasal 6
OJK melaksanakan tugas pengaturan dan pengawasan terhadap:
a. kegiatan jasa keuangan di sektor Perbankan;
b. kegiatan jasa keuangan di sektor Pasar Modal; dan
c. kegiatan jasa keuangan di sektor Perasuransian, Dana Pensiun, Lembaga Pembiayaan, dan Lembaga Jasa Keuangan Lainnya.

Pasal 7
Untuk melaksanakan tugas pengaturan dan pengawasan di sektor Perbankan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 huruf a, OJK mempunyai wewenang:
a. pengaturan dan pengawasan mengenai kelembagaan bank yang meliputi:
1. perizinan untuk pendirian bank, pembukaan kantor bank, anggaran dasar, rencana kerja, kepemilikan, kepengurusan dan sumber daya manusia, merger, konsolidasi dan akuisisi bank, serta pencabutan izin usaha bank; dan
2. kegiatan usaha bank, antara lain sumber dana, penyediaan dana, produk hibridasi, dan aktivitas di bidang jasa;
b. pengaturan dan pengawasan mengenai kesehatan bank yang meliputi:
1. likuiditas, rentabilitas, solvabilitas, kualitas aset, rasio kecukupan modal minimum, batas maksimum pemberian kredit, rasio pinjaman terhadap simpanan, dan pencadangan bank;
2. laporan bank yang terkait dengan kesehatan dan kinerja bank;
3. sistem informasi debitur;
4. pengujian kredit (credit testing); dan
5. standar akuntansi bank;
c. pengaturan dan pengawasan mengenai aspek kehati-hatian bank, meliputi:
1. manajemen risiko;
2. tata kelola bank;
3. prinsip mengenal nasabah dan anti pencucian uang; dan
4. pencegahan pembiayaan terorisme dan kejahatan perbankan; dan
d. pemeriksaan bank.

Pasal 8
Untuk melaksanakan tugas pengaturan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6, OJK mempunyai wewenang:
a. menetapkan peraturan pelaksanaan Undang-Undang ini;
b. menetapkan peraturan perundang-undangan di sektor jasa keuangan;
c. menetapkan peraturan dan keputusan OJK;
d. menetapkan peraturan mengenai pengawasan di sektor jasa keuangan;
e. menetapkan kebijakan mengenai pelaksanaan tugas OJK;
f. menetapkan peraturan mengenai tata cara penetapan perintah tertulis terhadap Lembaga Jasa Keuangan dan pihak tertentu;
g. menetapkan peraturan mengenai tata cara penetapan pengelola statuter pada Lembaga Jasa Keuangan;
h. menetapkan struktur organisasi dan infrastruktur, serta mengelola, memelihara, dan menatausahakan kekayaan dan kewajiban; dan
i. menetapkan peraturan mengenai tata cara pengenaan sanksi sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan di sektor jasa keuangan.

Pasal 9
Untuk melaksanakan tugas pengawasan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6, OJK mempunyai wewenang:
a. menetapkan kebijakan operasional pengawasan terhadap kegiatan jasa keuangan;
b. mengawasi pelaksanaan tugas pengawasan yang dilaksanakan oleh Kepala Eksekutif;
c. melakukan pengawasan, pemeriksaan, penyidikan, perlindungan Konsumen, dan tindakan lain terhadap Lembaga Jasa Keuangan, pelaku, dan/atau penunjang kegiatan jasa keuangan sebagaimana dimaksud dalam peraturan perundang-undangan di sektor jasa keuangan;
d. memberikan perintah tertulis kepada Lembaga Jasa Keuangan dan/atau pihak tertentu;
e. melakukan penunjukan pengelola statuter;
f. menetapkan penggunaan pengelola statuter;
g. menetapkan sanksi administratif terhadap pihak yang melakukan pelanggaran terhadap peraturan perundang-undangan di sektor jasa keuangan; dan
h. memberikan dan/atau mencabut:
1. izin usaha;
2. izin orang perseorangan;
3. efektifnya pernyataan pendaftaran;
4. surat tanda terdaftar;
5. persetujuan melakukan kegiatan usaha;
6. pengesahan;
7. persetujuan atau penetapan pembubaran; dan
8. penetapan lain,
sebagaimana dimaksud dalam peraturan perundang-undangan di sektor jasa keuangan.

Dan apa yang melatarbelakangi pungutan OJK, dalam sosialisasi disampaikan bahwa, seperti yang telah saya sampaikan tadi di atas bahwa pungutan ini adalah melaksanakan amanat UU No. 21 tahun 2011 tentang OJK, sebagai alat penegakan hukum dalam meningkatkan kedisiplinan dan ketertiban pasar di sektor jasa keuangan, mewujudkan pembiayaan kegiatan OJK yang sewajarnya mandiri dengan bersumber dari pungutan kepada pihak yang melakukan kegiatan di sektor keuangan, dan mengurangi beban APBN.

Dan juga disampaikan dalam sosialisasi ini, bahwa penentuan besaran pungutan ini sudah memperhatikan pihak-pihak yang melakukan kegitatan di sektor jasa keuangan, dikatakan bahwa telah dilakukan analisis yang mendalam terhadap dampak pungutan terhadap pendapatan, beban operasional, serta tingkat pengembalian kepada investor, dan juga karena memproyeksikan kebutuhan untuk pembiayaan OJK yang harus mandiri ditahun 2017. Dikatakan pengaruh ke CAR atas pungutan ini hanya 0,013%. 

Soal NIM perbankan yang tinggipun disini menjadi bahan perdebatan. Kalau hanya melihat NIM memang kelihatan tinggi tapi seharusnya melihatnya secara utuh jangan sepotong-sepotong. Biaya-biaya yang harus dikeluarkan oleh perbankan itu banyak sekali. Bahkan ada yang membagi biaya menjadi demikian cost internal dan cost external. Cost internal adalah biaya yang memang harus dikeluarkan dalam internal bank. Dan eksternal itu terdiri dari Biaya yang dibebankan oleh Regulator seperti Pajak, Premi dan pungutan-pungutan baik resmi maupun tak resmi, dan Biaya Persaingan, biaya-biaya yang dikeluarkan untuk memenangkan persaingan. Kita diminta untuk menurunkan suku bunga kredit, melakukan efisiensi disegala bidang, karena dianggap perbankan tidak efisien. Tapi disatu sisi kita diminta membiayai satu lembaga, yang kita tak tahu apakah mereka efisien atau tidak dalam menjalankan amanat Undang-undang, yang jelas dari biaya untuk menggaji orang-orang yang ada didalam OJK  tak bisa dikatakan murah. 

Pungutan OJK yang dibebankan, katanya akan digunakan untuk melakukan pengawasan, pengembangan, perlindungan konsumen dan melakukan GCG.

Besaran pungutannya bervariasi, biaya Pengaturan, Pengawasan, Pemeriksaan dan penelitian untuk satu tahun, untuk Bank Umum dan BPR baik syariah maupun konvensional adalah setinggi-tingginya 0,075% dari total Assets hasil audited terakhir.

Besaran biaya perijinan, persetujuan, pendaftaran dan pengesahan lembaga, untuk BPR adalah Rp. 50.000.000,00 per perusahaan.

Biaya penyediaan data dan atau informasi tertulis yang diberikan atas permintaan tertulis pihak eksternal OJK adalah Rp. 10.000.00,00 / dokumen/informasi.

Sanksi administratif yang akan diberikan apabila kita lalai membayar pungutan adalah denda sebesar 2% perbulan dari jumlah pungutan yang wajib dibayar, paling banyak 24 bulan. Selain ada sanksi administratif juga adal sanksi berupa :
1. Peringatan tertulis
2. Penundaan pemberian pernyataan efektif
3. Pembatasan kegiatan usaha.
4. Perintah penggantian manajemen
5. Pembatalan persetujuan
6. Pembatalan pendaftaran
7. Pembekuan kegiatan usaha, dan / atau
8. Pencabutan ijin usaha.

Itulah yang terjadi saat saya ber BBM an dalam grup dan saat saya menjelaskan hasil sosialisasi kepada teman-teman seperjuangan di S2.

Ya inilah OJK antara harapan dan kenyataan... kita masing-masing silahkan menilai sendiri. Satu hal yang tetap harus kita ingat, walau harapan tak selalu sesuai kenyataan kita harus selalu mengucap syukur karena sampai hari ini kita masih bisa survive diantara persaingan yang sudah amat ketat, dan biaya-biaya yang melambung hebat.


#oleh-oleh dari sosialisasi RPP tentang pungutan oleh OJK.. membagi pusingku memikirkan cost yang dibebankan oleh regulator...








Minggu, 18 November 2012

PIKIRKANLAH

Pikirkanlah hal-hal yang membuatmu bahagia
bukan hal-hal yang membuatmu sedih.

Pikirkanlah keindahan dan kebenaran pada umat manusia
bukan sisi yang kotor dan yang buruk.

Pikirkan karunia yang mengelilingimu
bukan sesuatu yang dipungkiri.

Pikirkanlah persahabatanmu
bukan kelemahan dan sisi yang salah

Pikirkanlah perolehan yang telah kau lakukan dalam bisnis
bukan kerugian yang kau buat.



Pikirkanlah kebaikan yang telah kau katakan
bukan kata-kata yang kejam dan bermusuhan

Pikirkanlah hari-hari yang sehat dan menyenangkan
bukan hari-hari penderitaan dan kesukaran

Pikirkanlah hari-hari yang hidup dan bersinar
bukan hari-hari yang hujan dan suram

Pikirkanlah harapan yang ada di hadapanmu
bukan kesia-siaan yang ada dibelakangmu

Pikirkanlah harta yang telah kau kumpulkan
bukan harta yang gagal kau temukan

Pikirkanlah pelayanan yang dapat kau berikan
bukan hanya melayani diri sendiri

Pikirkanlah kebahagiaan orang lain
dan melaluinya engkau akan menemukan dirimu.

(cerita dari surga)

Sabtu, 10 November 2012

Belajar melalui Melayani untuk Tumbuh, dan Tumbuh untuk Melayani..

Awalnya tanggal 10 November 2012 kami akan melanjutkan Pelatihan Penyusunan Pedoman Standar Kebijakan Perkreditan BPR, entah kenapa tiba-tiba 2 Minggu sebelum acara terbersit keinginan untuk mendahulukan pelatihan Penilaian TKS BPR, yang memang sudah ada dalam Rencana Kerja, namun selalu maju mundur untuk dijadikan Inhouse Training yang melibatkan seluruh karyawan. Pemikirannya sih sederhana saja, kami ini karena sudah terbiasa terima jadi sehingga sering lupa asal muasal perhitungan itu. Selain itu juga karena yang bisa menghitung TKS itu hanyalah bagian Akunting saja, yang bisa membaca TKS ya hanya orang-orang tertentu. Padahalkan seluruh bagian secara langsung terlibat aktif menentukan TKS BPR bisa menjadi sehat atau tidak sehat. Apa iya harus semua bagian diikutsertakan.. tanpa basic mengerti Laporan Keuangan semua sama sekali. Akhirnya kami memberanikan diri untuk menjadikan inhouse training apapun nanti hasilnya.

Semua bagian ? Ya semua bagian pasti menentukan kesehatan BPR. Ibarat tubuh kita, ada kepala, tangan, kaki, panca indera, perut dan bagian lainnya, jika salah satu bermasalah atau sakit pasti akan menyebabkan seluruh tubuh terasa sakit. Mata kita merah saja kita bisa merasa tak enak badan. Begitu juga di BPR, satu bagian tidak berkontribusi dengan baik pasti akan menyebabkan TKS menjadi kurang baik.

Kolektor yang tak bisa mencapai target, CS yang kurang senyum dan kurang terampil dalam melayani, Teller yang tak melayani dengan baik atau tak teliti, tak adanya integritas dan loyalitas pada perusahaan, setiap bagian merasa tak bertanggung jawab terhadap rencana kerja.. jelas-jelas semua itu bisa menyebabkan turunnya tingkat kesehatan BPR.

Memang semua itu, saat ini tak ada di BPR kita, dan semoga tak pernah ada, semua mau bekerja dengan passionnya, berintegritas dan selalu bersemangat dalam melayani dan melayani.  Apakah juga karena TKS kita sedang tidak sehat, memang tidak juga, TKS kita selalu sehat, dan kita selalu berharap untuk selalu dan makin sehat. Tapi dengan kita duduk mengikuti pelatihan mengenai Penilaian tingkat kesehatan BPR kita semakin paham, bahwa kita tak bisa main-main dengan kinerja kita karena secara langsung mempengaruhi tingkat kesehatan BPR kita.

Sekarang kita semua telah tahu.. memang benar kita punya peran dan tanggung jawab yang berat untuk mempertahankan tingkat kesehatan BPR kita bahkan harus terus membuat nilai TKS kita semakin baik. Saat duduk mengikuti pelatihan memang sepertinya kita pusing. Ada neraca, laba rugi, ppap, dan istilah-istilah lain yang sepertinya asing terutama untuk karyawan baru. Tapi itu jangan menyurutkan langkah kita, tugas kelompok yang kemarin diberikan dan dikumpulkan minggu depan pasti akan membantu kita untuk makin memahami mengenai pelatihan ini. Kerjakan dengan hati yang senang, diskusikan dengan yang sudah memahami, dan coba terus sampai mengerti dan bisa.
Setelah itu kita akan semakin takjub dengan diri kita sendiri.. ternyata kita tak sebodoh yang kita pikir.. ternyata kita bisa dan kita sekarang makin mengenal BPR dimana kita bekerja.. kita bisa membaca laporan keuangannya.. dan ternyata kita bisa juga menghitung TKS BPR. Dan kita juga bisa membandingkan kinerjanya dengan BPR lain, untuk memotivasi agar semakin ingin maju. TKS BPR ternyata bukan konsumsi direksi, manajer dan bagian akunting saja tapi konsumsi untuk kita semua.

Tujuan BPR kita "Membangun sebuah lingkungan kerja yang aman dan memberikan pemenuhan serta kesempatan untuk tumbuh dan belajar bagi seluruh karyawan" tentu membutuhkan biaya yang tak sedikit untuk membuat pelatihan-pelatihan untuk mencapai tujuan tersebut. Menjadi tugas kita untuk memanfaatkan setiap pelatihan-pelatihan untuk memajukan diri kita dan BPR kita. Sehingga tujuan BPR kita "Memberikan pelayanan jasa keuangan dengan menyediakan produk jasa yang baik, dengan harga yang wajar, kejujuran yang penuh, integritas, beretika disegala aspek bisnis." dapat selalu kita lakukan. Marilah kita semua melayani untuk tumbuh dan tumbuh untuk melayani, biarlah kita diijinkan untuk menjadi Pahlawan dilingkungan kita, di keluarga kita, di tempat kita bekerja. 

Selamat Hari Pahlawan.. mari kita berbuat mulai dari lingkungan terkecil kita.. Terima kasih untuk semua rekan kerjaku, mitra kerjaku, nasabah, dukungan keluargaku, mbakku di rumah, sahabat-sahabatku dan setiap orang yang kujumpai dalam hidupku baik yang selalu bersikap baik padaku, maupun yang bersikap buruk padaku.. tanpa kalian semua aku bukanlah apa-apa dan bukan siapa-siapa, karena kalian semua aku merasakan kebahagiaan dan melakukan perubahan-perubahan dalam hidupku untuk menjadi yang lebih baik.. kalian adalah pahlawan dalam kehidupanku.. kalian semua membuatku belajar untuk melalui melayani aku bisa tumbuh, dan aku tumbuh untuk melayani..







Kamis, 08 November 2012

Hari-hari ku di Kelas S2

Halo Blog.. apakabar..
Sudah lama aku tak main kemari ya..
Aku memang sedikit sibuk.. ya sedikit..
Karena akupun banyak membolos kuliah..

Kamu lihat ini gambar-gambar di kelasku..
Kelas yang penuh tawa..
Katanya sih isinya direksi semua..
tapi kelakuannya hahaha..lihat aja deh di gambar..

Dikelas ini aku bisa tertawa lepas..
Terbahak-bahak...
Dikelas ini aku bisa terpusing-pusing..
Tak tahu tadi diterangkan apa.. kosong..

Kelas ini kelas bebas..
Bebas bicara.. bebas browsing.. bebas lihat youtube..bebas facebookan.. bebas ngopi-ngopi..ngemil snack.. bebas BBM.. bebas pusing.. bebas bertanya.. bebas galau..bebas gelisah karena gak ngerti SPSS..bebas mengajak pelatihan.. bebas untuk sindikasi.. bebas untuk lobby-lobby, bebas untuk deposito.. bebas untuk belajar...bebas untuk kerja kelompok.. bebas menerima telepon.. Bebas terlambat.. bebas untuk mentertawakan teman.. bebas becanda.. Bebas berusia berapapun yang penting jabatannya Pengurus. Bebas yang bertanggung jawab. Ya tanggung jawab masing-masing kalau nggak ngerti apa-apa dan gak lulus.

Kelas ini tempat bertukar pikiran
Kelas ini tempat berdebat
Kelas ini tempat melepas tawa..
Kelas ini menimbulkan rasa kangen...
Kelas ini menimbulkan rasa cinta pada industri,,,

Hari-hariku di kelas S2.. adalah hari-hari yang menyenangkan sekaligus menggalaukan.. karena aku tak paham-paham SPSS, statistik dan metode penelitian... Tapi harus yakin.. BISAAAAA...
Aku berharap kami semua satu angkatan bisa lulus dengan selamat.. dan akan muncul lagi angkatan-angkatan berikutnya yang lebih heboh dan bisa menyumbangkan sesuatu yang berarti untuk industri...