Biar Disapu Ombak

Biar Disapu Ombak
Lupakan.. lalu semuanya akan selesai...

Sabtu, 27 Agustus 2011

DEFENSIF - AGRESIF



Seringkali sebagai pemimpin kita menyerang kembali orang yang memberikan kritik kepada kita, atau kita sering kali mengambil sikap defensif dan agresif. Padahal kita semua mengetahui bahwa sikap defensif dan agresif ini bukan merupakan sifat yang arif bagi seorang pemimpin. Tapi apa daya, saat emosi, logika acapkali sering tertinggal entah dimana.

Masih dari buku yang sama yang belum selesai aku baca, yaitu Leadership in Action karya Subarto Zaini, Subarto Zaini menuliskan bahwa ia terinspirasi oleh Deepak Chopra dalam bukunya The Seven Spiritual Law of Success, merumuskan lima cara untuk menghindari sifat defensif dan agresif dalam menghadapi kritik.

1. NONJUDMENTAL
Kita sebagai pemimpin harus bisa bersikap netral dan tidak menilai negatif atas kritik yang dilontarkan pada kita. Kita tak boleh punya prasangka buruk terhadap pengeritik. Kita harus dapat mengendalikan diri untuk mencoba melihat dari sisi positifnya. Sepedas apapun kritik yang disampaikan pada kita, pasti ada setitik kebenaran dibaliknya.

2. FULL ACCEPTANCE
Kita harus bisa menerima dengan lapang dada bahwa siapapun berhak melontarkan kritik. Bahkan orang terdekat kita sekalipun. Tidak semua orang melihat permasalahan dari kacamata yang sama. Perbedaan cara pandang adalah sesuatu yang wajar. Karena itu kita harus bisa menerima semua kritik yang dilontarkan pada kita dengan lapang dada.

3. FULL RESPOSIBILITY
Kita harus bertanggung jawab terhadap kinerja dari lembaga yang dipercayakan pada kita untuk kita pimpin. Entah itu perusahaan ataupun sebuah perkumpulan. Kita jangan melemparkan tanggung jawab kita kepada pihak lain jika ada yang mengkritik kita.

4. BE HUMBLE
Kita harus rendah hati, menghormati orang lain dengan tulus. Lawan dari rendah hati adalah sombong, arogan dan merendahkan orang lain. Betapun pahit dan pedasnya kritik yang kita terima kita harus tetap menghormati si pengeritik dengan tulus.

5. FORGIVING
Marah dan dendam tidak akan membantu menyelesaikan masalah. Marah dan dendam bahakan membuat pikiran kita menjadi ruwet dan tidak dapat melihat permasalahan dengan jernih.

Kalau kita mampu melaksanakan kelima hal tersebut maka dapat dipastikan kita akan dihindarkan dari sikap defensif, agresif dan arogan yang merupakan musuh utama dari seoang pemimpin. Banyak pemimpin yang arogan, defensif dan agresif terjungkal dari singasananya. Kita harus mampu menjadi pemimpin yang arif dan bijaksana, jauh dari kesombongan, sikap defensif dan agresif.

Sanggupkah kita melaksanakan kelima hal tersebut????? Sebenarnya kita sanggup, namun kadang kala emosi lebih cepat dari logika, dan kadang kita juga mudah dipengaruhi oleh orang-orang disekeliling kita yang tidak terima jika kita pemimpinnya di kritik. Mengkritik pemimpinnya sama dengan mengkritik pendukungnya. Jangan mudah mendengarkan kompor yang ada disekeliling kita, nanti kita mudah meledak.


Pemimpi VS Pengigau




Semua orang yang bercerita tentang impiannya kadang membuat aku menjadi amat kagum. Aku menganggap semuanya itu adalah mimpi. Mimpi adalah sesuatu yang indah untuk dicapai. Namun kadang kala aku juga menemukan sebuah mimpi yang menurut aku tak baik. Dahulu aku masih menyebutnya juga sebagai mimpi. Setelah aku membaca buku Leadership in Action ternyata jika mimpi itu tidak baik itu bukanlah mimpi tetapi ngigau. Ngigau itu biasanya terjadi disaat kita sedang sakit misalnya demam tinggi.

Pengigau... Pemimpi.. merupakan dua hal yang berbeda. Jika mimpinya indah bagi kepentingan orang banyak tentunya ini boleh disebut sebagai mimpi. Namun jika mimpinya untuk merusak satu tatanan yang sudah ada, merugikan orang banyak, atau bahkan mendapatkan reaksi yang negatif, tentunya ini tak dapat disebut sebagai mimpi. Tapi lebih tepat disebut mengigau.. karena ini tidak baik, mimpi yang tidak baik biasanya terjadi pada orang yang tidak sehat.

Apakah kita pemimpi atau pengigau.. ?

Selasa, 23 Agustus 2011

Menepati Janji pada diri sendiri....



Orang bilang janji adalah hutang. Kita merasa menjadi hutang tak kala kita merasa tak mampu menepati janji kita pada sahabat ataupun siapa saja yang menjadi bagian hidup kita. Tapi sering kali kita lupa pada janji pada diri kita sendiri. Janji kita pada Tuhan. Janji pada Tuhan dan janji pada diri kita sendiri sering kita tawar-tawar penepatan janjinya karena kita merasa hanya diri kita sendiri yang tahu dan Tuhan yang tahu. Orang lain tak tahu. Dengan mudahnya kadang kita berkata.."sekali ini saja ya Tuhan.. besok tidak lagi.." atau kita berkata pada diri kita sendiri.. "sekarang makan bakso deh.. aku janji kita sebulan ke depan tidak makan bakso ya.." Namun baru seminggu kita sudah ingin makan bakso dan kita tinggal berkata.."maaf ya sekali ini deh.. abis ini tidak lagi deh.. habis kepengen sekali sih..".. Demikian setiap hari.

Di saat saya berjanji pada diri saya sendiri untuk fokus pada keluarga, kantor saya, dan hobby saya, saya pun sering lalai. Saya kadang asyik dengan keinginan-keinginan saya sendiri tanpa melihat apakah ini telah mengganggu janji saya sendiri untuk fokus pada keluarga, kantor dan hobby saya.

Ajakan yang tiba-tiba kadang membuat saya ragu pada diri saya sendiri. Rasa tidak enak, rasa takut salah, rasa takut menyinggung perasaan orang lain kadang membuat saya akhirnya meninggalkan sementara janji-janji saya. Kadang skala prioritas menjadi tak jelas. Siapa sebenarnya yang harus saya prioritaskan.
Ini menyangkut masalah eksternal. Belum lagi yang internal. Sulit tidur yang berkepanjangan membuat waktu di atas jam enam adalah menjadi waktu tidur yang melelapkan..akhirnya fokus pada pekerjaan menjadi hilang.. rasa kantuk saat kerja.. bangun kesiangan.. menjadi problem sehari-hari.

Betapa sulitnya mengatur diri kita sendiri. Masih lebih mudah jika kita mengatur diri kita untuk menepati janji kita pada orang lain dibanding diri kita sendiri. Ya karena tak ada yang mendengar janji kita..hanya kita seorang yang tahu isi janji kita. Sehingga tak ada seorang yang tahu jika terjadi pelanggaran.

Janji pada diri sendiri sepertinya tak bisa disimpan sendiri. Harus dibagikan kepada orang-orang yang dekat pada kita sehingga jika kita menyimpang orang-orang terdekat kita akan memberitahu kita. Mungkin awalnya mereka akan menilai janji tinggal janji dan tersenyum kecut dengan janji yang kita buat sendiri dan meminta mereka menjadi saksinya. Tapi jika kita mempunyai tekad yang kuat untuk menjalankan janji kita dan senang mendengar teguran orang-orang yang memperhatikan kita .. pasti kita akan bisa menepati janji kita...

Seberapa besar keberanian kita untuk mengungkap janji kita pada orang-orang terdekat kita... saya belum mempunyai keberanian....


Managing Your Boss




Ada ketertarikan tersendiri saat saya membaca bagian ini. Di bagian ini penulis, bapak Subarto Zaini menceritakan pengalamannya saat bekerja sebagai Asisten Direktur Keuangan. Dimana pada awalnya semuanya berjalan dengan baik. Atasannya sangat menghargai kompetensi dan kinerjanya. Kemudian terjadi hubungan yang tidak harmonis dan kemudian timbullah konflik yang makin lama semakin tajam dan akhirnya membuat penulis memutuskan untuk meninggalkan jabatannya.

"Hal itu disebabkan oleh kebodohan saya dalam mengelola atasan. Mungkin juga karena saya masih sangat muda, penuh arogansi dan rasa percaya diri yang berlebihan. Seharusnya saya dapat mengelola atasan saya dengan lebih baik, sehingga konflik dapat dihindari" tulisnya dalam bagian ini.

Dalam perenungannya ia memperoleh beberapa kiat yang harus diperhatikan dalam mengelola atasan agar tidak terjadi konflik.

Pertama
Kenalilah atasan kita dengan baik. Bagaimana pola kerjanya, kepribadiannya, preferensinya, nilai-nilai yang dianutnya, dan kebiasaan-kebiasaannya. Dengan mengenal itu semua kita akan memahami hal-hal yang sensitif dan bahkan tabu untuk disampaikan padanya.

Kedua
Pahami benar apa yang menjadi obsesi pribadinya, apa yang ingin dicapai dan diwujudkannya baik jangka pendek maupun jangka panjang. Pahami juga apa visi dan misinya untuk membawa organisasi ke masa depan.

Ketiga
Pikirkan apa yang dapat kita lakukan untuk membantu atasan dalam mewujudkan prioritas-prioritas, obsesi pribadinya, serta visi dan misinya. Dengan demikian ia merasa sangat terbantu dengan keberadaan kita. Kita akan dilihat sebagai PART OF The SOLUTION dan bukan sebagai PART OF the PROBLEM. Kita akan menjadi lebih mudah untuk mempengaruhi atasan kita. Hubungan kerja akan menjadi lebih harmonis dan produktif.

Ketiga hal itu menjadi perenungan yang panjang dalam kepala saya. Saya merasa telah mampu menjalankan ketiga hal tersebut dengan baik, namun kenapa saya semula yang dapat menjadi part of solution sekarang masuk dalam part of the problem. Dimanakah letak kesalahan yang telah saya buat. Saya mencoba mengingat dan mengingat lagi.
Mungkin pada bagian pertama inilah yang harus saya garis bawahi..
Pertama
Kenalilah atasan kita dengan baik. Bagaimana pola kerjanya, kepribadiannya, preferensinya, nilai-nilai yang dianutnya, dan kebiasaan-kebiasaannya. Dengan mengenal itu semua kita akan memahami hal-hal yang sensitif dan bahkan tabu untuk disampaikan padanya


Ya saya ternyata tidak mengenali atasan saya dengan baik, terutama kepribadiannya. Saya tidak dapat menahan hal-hal yang seharusnya saya sampaikan untuk saya simpan sendiri dan mengeluhkannya dibelakang. Saya menyampaikan pendapat-pendapat saya, kritikan-kritikan saya, dan mulai berani menentukan sikap jika saya memandang sikapnya tak sesuai dengan visi misi dan nilai-nilai organisasi. Saya merasa hal itu adalah hal yang perlu saya sampaikan sebagai orang yang membantunya selama ini, bukan untuk menjatuhkannya tapi untuk kebaikan banyak pihak dan juga kebaikan atasan saya.

Dalam sebuah perkumpulan seperti ini sebenarnya istilah "boss" tidak ada. Kita semua satu tim, kita semua adalah anggota yang mempunyai hak dan kewajiban yang sama. Hanya saat ini "boss" mendapat amanah untuk menjadi ketua. Sebagai orang-orang yang masuk dalam kabinetnya sudah layak dan sepantasnya untuk selalu mendukung dan memberikan suport dan menghargai hirarki organisasi.

Tapi bukan berarti segala keputusan adalah mengikuti keputusan pribadinya. Keputusan dalam organisasi bersifat kolegial. Salahkah jika kita menyuarakan pendapat kita untuk kebaikan banyak pihak. Salahkah jika kita memilih berdasarkan suara hati kita. Salahkah jika mendukung calon lain yang tak didukung olehnya. Apakah atasan dan bawahan masih ada dalam forum seperti ini. Apakah kita harus selalu memberikan dukungan jika hati kita tak sejalan. Tak ada lagikah hak kita sebagai anggota.

Sebenarnya dalam hati kecil saya tetap "ngotot" mengatakan bahwa saya mengenal dengan baik, namun saya merasakan idealismenya telah luntur.

Dan saya juga menyesali kenapa diri saya yang semula adalah part of solution saat ini menjadi part of problem...hanya karena saya terlalu "ngotot" dengan pendapat-pendapat saya..padahal 3x3 tak selalu 9, padahal untuk menuju satu tempat bukan hanya ada satu jalan..tapi banyak jalan.. untuk menyampaikan pendapat tak perlu sekeras karang.. tapi bisa seperti ombak.. bergulung pelan menyentuh bibir pantai..lagi dan lagi.. sampaikan lagi dan lagi dengan halus.. walau ada saat deburannya kencang.. namun dia tak selamanya berdebur kencang.. dia kembali lagi halus..halus.. sehingga suara deburan ombak menjadi amat indah..dan menjadi lagu alam yang amat indah bagi siapa saja yang mendengarnya.. Seandainya saja... saya mampu...saya ingin setiap saat melantunkan lagu alam yang indah ini....

Namun sayang deburan ombak yang kencang..telah memporakporandakannya....

Sense of History - Jangan melupakan sejarah




Sebenarnya tulisan ini adalah masih merupakan satu bagian dengan Bab "Belajar dari Kegagalan" dari buku Leadership in Action karya Subarto Zaini. Tapi saya tertarik mengupasnya secara tersendiri.

Pidato Soekarno pada acara HUT RI tanggal 17 Agustus 1966 yang bertajuk "Jangan sekali-kali meninggalkan sejarah (Jas Merah)". Soekarno berujar demikian .. "Seorang pemimpin berkata we can not escape history. Sayapun berkata seperti itu tapi saya tambahkan. Never Leave history. Jangan sekali-sekali meninggalkan sejarah". Pidato ini jelas mengungkapkan kekesalan Soekarno terhadap Suharto yang menyalahgunakan Supersemar.

Apakah yang bisa kita lihat dan belajar dari sini ?

Pemimpin yang melupakan sejarah akan membawa kehancuran pada organisasinya. Mereka melupakan akar sejarahnya, mengambil dan menerapkan strategi yang menyimpang dari akar sejarahnya. Menyimpang dari misi utamanya dan nilai-nilai yang dibentuk dalam proses perjalanan sejarah organisasi atau perusahaan.

Namun bukan berarti organisasi yang lupa sejarahnya tak bisa bangkit. Mereka dapat bangkit kembali dengan kembali pada akar sejarahnya. Astra dan BRI dapat menjadi contoh bagi kita. Astra dapat dibangkitkan karena memiliki akar sejarah yang dibangun oleh pendirinya William Soerjadjaja. BRI pada saat menjelang krisis ada upaya dari pemimpin BRI untuk memperbesar porsi corporate banking segera sadar dan kembali pada akar sejarahnya yaitu tetap pada misinya melakukan kegiatan perbankan pada usaha mikro kecil dan menengah.

Hal ini pun sering kita alami di kehidupan kita dalam berorganisasi. Pada saat kita mendirikan sebuah organisasi kita merasakan kesamaan visi misi dan nilai-nilai. Dan disaat pemimpin organisasi kita lupa pada akar sejarahnya, lupa pada nilai-nilai yang sama-sama telah dibangun, lupa pada tujuan awal, lupa pada jejak langkah dan peluh dari orang-orang yang ada di dalam organisasi, terlalu memaksakan kehendaknya, maka organisasi ini akan pecah. Terjadi pro dan kontra. Terjadi mendukung dan tidak mendukung. Organisasi menjadi tidak solid.

Keputusan-keputusan dibuat sepihak berdasarkan kepentingan golongan-golongannya. Merasa dirinya menjadi pejuang menyelamatkan organisasi dari orang-orang yang dianggap tak sejalan. Peluh dan lelah serta masukan dari orang-orang yang selama ini terlibat dalam pendirian organisasi, jalannya organisasi tak pernah punya arti.

Pertemuan-pertemuan yang hanya dihadiri oleh orang-orang yang mendukung saja dan pengambilan-pengambilan keputusan tanpa melalui mekanisme organisasi yang ada. Seolah organisasi adalah milik pribadi. Anggaran Dasar hanya tinggal lembaran usang yang tak perlu dibaca, Anggaran rumah tangga hanya tinggal pasal-pasal tanpa makna.

Betapa rapuhnya organisasi seperti ini. Rentan serangan jika ada yang mempermasalahkan. Bersyukur jika pelaku sejarah lainnya tak mempersoalkan. Menunggu dengan doa agar kesadaran dan ingatan pemimpinnya kembali pada akar sejarah dan tujuan awal.

Jika saja mau mengingat pada sejarah, pemimpin terpilih karena ada yang memilih.. sebuah organisasi terwujud karena ada banyak orang yang mewujudkannya. Tak pernah ada dalam sejarah seorang pemimpin dapat melaksanakan semuanya sendiri, pasti ada tangan-tangan yang mau kotor untuk selalu mendukung dan mensuportnya, sekecil apapun perannya.

Sense of History atau kepekaan sejarah sangat penting bagi seorang pemimpin


--------------------------
Bukan rahasia bila segenggam kekuasaan
lebih berharga dari sekeranjang kebenaran
Bukan rahasia bila penguasa pun bisa
merubah sejarah dan memutar balikkan fakta

-Ahmad Dhani Dewa 19-
---------------------------

Minggu, 21 Agustus 2011

Belajar dari Kegagalan - Leadership In Action



Ini adalah bagian pertama dari Buku Leadership in Action. Di bagian ini walaupun berisi artikel-artikel yang dimuat dalam majalah Business Review di kolom Kepemimpinan, namun telah dipilah-pilah dan dikelompokkan berdasarkan isi dari masing-masing artikel. Di bab ini kita diajak untuk banyak belajar dari orang lain. Pembelajaran itu menurut Peter Senge adalah tentang membuat kesalahan. Membuat kesalahan sekali adalah wajar darinya kita belajar untuk lebih baik.


Belajar dari Sri Mulyani
Sri Mulyani terlalu mengandalkan kekuatan yang dimilikinya, terlalu percaya diri. Kurang peka terhadap konteks yang dialami sebagai menteri keuangan. Ia kurang menyadari bahwa kekuatan politik itu berorientasi pada kekuasaan dapat melakukan apa saja untuk menghancurkan lawan politiknya dan pihak yang tidak mendukung. Ia dibiarkan sendiri menjadi bulan-bulanan. Tapi itulah kotornya politik. Pengabulan permohonan Sri Mulyani untuk mundur merupakan tanda kurang teguhnya pemimpin tertinggi menghadapai tekanan politik kelompok kepentingan yang terganggu adanya perubahan.

Belajar dari Buku How The Mighty Fall-Jim Collins
Lima tahapan yang biasanya dialami perusahaan besar menuju kehancuran :
1. Perusahaan akan mengalami kemunduran jika pemimpinnya mulai sombong.
2. Pemimpinnya serakah ingin memasuki bidang apa saja
3. Perusahaan mengabaikan resiko dan acaman eksternal
4. Pemimpin perusahaan melakukan penyelamatan dengan mengganti CEO lama dengan CEO baru yang lebih karismatik, yang biasanya melancarkan program transformasi organisasi dan merumuskan strategi baru yang sangat berani tapi belum pernah terbukti keefektivitasnya.
5. Perusahaan kehilangan harapan dan menyerah untuk di akuisisi atau dilikuidasi.

Belajar dari Soeharto
Suharto adalah pemimpin yang besar. Meninggalkan jasa yang besar untuk Indonesia. Satu-satunya kesalahan terbesarnya adalah terlalu lama berkuasa. Banyak pemimpin yang sangat pandai naik ke puncak karir tapi tidak tahu bagaimana harus turun setelah berada di atas.(endriartono Sutarto)
Dan seharusnya seorang pemimpin tidak diberikan berbagai macam gelar sebelum paku terakhir ditancapkan di peti matinya. (Mochtar Riady)

Belajar dari Kasus Jamsostek
Sebagai pemimpin puncak khususnya dalam struktur two boards di Indonesia, kita harus mampu menciptakan budaya yang kondusif guna membangun kerjasama dgn semua pihak. Mutual Respect dan Mutual Trust serta budaya untuk membangkitkan perasaan saling ketergantungan harus benar-benar dibangun. Budaya ini dapat dibangun dari proses komunikasi yang terbuka, dialog yang sehat dan kemampuan pemimpin untuk mengambil sikap flexibility dan emphaty. Belajar dari kesalahan adalah wajar dan darinya kita belajar untuk lebih baik.

Belajar Decision Making dari Baterai Eveready
Proses pengambilan keputusan yang terpusat di kantor induk di Amerika yang lamban, birokratis dan terlalu terpusat merupakan penyebab hancurnya perusahaan ini. Perusahaan ini menjadi sangat arogan dan terlalu percaya diri karena berhasil. Saat anak perusahaannya berteriak telah muncul baterai ABC, kantor pusat tetap mengatakan baterai ABC tak kan mampu mengungguli dominasi dan kecanggihan baterai eveready.

Belajar dari IBM
IBM yang dibangun dan dibesarkan oleh Thomas J. Watson dari tahun 1924, adalah perusahaan besar yang sering dijuluki Big Blue. Perusahaan yang sangat di hormati dan mampu menciptakan nilai berlipat ganda serta sangat menguntungkan pemegang sahamnya.
IBM dikenal dengan 3 nilai dasarnya yaitu :
1. Respect for individual
IBM adalah perusahaan yang sangat menghormati setiap individu, baik yang bekerja di perusahaan maupun yang diluar perusahaan termasuk pelanggan, pemasok dan anggota masyarakat.
2. Best Consumer Service
Selalu berupaya memberikan pelayanan yang terbaik kepada pelanggannya. Dari sales enginer sampai dengan mesin pengganti yamg selalu siap sedia.
3. Pursuit of excellence in everything we do
IBM tidak pernah berkompromi dengan mutu dan keunggulan terbaik dari apapun yang dilakukan termasuk pengembangan produk, pelayanan pelanggan dan kualitas SDM.
Lalu kenapa IBM pada awal tahun 1990 mengalami guncangan hebat ?
IBM mengalami guncangan hebat karena kesuksesannya sendiri. IBM dijangkiti penyakit Arogansi dan kemapanan sebagaimana juga dialami perusahaan sukses lainnya.
IBM kurang waspada terhadap munculnya fenomena munculnya personal computer. IBM menganggap personal komputer tidak punya masa depan. IBM mengalami kelumpuhan paradigma karena arogansinya. Sama halnya dengan industri arloji swiss yang terkalahkan oleh arloji Jepang.
Bukan value based leadership yang menyebabkan kemunduran IBM, tapi karena kelumpuhan paradigma. Kita belajar bahwa walalupun sukses kita harus tetap berhati-hati. Setiap perkembangan harus diperhatikan. Setiap saat bisa terjadi perkembangan yang dapat memporakporandakan pondasi keberhasilan perusahaan.




Ini Baru Potongan-potongan dari buku Leadership in Action tulisan Subarto Zaini


Kuambil dari bab Selamat Berjuang Indonesia

Ternyata akar masalah di negeri ini adalah Kepemimpinan. Untuk semua ranah.. ekonomi, politik bahkan olah raga sekalipun problemnya adalah di Kepemimpinan. Kita tidak memiliki pemimpin yang berkualitas, bermoral dan memiliki semangat pengabdian. Lihat saja seorang koruptor masih ingin bertahan memimpin organisasi olah raga.

Indonesia membutuhkan pemimpin. Namun pemimpin yang harus memiliki semangat pengabdian. Jika ingin mengabdi pasti mau berkomitmen. Dengan komitmen maka akan melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya dengan sepenuh hati. Orientasinya sudah "what can I Contribute".

Pemimpin yang dibutuhkan juga harus pemimpin yang bermoral dan memiliki etika performa yang tinggi. Bukan hanya punya semangat tapi yakin ia mampu. Ia mau mempertaruhkan nama dan masa depannya demi sebuah tujuan. Dan apabila gagal menjalankan amanah, secara ksatria mau mengundurkan diri.

Dan Pemimpin yang amanah adalah yang mampu melaksanakan ajaran kepemimpinan Ki Hajar Dewantara. Di depan memberikan teladan, ditengah memberikan bimbingan, dibelakang memberikan dorongan.

Bisakah kita menjaring pemimpin yang seperti itu. Bisa tapi bukan dari stok pemimpin yang ada sekarang. Tapi dari generasi muda. Regenerasi kepemimpinan mutlak harus dilakukan. Untuk menyelamatkan bangsa ini.

BENDERA - COKLAT


Bendera - Cokelat

biar saja ku tak seindah matahari
tapi selalu ku coba tuk menghangatkanmu
biar saja ku tak setegar batu karang
tapi selalu ku coba tuk melindungimu

biar saja ku tak seharum bunga mawar
tapi selalu ku coba tuk mengharumkanmu
biar saja ku tak seelok langit sore
tapi selalu ku coba tuk mengindahkanmu

ku pertahankan kau demi kehormatan bangsaku
ku pertahankan kau demi tumpah darah
semua pahlawan-pahlawanku

* merah putih teruslah kau berkibar
di ujung tiang tertinggi di indonesiaku ini
merah putih teruslah kau berkibar
di ujung tiang tertinggi di indonesiaku ini
merah putih teruslah kau berkibar
ku akan selalu menjagamu


Source: http://liriklaguindonesia.net/c/cokelat/cokelat-bendera/#ixzz1VgXFnhvE

MIMPI - Anggun




Dalam hitam kelap malam
kuberdiri melawan sepi
di sini di pantai ini
telah terkubur sejuta kenangan
dihempas keras gelombang
dan tertimbun batu karang
yang tak kan mungkin dapat terulang

wajah putih pusat pasi
tergores luka di hati
matamu membuka kisah
kasih asmara yang telah ternoda
hapuskan semua khayalan
lenyapkan satu harapan
kemana lagi harus mencari

kau sandarkan sejenak beban diri
kau taburkan benih kasih
hanyalah emosi

melambung jauh terbang tinggi
bersama mimpi
terlelap dalam lautan emosi
setelah aku sadar diri
kau tlah jauh pergi
tinggalkan mimpi yang tiada bertepi

kini hanya rasa rindu
merasuk di dada
serasa sumpah melayang pergi
terbawa arus kasih membara

Source: http://liriklaguindonesia.net/a/anggun/best-of/anggun-mimpi/#ixzz1VgOEbFwm

Aku bangga pada tiga putriku...


Hari ini sungguh aku malas sekali pergi ke gereja. Aku ingin di rumah saja. Bersih-bersih dan kemudian menulis-nulis apa yang ingin kutulis. Aku ingin menyelesaikan membaca buku yang sedang aku baca. Aku ingin menulis referensi tentang buku itu. Makin kuatlah kemalasanku untuk berangkat ke gereja. Belum lagi jika membayangkan sulitnya mencari parkiran di Pasar Baru. Hari ini minggu terakhir untuk berbelanja sebelum mudik, minggu ini semua orang sudah menerima THR.

Aku tahu pasti Bapa kecewa padaku. Tapi rasa malasku benar-benar luar biasa. Tiga putriku pun terlihat kecewa. "Jadi mami itu mau ke gereja apa tidak siiii.." tanya mereka sedikit kesal karena aku terlihat bimbang antara pergi dan tak pergi.
"Kalau mami gak pergi .. pada pergi gak..???" tanyaku ... "Ya iyalah... emang mami..." kompak mereka menjawab. Ahhhhh malu juga jadinya. Tapi rasa malasku ini memang gak punya malu.

Akhirnya mereka bertiga berangkat ke gereja. Ketidakhadiranku tak menjadi penghalang bagi mereka untuk berangkat ke gereja. Pasti nanti di gereja mereka dihujani pertanyaan.."mana mami..mana papi..."... dan dengan tenang mereka akan jawab.."tau tu..males banget.."... astaga memalukan juga yaaa...

Saat mereka pulang mereka berkata.."ih mami ya gak malu gak ke gereja..".. lalu.. "mami tahu gak..ke gereja itu adalah karunia Tuhan.. kalo mami gak ke gereja itu artinya mami gak terima karunia Tuhan.."..lalu.. "ingat ya mi.. carilah dulu kerajaan Allah maka semuanya akan ditambahkan kepadamu... mami parah...mami payah..." Begitulah mereka sekarang..lebih pintar dan fasih daripada aku.

Tapi paling tidak hari ini aku amat damai.. mereka sudah mengerti apa yang baik dan tidak baik. Sekalipun maminya tidak baik mereka tetap berlaku baik. Aku bangga melihat keinginan yang kuat dari diri mereka untuk pergi ke gereja.. dan kerukunan mereka.. tak pernah aku melihat mereka ribut dalam waktu yang panjang.. sejam saja tak pernah.. Putriku..aku bangga padamu... kiranya ini semua bisa berlanjut terus walau nanti mami tidak ada lagi di dunia ini....

------------------------------

Menjadi role model itu susah ya.....

Kalau dia saja berani..kenapa kita tak berani..






















Buku ini memang benar-benar mengusik aku. Entah kenapa mulanya aku senang ketika mendapatkan buku ini di Gramedia. Namun setelah membaca siapa yang menulisnya dan tak terkait sama sekali dengan dunia BPR, kenapa ya aku menjadi sedih.

Di dunia BPR ini kan sebenarnya banyak sekali maestro-maestronya. Tapi kenapa ya belum ada yang mau menulis buku tentang BPR. Kalau saja aku senang menulis buku yang berat-berat tentang operasional BPR dan lain-lain yang terkait dengan dunia BPR..pasti aku sudah menulisnya. Tapi passion aku tidak disana. Aku lebih suka bermimpi.. menulis fiksi..menulis yang penuh angan..bukan dunia realita apalagi soal operasional.

Aku tiba-tiba ingat dengan seseorang. Aku kirimkan gambar buku ini..kuberitahu apa isi buku ini. Kuberikan komen..kuberikan masukan. Aku tahu dia orang yang tepat untuk menuliskan dunia BPR kalau saja dia mau. Mungkin dia bosan dengan BBM aku. Isinya hanya bercerita tentang mimpi-mimpiku saja. Isinya tentang keinginanku agar dia begini dan begitu. Pasti dalam hatinya dia bilang "kenapa tidak kamu saja sih yang buat..kok bisanya nyuruh-nyuruh orang saja..". Tapi entah ya aku yakin sekali..seandainya dia mau dia bisa menghasilkan yang lebih baik dari buku ini.

So... bagaimana sahabatku yang baik.. apakah tak berani engkau mewujudkan mimpiku.. ? Kalau dia saja yang tak pernah di BPR berani menulis seperti itu..kenapa kamu yang malang melintang dunia BPR tidak berani...

Kadang aku geli sendiri dengan diriku sendiri..kenapa juga aku ini selalu meributkan orang lain untuk begini dan begitu.. kenapa aku tidak mengurus diriku sendiri.. kenapa aku harus bermimpi dan orang lain yang aku paksa untuk merealisasikan. Aku teringat sosok lembut penuh kasih..ibuku.. aku rasa aku sudah secara tak sengaja mengikuti jejaknya.. Ibu selalu bermimpi.. ingin begini dan begitu.. bukan untuk dirinya tapi untuk orang lain.. dan ibu tak segan-segan membantu setiap orang yang akan merealisasikan mimpinya. Ibu tak pernah memaksa.. hanya mengajak kami mendengarkan mimpinya. Kadang tiba-tiba ibu menelpon dan mengatakan.. ibu ingin begini..menurut kamu bagaimana.. ibu kok merasa kita perlu begini.. apakah kita bisa merealisasikannya.

Aku juga tak keberatan membantu menjadi orang pertama yang membaca buku yang mencoba merealisasikan mimpiku.. walau hanya baru bisa sekedar membaca.. tapi aku yakin niat baik pasti dibukakan jalan.

Jadi..aku tunggu buku tentang mimpiku yaaaaa....

-------------
untuk sahabatku yang selalu ku BBM untuk menulis buku tentang mimpiku...

Kamis, 18 Agustus 2011

CINTAKAN MEMBAWAMU KEMBALI - REZA

tiba saat mengerti

jerit suara hati yang letih

meski mencoba melagukan rasa yang ada

mohon tinggal sejenak

lupakanlah waktu

t'mani air mataku

teteskan lara, merajut asa

menjalin mimpi, hendak dan sepi .. sepi



chorus :

cinta kan membawamu kembali di sini

menuai rindu, membasuh perih

bawa serta dirimu, dirimu yang dulu

mencintai diriku apa adanya



saat dusta mengalir

jujurkanlah hati

kenakan batin jiwamu

kenangkan cinta seperti dulu

saat bersama, tak ada keraguan



chorus .. repeat

Selasa, 16 Agustus 2011

Kuungkapkan Rasa Cintaku pada Negeri...


Orang bilang ini hari Kemerdekaan.
Orang bilang hari ini negeriku berulang tahun.
Orang bilang..ini surganya para koruptor
Orang bilang..malu punya negeri Indonesia
Orang bilang..sedih melihat Indonesia
Orang bilang.. seandainya saja Indonesia....
Orang bilang... orang bilang...

Aku katakan..ini hari kemerdekaan
Memerdekakan rasa tua negeri ini dengan membangun tiada henti
Memerdekakan rasa malu tanpa lagi harus berbuat malu
Memerdekakan rasa sedih dengan berbuat sesuatu untuk negeri
Memerdekakan rasa ingin Indonesia menjadi negeri lain...tanpa kehilangan ke Indonesiaannya...
Memerdekakan diri untuk mengungkapkan rasa cinta untuk Indonesia..
Hanya rasa cinta pada negeri yang mampu menuntun kita untuk berbuat banyak..

Aku katakan... aku hanya seorang wanita..
Aku katakan... aku tak punya kemampuan apa-apa
Tapi..kucoba bangun mimpi untuk diriku sendiri..
Kucoba bangun mimpi untuk orang disekitarku..
Walau mimpi ku kecil.. walau mimpi orang disekitarku kecil..
Tapi jika kita letakkan satu-satu mimpi kita dilangit..
Pasti akan memenuhi langit..
Negeri Inpian akan terwujud.. karena hanya kita masing-masing yang mampu mewujudkannya....




Perahu kertas....Yang manakah aku..???




Kijang yang bisa berlari secepat kilat bisa diam membeku jika melihat seekor singa. Ya karena rasa takut..sehingga tak mampu berbuat apa-apa lagi. Tak lagi punya daya untuk berlari. Karena rasa bersalah yang amat sangat.. rasa bersalah yang menimbulkan rasa takut.. takut menyapa, takut segalanya.. Atau rasa takut yang disebabkan karena rasa bersalah.. sehingga tak keluar satupun kata .. bukan karena tak mau tapi karena tak sanggup.

Yang manakah aku.. apakah aku kijang yang mampu berlari secepat kilat.. ataukah aku yang menjadi seekor singa..

Aku sendiri tak pernah tahu...


Mungkin seharusnya mereka mengenal aku.
Aku yang suka menulis roman picisan.
Yang suka berangan-angan entah berangan ke negeri mana.
Aku yang suka dengan lagu-lagu melow.. menyimak katanya.. kadang nada menjadi tak terlalu penting. Kata-kataku kadang realita kadang hanya angan belaka.
Hanya keinginan menulis sesaat yang ingin tertuangkan.

Tapi yang pasti dari semua itu yang aku suka adalah deburan ombak di tepi pantai..
aku suka pada ombak yang setia mencium bibir pantai.
Aku suka deburan ombak.. dia adalah nyanyian terindah di alam ini yang pernah aku dengar.
Aku suka rasa deburan ombak dalam hatiku... dan deburan ombak itu masih ada sampai sekarang..
Apakah ini sebuah realita atau sebuah khayalan.. aku sendiri tak pernah tahu...

Minggu, 14 Agustus 2011

tegaslah memilih yang penting

Tegaslah memilih yang penting bagi Anda.

Putuskanlah sendiri bagaimana Anda akan menjalani kehidupan ini.

Jangan Anda serahkan kepemimpinan hidup ini kepada mereka yang tidak bertanggung jawab jika Anda gagal.

Apakah mereka yang komentarnya Anda takuti itu, akan membantu jika Anda jatuh ke relung-relung kegagalan?

Pasti tidak, karena sekarang saja mereka mendahulukan kritik daripada anjuran yang berkasih-sayang.

Katakanlah dengan tegas;

Ini hidupku, akulah yang menjadikannya.

Mario Teguh

Kuingat saat itu

Rasa sakit perut ini memang agak keterlaluan. Seperti menunggu pembukaan saat melahirkan. Keringat dingin mulas ug luar biasa..kadang spt melilit..entah lah sebenarnya melilit itu spt apa, yang jelas rasanya seperti akan melahirkan.

Sakit perut ini membuat aku teringat saat melahirkan putri pertamaku. Setiap melihatnya aku seperti tak percaya kalau dia bisa keluar dari perutku. Bayi yang dulu dengan susah payak aku keluarkan itu sekarang sudah tumbuh menjadi putri remaja yang cantik dan energik. Sayang saja dia amat perasa..sehingga jika aku menegurnya terlihat sekali ekspresi kalau dirinya kurang suka dengan semua teguranku. Dia tak pernah mampu menyembunyikan perasaannya. Mudah menebaknya jika dia sedang tak nyaman.

Sebagai seseorang yang belum pernah menjadi ibu dan akan menjadi ibu..melahirkan adalah situasi yang amat menyakitkan. Keluhan tangisan tak henti_hentinya keluar dari mulutku.. Tanganku tak henti-hentinya menarik rambut suamiku..menarik tangannya menarik bajunya..menarik semua yang bisa aku tarik.

Rasa manjaku membuat aku tak kuat menanggung penderitaan ini. Sudah tiga hari masuk rumah sakit..pembukaannya hanya satu terus. Dokter Benny sedang keluar kota pula. Aku ingin dioperasi saja biar semuanya segera berakhir. Tapi dokter Benny punya kebijakan sendiri. Teganya dia membiarkan aku menunggu pembukaan sampai pembukaan yang terakhir...

Aliran air itu pasti akan bermuara ke laut....

Aliran air itu pasti akan bermuara ke laut.
Lalu untuk apa kau menahannya..
Menunggu berada di tepi pantai dan kemudian menghanyutkannya.
Bukankah kemarin ketika berada di tepi laut..
Tak sedikitpun sanggup untuk menghanyutkan.

Aliran air itu pasti akan bermuara ke laut.
Walaupun perjalanan nya melewati banyak rintangan..
Walaupun dia harus melewati banyak jalan yang sebetulnya tak perlu dilewati,
Walaupun dia harus sedikit berbelok untuk sementara toh akhirnya bermuara juga ke laut.

Aliran air itu pasti akan bermuara ke laut.
Aliran air itu pasti sanggup membawa pergi..
Asal rela kau melemparnya pada aliran itu.
Kenapa kau masih juga menahannya dan membuatmu tersiksa sepanjang malam.

Aliran air itu pasti akan bermuara ke laut...

Aliran air itu pasti akan bermuara ke laut...

Aliran air itu pasti akan bermuara ke laut...
Lepaskan yang ada dalam genggamanmu..
Biarkan dia pergi..
Terbawa aliran air....

Aliran air itu pasti akan bermuara ke laut..
Kenapa masih kau menahannya...


-------------------------------------------------
#sebenarnya tak terlalu pas dengan lagu Afgan ini..tapi aku belum ada ide..
tapi gak jelek juga kok..masih nyambung lah..ya disambung-sambungin aja kalo gak nyambung...#
-------------------------------------------------

BAWA PERGI CINTAKU - AFGAN

sumpah tak ada lagi kesempatanku
untuk bisa bersamamu
kini ku tahu bagaimana caraku
untuk dapat trus denganmu

reff:
bawalah pergi cintaku
ajak kemana engkau mau
jadikan temanmu
temanmu paling kau cinta

di sini ku pun begitu
trus cintaimu di hidupku
di dalam hatiku
sampai waktu yang pertemukan kita nanti

sumpah tak ada lagi kesempatanku
untuk bisa bersamamu
kini ku tahu bagaimana caraku
untuk dapat trus denganmu

repeat ref:
bawalah pergi cintaku
ajak kemana engkau mau
jadikan temanmu
(teman yang paling kau cinta)

di sini ku pun begitu
trus cintaimu di hidupku
di dalam hatiku
(sampai waktu pertemukan) kita nanti



Source: http://liriklaguindonesia.net/a/afgan/afgan-bawalah-cintaku/#ixzz1V2IBiaY

SAAT KAU TAK ADA - JIKUSTIK

Seperti bintang-bintang, Hilang ditelan malam
Bagai harus melangkah, Tanpa kutahu arah
Lepaskan aku dari, Derita tak bertepi
Saat kau tak disini

Seperti dedaunan, Berjatuhan di taman
Bagaikan debur ombak, Mampu pecahkan karang
Lepaskan aku dari, Derita tak berakhir
Saat kau tak ada disini

(Reff:)
Saat kau tak ada, Atau kau tak disini
Terpenjara sepi, Kunikmati sendiri
Tak terhitung waktu, tuk melupakanmu
Aku tak pernah bisa, Aku tak pernah bisa

More lyrics: http://www.lyricsmode.com/lyrics/j/jikustik/#share

Tuhan memberikan satu orang lagi untuk menguatkanku

Sebenarnya seseorang ini bukan orang baru dalam kehidupanku. Dia suster kepala di SMA ku. Dulu melihatnya aku takut setengah mati. Ada saja yang salah dalam tindakanku. Dari pakaian yang kekecilan karena aku mudah sekali gemuk, sampai surat ayah yang memberitahukanku kalau aku sakit padahal aku tak sakit..tapi karena aku kelelahan mengerjakan tugas gambar puzzle sehingga tak sempat belajar untuk ulangan hari itu. Heran sekali kenapa suster bisa tahu kalau aku berbohong.

Mendapat ranking di sekolah memang membuat bebanku luar biasa berat, aku selalu kuatir dengan nilai-nilaiku. Aku kuatir jika rankingku melorot beberapa tingkat. Dan ini ternyata sudah menurun kepada putri bungsuku. Yang begitu ketakutan jika tidak ranking satu. Aku berkali mengatakan.."mami tak masalah jika Keke tidak ranking satu.. asal Keke paham seluruh pelajaran itu sudah cukup.. asal Keke mengerti tugas dan tanggung jawabnya mami sudah cukup." Walau dalam hati aku memang berharap dia mampu mempertahankannya. Tapi aku tak ingin dia tahu...karena itu hanya menambah bebannya saja.

Seseorang ini tidak begitu saja hadir dalam hidupku. Setelah lepas dari SMA aku melanjutkan pendidikan di IKIP Jakarta. Mengambil Jurusan Pendidikan Dunia Usaha Akuntansi. Sehingga aku harus menulis skripsi tentang pendidikan, inilah yang membuatku sampai kembali di SMA ku dan bertemu kembali dengan Susterku ini.

Aku mengajar di SMA ini. Susterku ini memang selalu menjadi penyemangat aku. Semula aku hanya mengajar akuntansi, kemudian diminta mengajar Hitung Dagang, kemudian mengajar Ekonomi. Aku tak boleh menolak. Tak boleh berkata tidak bisa jika belum mencoba. Akhirnya aku mencoba dan mencoba.

Walaupun sudah tidak menjadi anak SMA tetap saja aku masih sering sedikit takut jika Susterku itu memperhatikan dari jendela saat aku mengajar. Membuat aku salah tingkah luar biasa. Haduhhhh... bisa mulas aku dibuatnya.

Akhirnya aku terpaksa meninggalkan sekolah ini ketika otakku sedikit error.. ya error.. karena saat itu memang aku sudah bekerja di sebuah perusahaan.. paruh waktu. Selesai mengajar aku bekerja. "Dari..kamu dibayar berapa sih disana.. saya bayar lebih dari disana..kamu bekerja saja satu hari disini seperti karyawan lain.." begitu kata Bos ku. Otakku yang sedikit error membayangkan mendapat uang yang lebih dan tidak perlu belajar, tidak perlu membuat soal, tidak perlu memeriksa ulangan..membuatku menerima tawaran itu. Ibuku tak setuju dengan keputusanku. Sepertinya ibu merasa lebih nyaman aku berada disekolah daripada bekerja kantoran. Susterpun terlihat kecewa.

Ah..tapi penawaran itu sepertinya lebih mengasyikkan. Dan memang mengasyikkan sampai aku tak mampu menyelesaikan skripsiku dan aku mengambil jalur non skripsi..untuk lulus sarjana. Ibuku marah luar biasa. Nanti kamu tidak bisa S2 begitu katanya putus asa. Aku katakan "aku tidak mau S2..".

Kalau ingat pertengkaran ini..aku sering malu sendiri. Beda sekali dengan putri sulungku. Saat kukatakan.. "Enak ya bisa kerja di rumah sambil ngajar les privat..kamu begitu aja Na..di rumah ngajar Inggris.." dia menjawab.."Kok rendah amat sih mi mimpinya.. aku gak suka seperti itu.." ...plakkkkkk... rasanya kalau urusan semangat aku sangat kalah dengan putriku yang satu ini.. "Na..nanti kamu bisa tidak menikah..kalau cara kamu seperti itu.." kata putri cantikku menegur sang kakak. "Kalau laki-laki hanya menghambat..ya tidak usah menikah.." begitu sahutnya.. Astaga..ada yang salah rasanya disini.

Akhirnya aku lama tak bertemu dengan susterku itu. Sampai acara bakti sosial yang mempertemukan aku kembali dengan susterku ini. Rasanya aku sulit menolak jika temanku mengajak aku untuk bergabung di acara bakti sosial yang dibuat oleh Susterku ini. Aku ingin menebus rasa kecewanya padaku saat aku meminta ijin untuk meninggalkan SMA dulu. Walaupun dia belum tentu mengingatnya.

Dia juga bertandang ke rumah ibuku..mengunjungi BPR ku. Aku suka dengan kehadirannya. Karena selalu saja ada nasihat darinya..selalu ada saja cerita-cerita yang menginspirasiku. Walaupun pembicaraan kami acapkali masih terkesan formal. Rasa takut ku itu belum lenyap..aku masih kuatir jika aku salah bicara..

Tuhan ternyata memang ingin membuatku dekat dengannya. Kami makin sering dipertemukan. Entah untuk urusan bakti sosial entah untuk urusan lainnya. Kami sering berbagi cerita. Suster menceritakan tugas-tugas pelayanannya. Aku sering diminta cerita tentang kondisi suamiku. Tak bosan Suster menanyakannya setiap perkembangannya. Bahkan membantu mencarikan terapis, menawarkan diri menemani aku mengantar suamiku terapi. Ahh.. aku jadi sering tak enak jadinya.

Ada saja cerita yang kami bagi. Sosok yang dulu membuatku takut sekarang menjadi sosok yang amat dekat denganku. Penuh nasihat yang selalu menguatkan aku. Aku juga menjadi malu dengan kedisiplinannya. Dan juga bagaimana suster mengapresiasi pemberian orang lain. Pernah aku mengirimkan lemari kaca yang sudah tak terpakai. Suster mengajak aku melihat bagaimana lemari kaca itu digunakan di klinik tumbuh kembangnya. "Lihat Ri..ini lemari kacamu.. sudah berisi penuh buku-buku sumbangan.. buku sudah tersusun rapi tinggal didata dan dibuat dengan konsep seperti perpustakaan..." begitu katanya sambil menunjukkan lemari yang sudah penuh dengan buku. Buku di kantorku saja tak serapi buku-buku suster, apalagi buku-buku di rumah..menumpuk dimana saja aku mau menumpuk.

Ya.. sepertinya suster hadir dalam kehidupanku untuk menghibur aku.. menguatkan aku.. disaat hatiku tak nyaman..disaat aku merasa ditinggalkan. Aku memang tak pernah bercerita apa yang aku rasakan. Tapi kadang kala ceritanya amat pas dengan suasana hatiku. Tuhan sudah menambahkan satu orang lagi dalam kehidupanku. Menemaniku melalui hari-hariku.

Kutulis semua ini agar aku tak merasa berat..

Menjalani hari-hari dengan kondisi Yo seperti ini sebenarnya sudah menjadi hal biasa untuk aku. Lebih dari dua tahun sudah aku telah melewatinya. Dan yang kutahu sepertinya aku mampu melaluinya walau terasa berat. Tapi inilah kondisi yang ada yang harus aku terima. Tak bisa aku menawarnya.

Disaat tubuhku tak sehat..disaat hatiku tak nyaman.. aku baru merasakan betapa beratnya menjalani hari-hari ini. Sudah dua hari ini perut ku tak mau bersahabat denganku. Sakitnya amat luar biasa. Tapi aku tak ingin memanjakannya dengan tidur atau istirahat sedikitpun. Aku harus bisa melupakan sakit perut ini sehingga aku tidak menjadi cengeng. Meminta dikasihani. Meminta pengertian anak-anak.

Semalam aku tak bisa tidur dengan nyenyak seperti biasa..apalagi ditambah dengan sakit perut yang amat sangat. Yo sepertinya mengerti. Walaupun sulit berkata-kata, dia mencoba menanyakan apa yang aku rasakan dan memberikan minyak angin untuk dioles ke perutku. Perhatiannya membuatku ingin menangis. Malam tadi kulewati dengan meringkuk tak berdaya...

Hari ini kami lewati tanpa ke gereja. Sakitnya amat luar biasa tadi pagi. Membawa mobil sendiri dengan jarak yang tak pendek membuatku tak nyaman untuk pergi, sehingga kuminta pengertian pada anak-anak kalau hari ini tidak ke gereja.

Siang kulewati dengan membersihkan apa yang memang harus dibersihkan dengan harapan aku bisa melupakan sakit perut ini..tapi tetap saja rasanya tak nyaman. Akhirnya setelah selesai aku putuskan untuk tidur beberapa menit. Dan terbangun ketika Putri bungsu ku mengingatkan aku bahwa aku harus mengantarnya untuk les sore ini. Tak tega aku menolaknya. Berangkatlah kami ke tempat les ditemani Putri cantikku.

"Mi..makan bakso yuk.. aku kepengen..," kata putri cantikku.. olala.. bakso pun tak menarik lagi untukku. Tapi aku tak ingin dia kecewa. "Nanti sambil menjemput adek saja ya.., sptnya mami blm tentu makan.." kataku. Dia mengangguk paham.

Saat seperti inilah aku sering merasakan bahwa semua ini menjadi amat berat. Seorang diri mengurus semua keperluan putriku..semua keperluan Yo.. Seandainya saja Yo tak sakit, pasti kami bisa saling mensuport..

Tapi semua ini tetap aku syukuri karena masih banyak orang lain yang mengalami yang lebih parah dari yang aku alami. Disaat suami sakit..ada istri yang tak berpenghasilan, ada yang sakitnya parah sehingga semuanya harus dilayani.. ini Yo sudah mampu mengurus semuanya sendiri. Pantaskah aku bertanya ... kenapa bebanku berat.

Bebanku tak berat..karena Tuhan memberikan anak-anak yang penuh pengertian..yang mau belajar tanpa disuruh..yang mampu memilih mana yang baik dan yang tidak baik.. walaupun kadang membuat kesal karena kamar tak pernah rapi..tapi apa gunanya rapi jika diisi oleh anak-anak yang sakit, yang malas beraktifitas. Bukankah aku harus bersyukur mendengar suara mesin jahit yang berderit-derit..melihat laptop yang menyala 24 jam.. kertas bertebaran di lantai karena mereka sibuk mengerjakan tugas.

Bukankah juga harus bersyukur melihat Yo menonton TV.. walau kadang aku kesal dari pagi sampai malam hanya menonton TV saja.. tapi bukankah itu lebih baik..daripada dia diam saja..tidur saja tak berdaya. Dengan menonton TV banyak memory yang dibuka. Bisa tiba-tiba dia membangungkan aku begitu dia ingat seseorang. Ingat tentang film yang pernah kami tonton.

Bukankah aku juga harus bersyukur diberikan seorang ibu yang begitu penuh pengertian dan begitu besar kasihnya pada aku. Semua bisa aku lewati karena campur tangannya. Aku dikuatkan oleh semua nasihatnya. Bukankah aku dikuatkan dengan dering telponnya yang menanyakan kondisi aku. Kadang aku malu..bukan aku yang menanyakan kondisi ibuku..malah ibu yang selalu memonitor keadaanku. Pantaskah aku mengatakan bahwa bebanku berat?

Kakak dan adikku yang selalu mensuport aku.. dalam merawat Yo, dalam pekerjaan aku di kantor. Semua mensuport aku. Sampai adikku yang berada di Amerika sekalipun.. walau jauh dia sepertinya amat dekat dihati aku. Kadang aku sulit mengikuti kemauannya..tapi aku tahu..dia ingin yang terbaik untuk aku..untuk BPR aku.

Semua orang yang ada disekelilingku. Saudara-saudaraku, Rekan kerjaku yang selalu mengelilingi aku. Sahabat-sahabatku yang dekat maupun yang jauh. Lalu masih pantaskah aku berkata..kenapa bebanku berat..kenapa aku sendiri..kenapa ...kenapa...

Bukankah seharusnya aku tak henti-hentinya bersyukur. Jika aku yang seperti ini mampu bersyukur, bukankah sudah seharusnya yang tak mengalami yang aku alami, yang masih didampingi oleh pasangannya dalam kondisi sehat..harusnya tak henti-hentinya bersyukur.
Ya..memang sudah sepatutnya kita selalu bersyukur..dalam kondisi seperti apapun kita tetap harus bersyukur..karena pasti Tuhan mempunyai rencana yang indah..yang tak pernah kita mengetahuinya.. tapi pasti semua itu baik untuk kita anak-anakNya.

#semua kutulis karena beratnya aku menjalani hari ini.. dengan menuliskan ini semua ..aku semakin tahu tak ada alasan aku berkata hariku ini berat.. dan sakit perut ini belum seberapa dibanding sakit yang Yo derita..ayo semangat..anak-anak memerlukanku..#

Selasa, 09 Agustus 2011

KAMU TAHU...

Ketika kutuliskan ini di catatanku.. sahabatku menuliskan.. "sudah pernah dicoba bu.." hahaha... tak perlu dicoba langsung dapat kupastikan..tak kan muat...

Kamu tahu.....
oleh Riwandari Juniasti Ismaja Purnama pada 11 Desember 2010 jam 22:54

Kamu tahu... seandainya semua rasa cintaku kutuliskan di langit luas ini... tak kan pernah cukup...

Cinta yang sejati... cinta yang kita sangka telah pergi.. ternyata hanya bersembunyi...menunggu untuk kembali lagi...


Cinta yang sejati... cinta yang kita sangka telah pergi.. ternyata hanya bersembunyi...menunggu untuk kembali lagi...
oleh Riwandari Juniasti Ismaja Purnama pada 13 Desember 2010 jam 0:50

Rasa senang.. rasa sedih... akan kita bawa tanpa pernah tercecer sepanjang perjalanan kita...

dan semakin kita dewasa kita akan semakin tahu bahwa diantara kenangan-kenangan tersebut ada satu rasa yang paling besar yaitu RASA CINTA.

Karena ketika satu persatu cerita berhenti menjadi kenangan...cinta terus bergerak....

Cinta yang tak terlihat oleh mata...dan tak teraba oleh tangan..ternyata dia ada.. bahkan sebelum kita mampu mengucapkannya...

Cinta yang sejati... cinta yang kita sangka telah pergi.. ternyata hanya bersembunyi...menunggu untuk kembali lagi...



Dari sebuah film yang diputar di SCTV.. lupa judulnya apaan...

4 langkah agar orang mau mengikuti kita...

Ini juga postingan lama..hanya sayang jika tidak aku simpan...


The New Art of The Leader... buat 4 langkah agar orang lain mau mengikuti kita....
oleh Riwandari Juniasti Ismaja Purnama pada 06 Maret 2011 jam 20:40

Menurut buku yang saya baca..ternyata ada 4 langkah tindakan untuk membuat orang lain mau mengikuti kita.. ingin tahu... ??



Yang pertama,

Ternyata kita harus mampu membuat orang lain merasa penting. Mereka akan tulus mendukung kita jika kita membuat mereka merasa penting.. bukan ketika kita membuat diri kita merasa penting.



Yang kedua...

Kita perlu mempromosikan visi kita dengan jelas. Tidak ada orang mengikuti kita hanya lantaran kita mengambil keputusan untuk memimpin. Kita harus mempunyai ide yang jelas tentang akan dibawa kemana orang-orang yang ada dibawah kita , nah kemudian kita promosikan kepada kelompok itu serta meyakinkan mereka bahwa tujuan kita sangat berharga dan sangat pantas untuk diperjuangkan...



Lalu bagaimana mempromosikan visi kita...???

Pemimpin itu bukan PENGASUH. Pemimpin itu harus memiliki ide seperti kemana tujuan yang ingin dicapai. Tidak ada bedanya apakah kita pemimpin suatu komando AU besar yang terdiri dari ribuan orang.. atau tim bola kasti..atau bahkan hanya sebuah kelompok informal yang berukuran kecil. Jika kita tak punya ide kemana tujuan kita.. maka kita dan tim tak akan pernah sampai kesana...



Yang Ketiga...

Perlakukan orang lain seperti kita ingin diperlakukan. Prinsip ini sangat mendasar.. Jadi lakukanlah sesering mungkin. Apakah kita mau mengikuti orang yang memperlakukan kita dengan buruk???? Bukankah kita pasti akan memilih mengikuti orang yang peduli dengan kita dan perasaan kita serta memperlakukan kita dengan baik...??? Jadi ayo lakukan ini kepada orang-orang yang mengikuti kita...



Yang terakhir...

Bertanggung jawablah atas segala tindakan kita.. Baik kita pribadi maupun tindakan orang-orang yang ktia pimpin. Akui kesalahan kita. Kita memiliki tanggung ajwab atas segala hall yang dilakukan oleh mereka. Jadi jika segala sesuatunya tidak berjalan baik... jangan lupa untuk menerima tanggung jawab ini. Jika kita melimpahkan tanggung jawab ini kepada orang lain.. kita tak akan lagi menjadi seorang pemimpin...



Orang lain akan tertatik ke suatu tujuan dan visi seorang pemimpin karena mereka mengetahui..bahwa melalui orang inilah..mereka dan organisasi..dapat menjadi lebih baik secara permanen...



Visi merupakan hal yang jelas cukup penting..tetapi memiliki tujuan akan kemanakah organisasi ini dibawa.. dan satu lagi.. kita harus bisa memastikan bahwa orang lain tahu visi kita tersebut.. Dengan mengkomunikasikan visi kita, maka kita akan mendapatkan konsensus diantara orang-orang yang kita pimpin.. Kita harus mempunyai konsensus dari atas kebawah menyangkut suatu tujuan.. jika konsensus ini tidak ada... strategi manajemen secerdas apapun akan gagal.

Doa Bapa kami... Kutuliskan malam ini untuk Yo..

Doa Bapa kami ini aku tulis disini, saat Yo terbangun di malam hari dan meminta dibacakan doa Bapa kami. Inilah yang membuat aku tahu ternyata memang benar hampir semua memorynya hilang.. dan dia amat susah mengucapkan permintaannya ini, dia hanya mampu mengucapkan Bapa kami, Bapa kami.. Hari tersedih dalam hidupku...karena aku lupa mengenalkannya kembali pada doa ini.

Doa Bapa kami... Kutuliskan malam ini untuk Yo..
oleh Riwandari Juniasti Ismaja Purnama pada 29 Maret 2011 jam 0:26

DOA BAPA KAMI (Matius 6: 9-13)



Bapa kami yang ada di sorga

Dikuduskanlah namaMu

Datanglah kerajaanMu

Jadilah kehendakMu

Dibumi seperti di sorga

Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya

Dan ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami

Dan janganlah membawa kami kedalam pencobaan

Tetapi lepaskanlah kami dari pada yang jahat



Karena Engkaulah yang empunya Kerajaan dan kuasa dan kemuliaan sampai selama-lamanya. AMIN.

TUJUH FAKTA YANG WAJIB DIKETAHUI SEBELUM MEMIMPIN..

Aku juga menyenangi tulisan-tulisan tentang Kepemimpinan yang ditulis oleh John C. Maxwell, aku sering mengutip nya walau sepotong-sepotong.

TUJUH FAKTA YANG WAJIB DIKETAHUI SEBELUM MEMIMPIN..

1. Seseorang mampu membuat perbedaan antara sukses dan gagal dalam organisasi apapun, hanya dengan menjadi pemimpin.

2. Faktanya : sebagaian besar orang menjadi sukses hanya melalui bantuan orang lain, dan kita bisa memperolehnya melalui kepemimpinan.

3. Kita tak perlu menjadi ketua untuk bisa menjadi pemimpin. Kita tak perlu menunggu di promosikan .. kita bisa menjadi pemimpin dengan segera.

4. Kita harus mampu memimpin dalam berbagai situasi.

5. Inti dari kepemimpinan adalah mampu memotivasi orang lain untuk menampilkan potensi maksimalnya, untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

6. Pemimpin itu dibentuk, bukan terlahir begitu saja. Kita bisa mempelajarinya seperti mempelajari ketrampilan lainnya.

7. Kepemimpinan yang baik itu tidak bergantung pada keadaan baik atau kondisi organisasi yang menyenangkan.

Penyebab jatuh bangunnya kepemimpinan adalah KOMUNIKASI...

Aku menyenangi tulisan John C. Maxwell tentang komunikasi. Aku senang menuliskan kembali dalam catatan di FB ku. Ini salah satunya.

Instrumen Kepemimpinan adalah Komunikasi... Penyebab jatuh bangunnya kepemimpinan adalah KOMUNIKASI...
oleh Riwandari Juniasti Ismaja Purnama pada 30 April 2011 jam 22:19

John W. Gardner berkata.."Jika saya harus menyebut instrumen kepemimpinan serba guna, jawaban saya KOMUNIKASI" Jika kita pernah membaca buku John C. Maxwell jelas bahwa ia percaya bahwa penyebab jatuh bangunnya segala sesuatu adalah kepemimpinan, namun yang belum disebutkan bahwa penyebab jatuh bangunnya kepemimpinan adalah KOMUNIKASI. Saat memimpin TIM, jadikan standar di bawah ini sebagai pedoman ketika berkomunikasi dengan anggota TIM:



1. TETAPLAH KONSISTEN

Anggota TIM selalu frustasi pada pemimpin yang tidak mampu membuat keputusan.Anggota TIM harus yakin bahwa mereka bisa mengandalkan diri dan ucapan kita.

2. BERKOMUNIKASILAH DENGAN JELAS

TIM tidak akan dapat melaksanakan rencana kita jika tidak tahu apa yang kita inginkan.Jangan coba-coba kita menyilaukan siapapun dengan kecerdasan kita. Buatlah orang terkesan dengan kejujuran kita,

3. JAGALAH KESOPANAN

Setiap orang layak diperlakukan dengan santun..apapun posisi orang itu dan bagaimanapun riwayat kita dengan nya. Dengan bersikap sopan terhadap anggota TIM, kita membawa keselarasan bagi organisasi secara keseluruhan.



Jangan lupa, karena kita seorang pemimpin, komunikasi kita harus bisa menciptakan keselarasan interaksi antara para anggota TIM. Tim senantiasa mencerminkan kepemimpinannya. Jangan lupa bahwa komunikasi yang baik bukanlah komunikasi satu arah. Komunikasi tidak boleh bersifat top down dan bergaya diktator. Pemimpin yang baik akan mendengar, mengajak dan mendorong partisipasi anggota tim.



Apakah komunikasi kita dapat menciptakan keselarasan dengan orang-orang yang kita pimpin???



The 17 Insputable laws of teamwork.

KITA ADALAH LENSA KITA

Ini juga lama.. dan bukan tulisan aku.. tapi aku suka tulisan ini.Ini adalah tulisan John C. Maxwell.

KITA adalah LENSA KITA
oleh Riwandari Juniasti Ismaja Purnama pada 30 April 2011 jam 22:45

Siapa diri kita menentukan cara kita memandang segala sesuatu. Kita tidak dapat memisahkan identitas kita dari perspektif kita. Eksistensi dan pengalaman kita mewarnai cara kita memandang segala hal. Itulah lensa kita.. Berikut yang dimaksud:



Seorang musafir medekati sebuah kota besar dan bertanya pada seorang tua yang duduk di pinggir jalan, "seperti apa orang-orang yang tinggal di kota ini?"

"Seperti apa orang-orang yang tinggal di kota yang baru anda kunjungi" kata orang tua itu balik bertanya.

"Mengerikan,"jawab musafir itu.."Jahat, tidak dapat dipercaya, sangat menyebalkan dalam segala hal."

"Oh..," sahut orang tua itu.., "Anda akan menjumpai orang-orang serupa di kota yang anda tuju."



Baru saja musafir tadi pergi, ketika musafir lain berhenti untuk bertanya tentang penduduk kota di depannya/ Lagi-lagi orang tua itu menanyakan penduduk kota yang baru ditinggalkan si musafir.

"Mereka orang yang baik, jujur, rajin, dan suka memaafkan kesalahan orang."

Orang tua tadi menjawab.."Orang seperti itulah yang akan anda jumpai di sini."



Cara orang memandang sesamanya merupakan cermin dari diri mereka. Jika kita seorang yang bisa dipercaya, kita memandang orang lain sebagai dapat dipercaya. Jika kita seorang yang suka mengeritik, kita juga memandang orang lain sebagai tukang kecam. Jika kita seorang yang memiliki kepedulian, kita melihat orang lain sebagai orang yang berbelas kasih. Jika kita mengubah diri dan menjadi orang sebagaimana kita kehendaki, kita akan mulai melihat orang lain dari sudut pandang baru.. Ini akan mengubah cara kita berinteraksi dalam segenap hubungan.



Winning with People...

Fenomena "MBAK"

Ini juga sebuah catatan yang lama.. tapi sayang juga kalo tak aku inventaris dalam blog ku.. karena peran "mbak" memang amat berarti dalam hidupku.

Fenomena "MBAK"
oleh Riwandari Juniasti Ismaja Purnama pada 06 Mei 2011 jam 7:24

"Kalau mbak yang dulu selalu siapkan aku semuanya dan tahu apa yang aku mau," begitu kata anakku saat mbak yang baru belum bisa apa-apa dan belum mengerti apa-apa, bahkan kadang-kadang seperti tidak mau tahu apa-apa. Aku hanya bisa mengingatkan bahwa semuanya itu perlu proses, perlu waktu..tidak bisa tiba-tiba dia tahu sendiri. Kita harus sabar mengajarnya, memberi tahunya, membimbingnya dan mencoba mengerti seperti apa orangnya. Disitulah kita mengambil peran. Kadang tidak dimarahi saja tidak kerasan apalagi dimarah-marahin, kadang sudah diperhatikan saja masih tidak betah apalagi tidak diperhatikan.Kadang sudah dibimbing dengan baik dan menjadi pintar saja belum jaminan dia akan mengikuti kita selamanya.



Mbak sekarang tidak seperti mbak jaman dahulu kala yang bisa setia bekerja sampai bertahun-tahun. Bahkan ada yang ikut dari kecil sampai menikah masih dengan setia menyertai kita. Mbak sekarang adalah mbak yang mau bebas dalam bekerja..tak suka terlalu diatur-atur.. minta diberi ruang untuk berinteraksi dengan orang lain..menggunakan HP, sesekali diijinkan jalan-jalan dengan tetangga sebelah bahkan harus bisa diijinkan untuk pacaran. Mbak sekarang datang kadang tanpa keterampilan apa-apa.. kadang tanpa tata krama.. kita perlu kesabaran yang tinggi untuk mengajarinya. Dan saat ini banyak mbak yang merasa lebih baik bekerja di pabrik atau di restoran-restoran dibanding bekerja di rumah tangga. Karena bekerja di pabrik atau di restoran lebih memberikan kebebasan dalam berinteraksi dan lebih mempunyai ruang gerak. Dan itulah yang menyebabkan para ibu-ibu kesulitan mencari mbak.



Apapun kondisinya ... sejelek apapun kerjanya.. kadang kita tetap merasa kehilangan disaat mbak kita meminta ijin pulang. Amat terasa perbedaannya. Kadang kita kesal dengan sikapnya.. kadang kita kesal dengan hasil kerjanya.. namun disaat dia pergi kita amat merasakannya. Sekecil apapun kontribusinya.. ternyata mempunyai efek dalam kehidupan kita. "Mbak yang dulu sabar..yang ini kok begini sih mii..", "mbak yang dulu semua mau dikerjain mi... yang sekarang kerjanya pilih-pilih", "mbak yang dulu kalo udah selesai kerjanya..mau bantu aku.. kalo yang sekarang kok tidur melulu sih mi...", "mbak yang dulu biar malas kerjanya tapi hatinya baik ya mi...", "mbak yang dulu biar kalo kerja disuruh-suruh tapi bawaannya happy terus ya orangnya...", "mbak yang dulu itu biar lebay..ngomongnya suka di lebih-lebihin ditambah-tambahin tapi semangatnya tinggi ya mi..". Setiap orang mempunyai kelebihan dan kekurangannya masing-masing dan kita baru menyadarinya saat dia pergi. Sulit kita mencari seorang mbak yang sempurna seperti yang kita harapkan.



Mbak ternyata membuat saya banyak belajar padanya.. mbak telah membuat saya menjadi orang yang lebih sabar dan mencoba mengerem kemarahan... mbak telah membuat saya menjadi orang yang mau sabar membimbing walaupun kadang-kadang kekesalan sudah diubun-ubun..Mbak mengajari saya untuk menghargai kontribusi setiap orang.. entah kecil entah besar... Sudah bagus ada mbak yang mau kerja... karena mencarinya luar biasa susah dan luar biasa mahal. Tanpa mbak saya tak bisa bekerja untuk menghidupi keluarga ini.. ada anak-anak yang harus dijaga.. ada suami yang sakit yang harus dibantu mengambil makanan dan harus dijaga kondisi kamar mandi agar selalu kering...



Walau acapkali saya sering lupa di saat tertekan.. tapi paling tidak dengan ketidakhadiran mbak di rumah bebeapa hari kita makin menyadari peran mbak dalam kehidupan kita. Seperti pagi ini.. ketika teko air putih masih kosong.. padahal biasanya mbak yang dulu selalu setia menyediakan air putih yang telah diolah seteko penuh... ahhhh dari hal yang sederhana saja sudah amat terasa....

Belajar dari Ki Hajar Dewantara...

Ini sebuah postingan lama.. kemarin kucatat di catatan Facebook, aku sedang memindahkan tulisan-tulisanku ke dalam blog pribadiku.


Belajar dari Ki Hajar Dewantara...
oleh Riwandari Juniasti Ismaja Purnama pada 02 Mei 2011 jam 22:23

Ingat KI Hajar Dewantara.. ingat Taman Siswa.. Ingat Taman Siswa.. saya pasti teringat pada ayah saya.. Ayah saya adalah guru yang baik.. tak banyak bicara.. tapi banyak hal yang dilakukannya.. Jarang memerintah .. tapi lebih banyak memberikan contoh. Perbincangan dengannya selalu menarik dan saat memperhatikannya angan saya pasti melayang kemana-mana... Ayah saya banyak menginspirasi kehidupan saya.. tapi sayang sulit sekali bertindak seperti ayah saya.



Sebagai seorang guru yang pernah mengajar di Taman Siswa, Ayah sering bicara soal Ki Hajar Dewantara.. soal Tut wuri handayani, dan saya sangat melihat kehidupan ayah saya selalu mengikuti semboyan ini. Dan semboyan ini saya rasakan tidak hanya pas untuk guru..tapi juga pas untuk menjadi semboyan para pemimpin.



Semboyan Tut Wuri Handayani itu aslinya adalah ing ngarso sung tulado, ing madyo mangun karso dan tut wuri handayani.. apakah artnya..? Ing ngarso sung tulodo.. seorang pemimpin itu harus bisa memberikan teladan atau contoh tindakan yang baik. Ing Madyo mangun karso..pemimpin itu berada diantara anggota timnya.. pemimpin harus bisa menciptakan prakarsa dan ide-ide. Tut wuri handayani.. pemimpin itu mengikuti saja dari belakang.. cukup memberikan dorongan dan arahan.



Sudahkah kita belajar dari Ki Hajar Dewantara.. sudahkah kita jadi pemimpin yang memberikan teladan..yang memberikan dorongan dan pemimpin yang menginspirasi..???? Pemimpin yang mampu menciptakan pemimpin-pemimpin yang berkualitas.. dan mempercayainya untuk melanjutkan kepemimpinannya...



Selamat Hari Pendidikan Nasional...

Minggu, 07 Agustus 2011

Mutiara Persahabatan - Dari Blog sebelah

Mutiara Persahabatan..... dari Blog sebelah...
oleh Riwandari Juniasti Ismaja Purnama pada 29 Mei 2011 jam 22:52

“Apa yang kita alami demi teman kadang-kadang melelahkan dan menjengkelkan, tetapi itulah yang membuat persahabatan mempunyai nilai yang indah”

“Persahabatan sering menyuguhkan beberapa cobaan, tetapi persahabatan sejati bisa mengatasi cobaan itu bahkan bertumbuh bersama”

“Persahabatan tidak terjalin secara otomatis tetapi membutuhkan proses yang panjang seperti besi menajamkan besi, demikianlah sahabat menajamkan sahabatnya”

“Persahabatan diwarnai dengan berbagai pengalaman suka dan duka, dihibur-disakiti, diperhatikan-dikecewakan, didengar-diabaikan, dibantu-ditolak, namun semua ini tidak pernah sengaja dilakukan dengan tujuan kebencian”

“Seorang sahabat tidak akan menyembunyikan kesalahan untuk menghindari perselisihan, justru karena kasihnya ia memberanikan diri menegur apa adanya”

“Sahabat tidak pernah membungkus pukulan dengan ciuman, tetapi menyatakan apa yang amat menyakitkan dengan tujuan sahabatnya mau berubah”

“Proses dari teman menjadi sahabat membutuhkan usaha pemeliharaan dari kesetiaan, tetapi bukan pada saat kita membutuhkan bantuan barulah kita memiliki motivasi mencari perhatian, pertolongan dan pernyataaan kasih dari orang lain, tetapi justru ia berinisiatif memberikan dan mewujudkan apa yang dibutuhkan oleh sahabatnya”

“Kerinduannya adalah menjadi bagian dari kehidupan sahabatnya, karena tidak ada persahabatan yang diawali dengan sikap egoistis”

“Semua orang pasti membutuhkan sahabat sejati, namun tidak semua orang berhasil mendapatkannya. Banyak pula orang yang telah menikmati indahnya persahabatan, namun ada juga yang begitu hancur karena dikhianati sahabatnya”

“Tetapi penghancur persahabatan ini telah berhasil dipatahkan oleh sahabat-sahabat yang teruji kesejatian motivasinnya”

“Mempunyai satu sahabat sejati lebih berharga dari seribu teman yang mementingkan diri sendiri”

“Dalam masa kejayaan, teman-teman mengenal kita. Dalam kesengsaraan, kita mengenal teman-teman kita. Ingatlah kapan terakhir kali anda berada dalam kesulitan. Siapa yang berada di samping anda??. Siapa yang mengasihi anda saat anda merasa tidak dicintai??”

“Siapa yang ingin bersama anda pada saat tiada satupun yang dapat anda berikan??. Merekalah sahabat-sahabat anda”

“Hargai dan peliharalah selalu persahabatan anda dengan mereka. Karena seorang sahabat bisa lebih dekat dari pada saudara sendiri”

BERATNYA BEBAN PEMBERI PREDIKAT "KOMPETEN"

Ketika kita dinyatakan Kompeten oleh sebuah lembaga sertifikasi atas hasil ujian yang sudah kita kerjakan, tentunya membuat kita bahagia, karena itu adalah penentu kita masih boleh menduduki kursi direksi selain kita telah mampu melewati test Fit and Proper. Apalagi kita mendapat predikat di atas cukup.



Kata "yang penting lulus" yang sering terucapkan saat kita sedang menjalani pelatihan dan saat kita mengikuti ujian kadang membuat kita mengabaikan arti kata "KOMPETEN" yang tertulis dalam sertifikat yang kita terima. Kita tak terlalu memperdulikan arti kata "KOMPETEN" yang disematkan kepada kita..tapi tahukah kita arti kata kompeten tersebut..dan ternyata begitu berat beban lembaga sertifikasi yang telah menyematkan predikat tersebut pada kita.



Jika telah membaca arti kata "Kompeten" dibawah ini..masihkah kita layak diberi predikat kompeten..??? Sebuah pertanyaan yang sebenarnya hanya bisa dijawab oleh kejujuran hati kita sendiri.... sampai dimana kita mampu menjaga predikat itu? dan sampai dimana tanggung jawab sebuah lembaga sertifikasi dalam memberikan predikat tersebut hanya dengan cara memberikan ujian multiple choice, a, b, c, d, e.. tanpa pernah tahu siapakah kita sebenarnya.. datang dari dunia manakah kita.. apakah pengalaman kita... Pengalaman kita di dunia kerja yang kita geluti bertahun-tahun tak menjamin kita dapat dikatakan "KOMPETEN" jika tidak mampu menetapkan pilihan a, b, c, d atau e secara tepat dan akurat sesuai dengan kunci jawaban yang telah ditetapkan. Seberapa besar sebuah "soal" dalam ujian mampu menakar kemampuan kita..?? Dan tak menjamin pula seseorang yang disematkan predikat "KOMPETEN" dan belum habis masa berlakunya tidak melakukan "FRAUD"...



Dan kemudian jika masa berlaku predikat "KOMPETEN" itu berakhir, bagaimanakah cara yang tepat untuk memberikan penilaian apakah penerima predikat tersebut itu masih layak disebut "KOMPETEN", apakah ada jaminan jika dilakukan penyegaran maka perdikat "KOMPETEN" dapat diperpanjang kembali masanya..lalu apa sebenarnya yang perlu disegarkan jika kita kembali lagi ke arti kata "KOMPETEN" ?



Apakah ini sebuah kesalahan dalam mengartikan istilah.. atau apakah ini kesalahan dalam memberikan predikat...??? ataukah yang salah cara melakukan pengujian terhadap seseorang yang akan disematkan predikat kompeten... ataukah kesalahan dalam menentukan standard... ahh sebuah pertanyaan yang selalu saja mengelitik saya.. adakah yang mengetahui jawabannya...



Banyak pihak berharap dari selembar kertas berpredikat "KOMPETEN" terutama Bank sebagai User. Jangan sampai kertas itu hanya sebagai pelengkap penderita saja untuk memenuhi ketentuan PBI, jangan sampai lembaga sertifikasi profesi ini berlindung di belakang PBI, sehingga mengabaikan arti kata "KOMPETEN" yang dituliskan dalam selembar sertifikat. Jangan mengabaikan kepercayaan banyak pihak yang telah diberikan kepada lembaga Sertifikasi Profesi ini. Apalagi didalam istilah "Kompeten" ini mengandung arti "attitudes" dimana integritas pasti masuk didalamnya.



Gonezi (1992:225) mengatakan bahwa:

Competence is to describe a person as competent in area of work if they have the knowlegde, skills, and attitudes to be able to function at some minimum acceptable level. To more precise, competence is something that canbe attributed to an individual on the basis of inferences drawn from performance in assessment or actual work.

Gonezi mengatakan bahwa kompetensi tersebut merupakan suatu atribut dari seseorang yang tampak melalui perbuatannya atau kinerjanya berdasarkan hasil penilaian atau pekerjaannya.



JGN Consulting Denver, USA menyatakan:

A competency refers to an individual’s demonstrated knowledge, skills or abilities (KSA’S) perform to a specific standard. Competencies are observable, behavioral acts that require a combination of KSAS to execute. They are demonstrated in a job context and as such, are influenced by an organization’s culture and work environment. In other words, competencies consist of a combination of knowledge, skill and abilities that are necessary in order to perform a major task or function in the work setting (JGN Consulting Denver, USA).



CSBC (Competency Standards Body Canberra, 1994) juga menyatakan, “Competency comprises knowledge and skills and the consistent application of that

knowledge and skills to the standard of performance required in employment“.

A.D. Lucia & R. Lepsinger menyatakan ,”Competency models that identity the skills, knowledge, and characteristics needed to perform a job”.



Dari ketiga pernyataan tersebut dapat dirumuskan bahwa kompetensi diartikan sebagai kemampuan seseorang yang dapat terukur, meliputi: pengetahuan, keterampilan, dan sikap dalam menyelesaikan suatu pekerjaan atau tugas sesuai dengan performance (kemampuan kerja) yang ditetapkan.



Definisi kata Kompeten di artikata.com dinyatakan kompeten adalah kata sifat (adjective) yang artinya :

1. Cakap (Mengetahui)

2. Berkuasa (memutuskan, menentukan) sesuatu; berwewenang

Kata Kompetensi diartikan sebagai kata benda (Noun) yang artinya :

Kewenangan (kekuasaan) untuk menentukan (memutuskan sesuatu)



KEPUTUSAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIANOMOR 045/U/2002TENTANG KURIKULUM INTI PENDIDIKAN TINGGI,

Kompetensi adalah seperangkat tindakan cerdas, penuh tanggungjawab yang dimiliki seseorang sebagai syarat untuk dianggap mampu oleh masyarakat dalam melaksanakan tugas-tugas di bidang pekerjaan tertentu.

Elemen-elemen kompetensi terdiri atas :

a. landasan kepribadian;

b. penguasaan ilmu dan keterampilan;

c. kemampuan berkarya;

d. sikap dan perilaku dalam berkarya menurut tingkat keahlian berdasarkan ilmu dan keterampilan yang dikuasai;

e. pemahaman kaidah berkehidupan bermasyarakat sesuai dengan pilihan keahlian dalam berkarya.



Spencer & Spencer (1993:9) menjelaskan bahwa kompetensi merupakan bagian dari kepribadian individu yang relatif dan stabil, dan dapat dilihat serta diukur dari perilaku individu yang bersangkutan, di tempat kerja atau dalam berbagai situasi. Untuk itu kompetensi seseorang mengindikasikan kemampuan berperilaku seseorang dalam berbagai situasi yang cukup konsisten untuk suatu perioda waktu yang cukup panjang, dan bukan hal yang kebetulan semata. Kompetensi memiliki persyaratan yang dapat menduga yang secara empiris terbukti merupakan penyebab suatu keberhasilan.



Association K.U. Leuven menbarkan bahwa Pengertian Kompetensi adalah peingintegrasian dari pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang memungkinkan untuk melaksanakan satu cara efektif.



Kompetensi menurut Robert A. Roe (2001), Competence is defined as the ability to adequately perform a task, duty or role. Competence integrates knowledge, skills, personal values and attitudes. Competence builds on knowledge and skills and is acquired through work experience and learning by doing.



Menurut Puspadi (2003), kompetensi merupakan kemampuan untuk melaksanakan tugas secara efektif. Secara fisik dan mental, kemampuan manusia yang terdiri dari kognitif, psikomotor dan afekti dapat muncul secara bersama pada saat menjalankan suatu tugas (Klausmeier dan Goodwin, 1966).



Undang-undang RI No. 13 tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan :

Kompetesi kerja adalah kemampuan kerja setiap individu yang mencakup aspek pengetahuan, keterampilan dan sikap kerja yang sesuai dengan standar yang ditetapkan.



PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 23 TAHUN 2004. TENTANG BADAN NASIONAL SERTIFIKASI PROFESI.

Sertifikasi kompetensi kerja adalah proses pemberian sertifikat kompetensi yang dilakukan secara sistematis dan obyektif melalui uji kompetensi yang mengacu kepadastandar kompetensi kerja nasional Indonesia dan/atau internasional.



Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia adalah rumusan kemampuan kerjayang mencakup aspek pengetahuan, keterampilan dan/atau keahlian serta sikap kerja yang relevan dengan pelaksanaan tugas dan syarat jabatan yang ditetapkan sesuaidengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.



Sikap menurut Gerungan (1991:149) dikenal dengan istilah attitude. Pengertian attitude dapat diterjemahkan sebagai ‘sikap terhadap objek tertenu’, dapat berupa sikap pandangan atau sikap perasaan, tetapi sikap tersebut disertai dengan kecenderungan untuk bertindak sesuai dengan sikap objeknya.

Anderson dalam El-Fayet (http://el-fayet.blogspot.com) membagi sikap ke dalam dua kelompok, yaitu sikap bahasa dan sikap non bahasa.

(1) Sikap bahasa

Sikap bahasa adalah tata keyakinan yang relatif berjangka panjang, sebagian mengenai bahasa tertentu, sebagian mengenai objek bahasa yang memberikan kecenderungan kepada seseorang untuk bereaksi dengan cara tertentu yang disenanginya.

(2) Sikap non bahasa

Sikap non bahasa adalah sikap yang berkaitan dengan sikap sosial, sikap estetis, dan sikap politik.



Makna INTEGRITAS : Sikap Jujur Tanpa Kompromi

1. INTEGRITAS adalah suatu elemen karakter yang mendasari timbulnya pengakuan atas kejujuran
2. INTEGRITAS menuntut manusia berperilaku jujur, tidak melakukan hal-hal yang bertentangan dengan hukum, peraturan dan etika
3. INTEGRITAS adalah satunya kata dengan perbuatan baik yang bertanggung jawab
4. INTEGRITAS memerankan sikap perilaku dan kejujuran sesuai harapan masyarakat
5. INTEGRITAS dapat memaafkan kekhilafan yang tidak disengaja, dapat menerima perbedaan pendapat yang jujur, namun tidak ada kompromi bagi pelanggaran-pelanggaran prinsip

Koran INTEGRITAS Edisi 01, 2 – 11 September 2009,



Pencarian ini belum selesai... masih mencari dan mencari... dan ini menjadi tugas kita bersama..mau dibawa kemanakah kita nantinya...

Ini pesan dari Embah.. pesan dari sahabat.. terima kasih ya..

Kenanglah kembali ketika Ibu dan ayah dulu setia mencium pipi karena bahagia sang putri telah memasuki usia satu tahun.

Mereka berharap satu hari nanti putrinya akan jadi kebanggaan dan hal serupa berulang untuk cucunya.

Tidak terasa usia kian bertambah dan kini tiba waktunya mengulang untuk kiranya Tuhan memberikan waktu yang panjang agar lebih memahami kasih Nya dalam cinta dan kasih sayang bersama orang orang yg dicintai.

Selamat ulang tahun sahabatku setiap waktu yang telah lalu adalah hikmah bagi kebaikan untuk waktu waktu mendatang dalam kedamaian dan kebahagiaan.

Semoga panjang umur dan senantiasa memberikan yang terbaik disetiap nafas yg telah Tuhan beri. Salam superdahsyat.

Lewat buku ini..banyak yang ingin kau sampaikan padaku...

Saat aku berulang tahun kemarin, seorang sahabat memberikan sebuah buku padaku. Aku tak tahu kenapa dia memberikan buku ini padaku, apakah karena dia melihat emosiku yang mudah meledak-ledak, kemudian tiba-tiba sedih tanpa sebab yang jelas, atau karena melihatku terlalu banyak berharap pada sebuah persahabatan. Aku tahu dia tak akan asal memilih sebuah buku..



Kuminta dia menuliskan kata-kata untukku di halaman buku ini.. "tuliskan sesuatu untukku.." pintaku. Ditulisnya kalimat seperti ini padaku

"Jadilah wanita yang kuat..tangguh dan pantang menyerah..

Hal yang baik.. tindakan yang baik.. tidak akan tertukar hasilnya...

SABAR... SABAR...SABAR..."



Ada satu bagian yang aku suka dari buku ini....



Reaksi yang keluar dari diri kita .. ternyata reaksi yang kita pilih..

Bila seseorang mengatakan atau melakukan sesuatu dan kita menjadi kesal, tersinggung atau marah, upayakan agar kita langsung mengubah reaksi negatif itu.

Hanya dengan menyadari bahwa kita sudah bereaksi secara negatif sudah bisa melepaskan kita dari kekuatan negatif bahkan bisa menghentikannya. Jika kita merasa perasaan negatif itu sudah mencengkeram kita, sebaiknya kita menjauh dan meluangkan waktu beberapa menit untuk memperhatikan hal-hal yang kita sukai entah itu mendengarkan musik favorit, mengerjakan hal-hal yang menyenangkan, dan juga kita bisa memikirkan hal-hal yang menyenangkan dan hal-hal yang baik dari orang yang membuat kita kesal. Hal ini memang terasa sulit tapi inilah cara yang paling cepat untuk merasa lebih nyaman. Ini juga merupakan cara yang paling cepat untuk menguasai perasaan kita...



"Seseorang yang menguasai dirinya dapat mengakhiri kesedihan sebagaimana dia dapat menimmbulkan kesenangan.

Saya tidak ingin menjadi budak emosi saya...

Saya ingin memanfaatkannya...menikmatinya.. dan mendominasinya.. "

(Oscar Wilde)



Terima kasih sahabatku..

Untuk buku yang telah kau berikan..

Kelihatannya hanya sebuah buku..

tapi banyak hal yang ingin engkau sampaikan kepadaku...lewat buku ini..

Buku ini menyadarkan aku bahwa hidup impian kita selalu lebih dekat dengan kita tanpa kita sadari.. untuk memiliki semua hal yang baik dalam hidup ini sudah diberikan Tuhan dalam diri kita..



Dan di Ulang tahunku tahun depan nanti sahabatku..

Ku ingin diberikan hadiah sebuah buku.. tapi bukan buku yang ditulis orang lain..

Tapi buku yang ditulis oleh tanganmu sendiri.. yang penuh dengan tuangan pikiran-pikiranmu..

Yang untuk kebaikan banyak orang...



Janjikan itu padaku...

Sabtu, 06 Agustus 2011

Seandainya saja tidak pecah..

Jika melewati jalan ini aku selalu memperhatikan apotik yang ada di jalan ini. Dulu di jalan ini hanya ada satu apotik. Namun beberapa tahun yang lalu apotik dijalan ini bertambah satu. Bertambah satu bukan dari orang luar yang masuk menjadi pesaing. Tapi karena apotik tersebut ternyata pecah kepemilikannya karena ada ketidaksesuaian. Apotik yang baru menamakan dirinya sama dengan apotik yang lama hanya ditambahkan kata sejati dan apotik yang lama sekarang menambahkan tahun berdirinya dalam namanya. Pecah kongsi itu sepertinya hal biasa dalam bisnis.

Kebetulan yang biasa melayani jika aku membeli obat pindah ke apotik yang baru. Akupun ikut pindah jika membeli obat. Dia banyak menceritakan kenapa terjadi perpecahan. Ya..ketidaksesuaian, ketidaksepahaman, ketidakcocokan, dan yang sejenis dengan itu. Sebenarnya amat disayangkan. Apotik saat belum pecah saja, belum besar bahkan tidak buka 24 jam..apalagi jika pecah kongsi seperti ini. Apotik yang baru pun sepertinya juga seadanya saja.. obatnya juga tak lengkap, tak buka 24 jam. Lalu dimana letak kelebihannya.

Aku membayangkan seandainya mereka tidak pecah. Tentu modalnya akan bisa disatukan sehingga apotik akan lebih lengkap, tenaga kerja bisa dijadikan satu atap otomatis bisa buka 24 jam, dan seandainya ingin membuka cabang tentunya tidak dijalan yang sama tapi bisa memilih tempat lain yang lebih potensial. Buat apa membuka apotik di jalan yang sama yang hanya berjarak beberapa rumah saja. Bukankah jumlah kepala keluarga di daerah ini juga tak berubah..yang biasanya dilayani oleh satu apotik sekarang lahannya harus dibagi untuk kedua apotik itu.

Kadang aku heran..kenapa kita ini mudah sekali pecah kongsi. Kadang hanya urusan sepele. Kadang hanya kurangnya komunikasi. Kadang hanya karena kurang terbuka mengutarakan apa yang ada diisi kepala kita. Kadang hanya kekerasan kepala, kurang rendah hati dan kurang mau mengerti satu sama lain. Padahal jika dua isi kepala disatukan atau beberapa isi kepala disatukan..pasti akan menghasilkan hal-hal yang luar biasa.

Namun sekarang kondisinya sudah terpecah.. sekarang yang perlu dibuktikan adalah kemampuan untuk memberikan yang terbaik, kemampuan untuk bertahan dengan modal yang seadanya, kemampuan untuk tidak saling menjatuhkan....dan kemampuan untuk menunjukkan bahwa masing-masing pihak bisa bersaing secara sehat. Toh akhirnya kebesaran hati dan kerendahan hati juga diperlukan dalam persaingan yang sehat. Bukankah mereka pasti tergabung dalam sebuah asosiasi, bukankah suplier mereka sama, bukankah pelanggan mereka juga sama... Dengan mampu menunjukkan bahwa mereka dapat bersaing dengan sehat tanpa menjatuhkan pihak lain..maka perpecahan itu tidaklah menjadi sebuah kesia-siaan..tapi menjadi penyemangat.

Namun jika diisi dengan saling menjatuhkan maka perpecahan ini menjadi sebuah kesia-siaan yang akan disesali oleh keduabelah pihak.

Jika mereka tak mau mempunyai kerendahan hati dan kebesaran hati untuk tidak saling menjatuhkan..maka mereka akan mendapat penilaian yang buruk dari anggota asosiasi, suplier dan pelanggang, karena setiap berhubungan dengan mereka isi pembicaraannya adalah saling menjelek-jelekan dan saling menjatuhkan diantara mereka.

Lalu kalau akhirnya sama-sama harus saling rendah hati, berbesar hati juga ..kenapa juga harus pecah kongsi.

Golden Words :
Jika dua orang bekerjasama dalam bisnis dan senantiasa sepakat dalam segala hal, salah seorang diantara mereka pasti sudah tak lagi ada gunanya. (Harold Green)

Rencana atau kesepakatan bisnis hanya bisa berhasil dan bertahan lama jika menguntungkan kedua belah pihak (J. Roger Freidman)

aaaaa....ibu bikin kejutan...

Hari ini ada acara buka puasa bersama.. tapi karena hari ini adalah Hari khusus untuk Yo, yang artinya kami sekeluarga mengikuti apa yang diinginkan kehendaknya..dan kebetulan kehendaknya adalah pergi ke Bogor.. maka kami semua sekeluarga pergilah ke Bogor. Sebenarnya di Bogor juga perginya ke tempat itu lagi itu lagi.. tidak ada tempat baru yang kami kunjungi. Tapi itu sudah membuat Yo bahagia.

Nah itulah yang menyebabkan aku sekeluarga terlambat hadir. Apalagi hari ini ternyata Yo mendapat jadwal kunjungan dari gereja. Kami berdoa dahulu sekeluarga untuk kesembuhan Yo, dan persiapan anak-anak menjelang ujian nasional.

Bunyi ping dari Yossi mengirimkan foto bukber membuatku bertanya-tanya.. hahaha..hebat benar ini anak bisa tahu hari ini keluargaku ada acara bukber..lengkap dengan fotonya pula.. dapat dari mana ini anak... Ternyata oh ternyata.. anak itu ada di TKP.

Aaaaaa...ibu ku ternyata membuat kejutan dengan mengundang anak-anakku tanpa sepengetahuanku.. Hidayati..Jefri.. Linda.. dan Lya.. Terima kasih yaaa.. kalian sudah hadir ke rumah ibu ku.. pasti ibu ku senang sekali.. seperti aku juga...